WBL dan Maharani Zoo Lamongan, Theme Park Super Seru di Area Pantai

Kalau bukan karena sebuah mata kuliah yang saya ambil di S1, mungkin saya ga bakalan tau tempat wisata yang keren ini. Di semester itu, mata kuliah Tourism tersebut mewajibkan kami untuk ikut wisata ke Lamongan. Siang hari kami berangkat dengan bus menuju ke Wisata Bahari Lamongan di Jawa Timur. Tempat wisata yang sering disingkat WBL ini terletak di lokasi yang dulunya dikenal dengan nama Pantai Tanjung Kodok di jalur pantai utara Surabaya-Tuban. Dari kota Surabaya jaraknya sekitar 50 kilometer. Rombongan kami berangkat dari Semarang sekitar siang hari dan sampai di parkiran WBL dini hari. Parkirannya luas dan ada resto seafood besar dideket parkiran dimana kami sarapan pagi dulu sebelum masuk ke WBL. 

Memasuki area WBL, kami disambut kepiting raksasa! Patung kepiting ini jadi hiasan keren pintu masuk WBL. Rombongan kami membeli tiket terusan masuk WBL + Maharani Zoo & Goa. Karena saat itu weekend, harganya agak lebih mahal ketimbang hari biasa. Tiket yang kami beli seharga 80 ribu rupiah. Jam buka mulai 08.30 sampai jam 16.30 WIB setiap harinya. Mulailah saya menjelajahi
theme park yang luas keseluruhannya mencapai 11 hektar ini. Tentu saja ga semua permainan saya coba saking banyaknya. Saya penasaran dengan wahana baru bernama Speed Flip dan dengan pedenya langsung antri tanpa tau bahwa itu bisa jadi adalah salah satu wahana paling gila yang pernah saya coba! Badan diputar-putar super cepat 360 derajat, aah gila pokoknya, hahaha... Untuk penyuka maenan gila bisa cobain Speed Flip ini. Turun dari Speed Flip, badan rasanya ga karuan dan langsung ke toilet, hahahaha.

Wahana kedua yang saya coba adalah Drop Zone. Di wahana yang ini, badan kita dinaikkan tinggi banget tapi pelan-pelan, lalu setibanya diatas langsung diturunkan dengan cepat banget. Cukup bikin jantung mau copot hehe. Lalu saya main di Taman Berburu, ini sih lucu aja kita naik mobil mini, muter-muter nembakin patung-patung hewan disitu. Tiba-tiba pengen yang bikin deg-degan lagi, jadilah saya mencoba Space Shuttle, wahana kora-kora dimana kita bisa melihat panorama laut dan area wisata ini dari ketinggian 30 meter. Seru dan cukup menegangkan. 

Okelah, puas mencoba beberapa wahana, saya kemudian pengen yang santai-santai aja. Masuklah saya ke Sarang Bajak Laut. Isinya ya patung-patung dan benda-benda yang berhubungan dengan aktivitas bajak laut. Keluar dari sarang ini, saya menuju ke Rumah Sakit Hantu. Udah gegayaan sok ikut ngantri, eh ternyata saya ga berani masuk,, hahaha soalnya baru masuk semenit udah ketakutan sendiri liat patung-patung horor, pake teriak-teriak aaa aaaa aaaarrrh segala, hahaha. Akhirnya saya keluar tapi bukan dari exit, melainkan dari pintu masuk.. hahaha duh sampai sekarang kalau ingat kejadian itu saya "malu" dan geli ingat kekonyolan diri sendiri :D.

Selanjutnya saya berpose ala cowboy di area Texas City, nonton film Dracula 3D di Bioskop 3 Dimensi selama 10 menit, dan lanjut menikmati pemandangan laut. Uniknya, di WBL kita juga bisa naik unta dan foto ala-ala padang pasir. Wahana-wahana lain yang belum saya coba cukup banyak seperti Ranger, Paus Dangdut, Tagada, Crazy Car, Tembak Ikan, dan Rotary Coaster. Sedangkan semua permainan air dan adventure juga belum saya coba, seperti Kano, Sepeda Air, Banana Boat, Donat Boat, ATV, Motor Cross, Gokart, dan Flying Fox. Untuk sekedar jalan-jalan santai juga bisa masuk ke Istana Boneka, Rumah Kucing, Anjungan Walisongo, Galeri Kapal dan Kerang. Fasilitas di WBL cukup lengkap, ada restoran, kolam renang, pasar wisata, pasar buah, dan lain-lain.

