Brown Canyon, Grand Canyon ala Semarang


Area Brown Canyon Semarang sebenarnya bukanlah destinasi wisata. Lokasi ini sejatinya hanyalah perbukitan biasa dimana terdapat aktivitas penambangan material. Lama kelamaan, area perbukitan ini malah menjadi unik bentuknya karena aktivitas penambangan tersebut. Boleh dikatakan, Brown Canyon ini adalah Grand Canyon nya kota Semarang. Lokasinya terletak di Desa Rowosari, Tembalang yang berbatasan dengan Pucang Gading, Mranggen, Demak. 


Saya ke Brown Canyon dengan membonceng motor teman. Masuk ke kawasan ini butuh perjuangan karena tipikal jalannya yang cukup ekstrim dan bergelombang. Kalau bisa, jangan pakai motor matic atau mobil bagus, sayang banget kalau ada apa-apa sama kendaraannya entar. Apalagi aktivitas penambangannya bikin udara kotor, penuh polusi. Banyak truk berseliweran mengangkut hasil-hasil penambangan material berupa pasir dan batu. Saran saya, jangan lupa bawa masker untuk melindungi muka dari debu.

Akhirnya "perjuangan" kami pun terbayarkan dengan keindahan panorama Brown Canyon yang unik dengan tebing-tebing tingginya. For your information, waktu bagus untuk foto-foto disini adalah pada pagi atau sore hari. Siang juga oke sih, tapi terlalu panas apalagi ditambah ekstrimnya debu-debu penambangan. Selain itu, disini juga ga ada pohon-pohon untuk berteduh. Tiket masuk sih harusnya ga ada ya karena toh lokasi ini bukan untuk wisata. Tapi pengunjung harus bayar retribusi sebesar 2000 rupiah sebelum memasuki kawasan ini.

Salah satu, eh salah dua tebing tinggi di Brown Canyon

Oh jodohku, kamu dimana? *edisi jones*

Pantai Parangtritis, Pantai Paling Mistis di Yogyakarta


Untuk one day trip ini, saya dan keluarga teman saya mengunjungi 2 tempat wisata di Yogyakarta. Yang pertama, Taman Pintar yang terletak di pusat kota Yogyakarta, dan yang kedua adalah Pantai Parangtritis. Pantai ini terletak di Kabupaten Bantul, sekitar 25 kilometer sebelah selatan kota Yogyakarta.


Pantai Parangtritis adalah pantai paling populer di Yogyakarta. Tiket masuk murah meriah hanya 5000 rupiah aja. Kalau bawa motor parkirnya juga murah cuma 2000 (+1000 untuk tarif masuk motor), sedangkan mobil 5000 (+5000 untuk tarif masuk mobil). Di pantai ini kita juga bisa maen ATV dengan harga sewa yang menurut saya cukup mahal yaitu 50 ribu per 15 menit! Beberapa andong/kereta kuda terlihat berseliweran di pantai ini. Untuk 1 putaran naik andong harganya 20 ribu rupiah.


Banyak yang mengaitkan pantai ini dengan hal-hal mistis. Apalagi pantai ini diyakini memiliki hubungan dengan Gunung Merapi dan Keraton Yogyakarta. Karakteristik pasir di Pantai Parangtritis berbeda dengan pantai-pantai di Gunung Kidul. Pasir disini warnanya abu gelap, dengan ombak yang besar plus angin yang kencang. Makanya ada larangan berenang di pantai ini karena membahayakan. Saya sendiri cukup menikmatinya dari jauh aja. Kalau pengen berenang yang aman ya bisa ke pemandian umum yang sudah disediakan disini.

Jejak roda ATV
Menurut saya, pantai ini memiliki view yang luas ditambah adanya gunung-gunung pasir disekitar pantai. Untuk jumlah pengunjung jangan ditanya, selalu ramai apalagi waktu weekend. Sayangnya, pantainya kotor, disana sini banyak sampah berserakan gitu aja. Duuuh, paling sebel kalau liat banyak sampah di tempat-tempat wisata alam. Harusnya bisa menikmati pemandangan, eh malah jadi terganggu sama keberadaan sampah-sampah itu. Para pengunjung itu harusnya lebih sadar diri dan ga buang sampah sembarangan. Untuk yang doyan beli oleh-oleh, disini ada banyak toko suvenir jadi bisa puas-puasin beli kaos, gantungan kunci, topi, dan lain-lain.

Taman Pintar, Tempat Rekreasi Sains di Pusat Kota Yogyakarta

Berwisata rame-rame memang menyenangkan. Saya diajak salah seorang teman saya ikut wisata bareng keluarganya. Keluarga temen saya ini ternyata sudah booking sebuah bus yang akan dipake wisata ke 2 destinasi di Yogyakarta, yaitu Taman Pintar dan Pantai Parangtritis. Kami berangkat pagi-pagi sekitar jam 7 dari Bawen, Semarang. Karena hari Minggu maka cukup dimaklumi sih kalau lalu lintasnya padat merayap. Apalagi yang jalan raya Ambarawa, Secang dan Temanggung itu loh, jalan raya kok ukuran mini gitu, sempiiit hahaha. Sampai di kota Yogyakarta udah siang aja dan langsung parkir di area Taman Pintar Yogyakarta yang jadi tujuan pertama kami. Kenapa ke Taman Pintar? kebetulan keluarga temen saya terdiri dari banyak anak, jadinya dipilihlah tempat wisata yang asyik dikunjungi anak-anak.

Taman Pintar adalah tempat rekreasi yang memacu kreativitas anak-anak. Berlokasi di Jalan Panembahan Senopati yang masih merupakan pusat kota Yogyakarta. Buka hari Selasa sampai Minggu jam 8.30 pagi sampai jam 4 sore. Yang saya kagumi disini adalah karena tempat wisata ini merupakan sarana pembelajaran sains bagi anak-anak. Jadi anak-anak yang kemari bisa terpacu untuk mencintai sains. Mungkin sains selama ini bisa jadi dipandang membosankan oleh banyak siswa. Tetapi kalau berkunjung ke Taman Pintar, pasti bakalan senang karena sains disajikan dalam bentuk tempat rekreasi. 

Harga tiket masuk Gedung Kotak dan Oval untuk anak-anak sebesar 10 ribu dan dewasa 18 ribu rupiah, dan masuk Zona Astronomi dan Bahari 4 ribu untuk anak-anak dan 15 ribu untuk dewasa. Selain itu, ada juga Zona PAUD dengan tiket masuk 3 ribu rupiah. Zona lainnya adalah Gedung Planetarium dan Kampung Kerajinan. Jangankan anak-anak, orang dewasa saja juga senang berwisata kemari, contohnya saya, hehe.

Replika dinosaurus

Rumus yang diciptakan Einstein

Candi Ngempon, Candi Imut di Kabupaten Semarang


Selama ini saya hanya tahu satu candi yang ada di wilayah Kabupaten Semarang yaitu Candi Gedongsongo. Ternyata saya salah. Ada candi lain yang kebetulan memang kurang populer kalau dibandingin dengan Candi Gedongsongo. Candi mungil ini letaknya ada di Desa Ngempon, maka oleh penduduk setempat diberi nama Candi Ngempon. Candi yang memiliki nama lain Candi Muncul ini letaknya tidak jauh dari Pasar Karangjati, hanya sekitar 2 kilometer. Berhubung saya ga bisa naik motor, jadi untuk ke candi ini saya naik ojek dari Pasar Merak Mati. Bisa juga naik ojek dari Pasar Karangjati tapi akan lebih dekat jaraknya kalau ngojek dari Pasar Merak Mati di Bawen. 

Nyari wangsit, sapa tau jadi jadi jenius mendadak
Tidak ada tiket masuk, alias free. Yayy.. Tapi kalau mau ke candinya butuh sedikit perjuangan karena kita musti jalan naik dan melewati pematang sawah dan sungai. Nanti akan ada gapura dan pagar dengan candi mungil didalamnya. Ya ga mungil mungil banget sih, tapi kalau dibandingin sama aneka candi yang pernah saya kunjungi sebelumnya, Candi Ngempon ini imut-imut, kakaaak.. Nah sebenarnya di candi Hindu ini terdapat 9 titik pondasi candi, tapi hanya 4 saja yang udah direkonstruksi. Candi imut ini ditemukan pertama kali taun 1952, waktu itu juga ditemukan beberapa arca kuno yang saat ini disimpan di Museum Ranggawarsita Semarang