Belum sempatnya saya mencoba wahana-wahana yang lain selain karena antrian yang cukup panjang, juga karena waktu yang terbatas. Disini cuma 1 hari dan masih ada 1 lokasi wisata yang belum saya kunjungi yaitu Maharani Zoo & Goa. Menuju ke bonbin ini jalan kaki saja karena berseberangan, dekat dengan pintu keluar WBL. Namanya bonbin, tentulah banyak sekali jenis hewan yang bisa dilihat. Koleksinya cukup banyak dan tempatnya sangat luas. Jangan lewatkan juga ke Goa Maharani untuk melihat stalaktit dan stalakmit serta koleksi batu-batuan yang cantik. Yang saya juga suka di area bonbin dan goa ini adalah deretan toko suvenir yang tampil ala tribal. Kebetulan saya sudah beli suvenir di WBL jadi disini saya ga beli suvenir lagi, tapi cukup mengagumi area toko-toko ini saja. Maharani Zoo & Goa buka setiap hari jam 8.30 sampai jam 16.30 WIB.

Eniwei, saya ga nolak kalau ada yang ajak ke WBL lagi, karena masih banyak wahana yang belum saya coba. Kalau kesana lagi saya pasti akan buat postingan terbaru tentang Wisata Bahari Lamongan.

Rumah Kucing

Beberapa koleksi batu di Goa Maharani

Deretan toko suvenir dengan tampilan tribal di Maharani Zoo & Goa

Candi Gedongsongo, Eksotisme di Lereng Gunung Ungaran

Terus terang, walaupun saya tinggal di Kabupaten Semarang tapi saya belum pernah sekalipun menjejakkan kaki saya di tempat wisata Candi Gedongsongo yang juga berada di Kabupaten Semarang. Mengutip kata Rhoma Irama: "Sungguh terlalu!" Iyaa saya sungguh terlalu, jadi biar ga lebih terlalu, yuk mari hari ini jalan-jalan ke Candi Gedongsongo. Kebetulan seorang teman ada yang pingin piknik bareng juga ke candi ini dan nawarin saya untuk nebeng. Ah tawaran yang terlalu indah untuk dilewatkan. Jadi mari kita nebeng! :D :D

Sebenarnya kalau mau naik angkot juga bisa. Caranya dengan naik bus jurusan Bandungan atau angkot umum yang ukuran kecil warna ijo dari area Mbabadan ke Bandungan. Nanti ada pertigaan yang menuju ke candi dan dari situ bisa naik ojek aja. Disarankan untuk mengendarai kendaraan dengan ekstra hati-hati karena jalan menuju ke candi ini cukup ekstrim dan berkelok-kelok. Paling bagus kalau kemari pagi hari jadi masih seger dan siap mendaki ke beberapa titik lokasi candi. Tiket masuk hari biasa 6000 dan weekend 7500 rupiah.

Memasuki area candi, jangan heran kalau ada banyak tenda di pelataran candi karena ternyata banyak yang demen camping disini. Okeeh saatnya kita mulai mendaki! Sesuai namanya, Candi Gedongsongo mempunyai 9 titik lokasi candi, namun tidak semua candi itu dalam keadaan utuh. Hanya ada 5 candi yang masih dalam keadaan baik, sedangkan yang lainnya dalam keadaan udah rusak dan tinggal puing-puingnya saja. Menaiki areal pegunungan untuk bisa ke lokasi-lokasi candi ini musti hati-hati ya, karena jalanan licin, terjal dan masih asli, banyak yang masih berupa tanah. Apalagi kalau abis ujan pasti becek banget. Tapi mendaki disini pasti bakalan hepi deh, udaranya sejuk segar banget maklum area ini letaknya di lereng Gunung Ungaran, dan pemandangan sekitar alamaaak bikin bahagiaa. 

Nah, kalau ga mau mendaki kita bisa naik kuda kok, tapi karena saya berjiwa irit petualang, maka tak seru rasanya kalau tidak mendaki satu demi satu lokasi-lokasi candi itu, hehe. Spot candi favorit saya adalah spot Gedong III karena disini terdapat 3 candi cantik yang masih utuh. Candi Gedongsongo adalah candi Hindu yang pada dahulu kala digunakan sebagai tempat pemujaan. Tapi sampai sekarang pun ternyata masih sering diadakan ritual keagamaan. Kami pun lanjut ke spot berikutnya dan sebelum ke Gedong IV dan V terdapat pemandian air panas belerang. Setelah selesai narsis di area V, kami yang kelaparan dan kelelahan ini pun segera turun untuk beli makanan. 

Anyway, disekitaran area kompleks, banyak pedagang makanan dan suvenir. Yang khas dari tempat wisata ini adalah sate kelinci. Saya yang belum pernah makan sate ini nekat pesen 1 porsi seharga 15 ribu rupiah. Ternyata... daging kelinci itu.. alot. Udah gitu saya merasa menyesal karena udah memakan daging kelinci, hewan yang unyu-unyu itu.. duh maapin aku ya, Ci..

Hari pun semakin sore. Saatnya kita balik ke parkiran dan pulang ke Ungaran. Sebagai kenang-kenangan, saya membeli dua buah gantungan kunci Candi Gedongsongo yang terbuat dari kayu di sebuah lapak suvenir. Akhir kata, puass rasanya mendaki demi bisa menikmati pemandangan alam dari atas dan juga mengagumi candi-candi Hindu di Kompleks Candi Gedongsongo ini. 

Background nya bikin meleleh..

Asap belerang dari lokasi pemandian Candi Gedongsongo

Museum Brawijaya, Kilas Balik ke Jaman Penjajahan

Pertama kalinya saya mbolang jauh sendirian yaitu ke Kota Malang. Selama 6 hari saya nginep di rumah seorang teman lama saya yang bernama Lita. Trip jauh ini bener-bener modal nekat karena penasaran pengen ngerasain yang namanya pergi jauh sendiri. Oke lah, mungkin belum sejauh orang-orang lain yang pergi keluar negeri, tapi at least ini adalah suatu wujud nyata bahwa saya juga berani nekat pergi ngetrip yang jauh dari daerah tempat tinggal saya.

Sebenarnya saya ke Malang ini juga tanpa itinerary. Jadi sebenarnya sayang juga sih saya ga ke banyak destinasi wisata meskipun saya tinggal disini nyaris selama seminggu. Tapi tak apalah, untuk pemula saya udah cukup senang bisa kulineran dan jalan-jalan seadanya di kota Malang, hehe. Nah, postingan ini saya khususkan untuk catatan ngetrip ke Museum Brawijaya. Tempat-tempat lain yang saya kunjungi adalah tempat makan, mall dan pasar, jadi tempat-tempat itu ga saya bahas supaya fokusnya tetap tempat wisata.

Saya mengunjungi Museum Brawijaya pada tanggal 7 Februari 2013 dengan naik angkot dari kosnya Lita. Terus terang saya udah lupa rute angkotnya karena ga saya catat (my bad!). Anyway, Museum Brawijaya ini terletak di Jalan Ijen dan buka setiap hari mulai jam 8 pagi. Apa sih koleksi dari Museum Brawijaya ini? Jawabannya: koleksi senjata dan alat perang. Disini kita ga cuma bisa liat koleksi senjata dan meriam yang digunakan pada masa perang tapi juga terdapat aneka tank, lukisan kuno, photo-photo, meja kursi kuno, bahkan mobil kuno. Di ruang lobi terdapat relief wilayah kekuasaan Majapahit dan pasukan Brawijaya serta aneka lambang Kodam dan Kotama TNI AD di Indonesia. Selain itu saya juga melihat beberapa peta perang, pakaian, radio kuno, aneka patung, dan mata uang yang pernah digunakan di Indonesia di masa revolusi. Museum Brawijaya cocok sebagai tempat wisata edukasi untuk belajar sejarah Indonesia di masa lampau, khususnya dalam upaya merebut kemerdekaan. 

Di depan Museum Brawijaya

Salah satu tank perang

Salah satu alat perang

Beberapa senjata

Comments

Featured Travel Note

A Trip to Hong Kong Disneyland, A Dream That Comes True

Catatan Mancanegara