Penampakan candi dari samping, sepi pas ga ada pengunjung lain hahaha

Taman di pelataran candi
Sebenarnya kapan sih candi ini dibangun? Kalau menurut papan info yang ada di sebelah candi ini, tidak jelas kapan pendirian candi ini disebabkan tidak adanya data tertulis tentang dibangunnya candi ini. Tapi kalau dilihat dari arsitekturnya, diperkirakan candi ini berasal dari jaman yang sama dengan Candi Gedongsongo, yaitu pada abad ke-7 atau 8 Masehi. Tak hanya candi saja, tapi juga sudah ada taman cantik di pelatarannya. Tak jauh dari candi, ada Petirtaan Kuno yang dijadikan pemandian air hangat. Kalau mau berendam disini, tiket masuknya murah meriah, cukup 2000 rupiah aja.

Bukan si manis jembatan Ancol, manusia tulen saya mah :D

Goa Pindul, Wisata Cave Tubing Seru


Setelah sebelumnya kami berwisata ke Pantai Pok Tunggal dan Pantai Ngobaran, sekarang kami menuju ke Goa Pindul. Walaupun hujan semakin keras semenjak kami meninggalkan Pantai Ngobaran, tapi itu ga menyurutkan niat kami untuk menuju ke Goa Pindul. Akhirnya setelah beberapa kilometer perjalanan dengan mobil, sampailah kami di goa yang terbentuk dari batu kapur ini. Sebenarnya kami datang berdelapan, tapi karena dua temen kecapekan, mereka memilih santai dan tepar di mobil. Belakangan mereka menyesal ga ikutan wisata susur gua di Goa Pindul, hahahaha *ketawa puas*.  


Thanks God, begitu kami sampai disini hujan berhenti dan cuaca bisa dibilang cukup bersahabat. Karena kami sampai pukul 4 sore, jadi ga banyak waktu yang kami punya untuk menjelajah. Di posko pembelian tiket masuk, kami ditawari paket cave tubing di goa dan rafting di Sungai Oya, tapi cuma aktivitas cave tubing aja yang akhirnya kami pilih. Paket cave tubing Goa Pindul harganya 35 ribu per orang, sudah termasuk ban besar, life jacket dan pemandu. Kami menaiki truk yang sudah disediakan untuk menuju ke lokasi Goa Pindul. Itupun masih jalan lagi melewati pematang sawah. Betapa beruntungnya kami karena waktu itu ga rame pengunjung. Cuma ada 1 grup yang baru aja selesai cave tubing, yeaah puas deh foto-foto seru dengan background sungai dan gua. 


Waktu badan "terhempas" di ban besar warna hitam itu, perasaan dag dig dug mulai muncul. Ketakutan itu pastilah ada.. karena ini adalah pertama kalinya saya melakukan wisata menyusuri gua yang gelap di sungai dengan kedalaman 12 meter! Walaupun udah pakai life jacket tetep aja perasaan deg-degan itu masih ada. Tapi..gua ini harus dilewati! Masak iya udah jauh-jauh kemari terus didepan gua ngibarin bendera putih tanda menyerah? hahaha tentu tidak.

Perjalanan memasuki gua sejauh 350 meter ini akhirnya dimulai. Pelan-pelan kami dipandu masuk ke dalam gua yang gelap, penuh dengan bebatuan stalaktit dan stalakmit. Meskipun gelap, tapi pemandu sudah membawa alat penerangan jadi lumayan lah masih ada seberkas cahaya. Pemandu kami menerangkan tentang sejarah dari bebatuan yang membentuk gua ini, bahkan katanya gua ini sudah beberapa kali dijadikan tempat penelitian orang-orang luar untuk mempelajari karakteristik bebatuan. Sampai ditengah-tengah, perasaan deg-degan saya udah hilang, berganti dengan rasa senang dan kagum dengan keindahan bebatuan didalam gua ini. Mendekati garis finish dari aktivitas cave tubing ini, kami diminta melihat keatas gua dan ternyata..oh ada lubang besar yang biasanya jadi jalan masuk cahaya matahari. Sayang kami kesorean kesini jadi ga bisa dapat gambar yang bagus dengan view cahaya dari lubang besar ini.

Terus terang, dari ketiga tempat wisata yang kami kunjungi hari ini, saya paling suka dengan Goa Pindul. Wisatanya unik, cave tubing atau menyusuri goa bentukan batu-batu kapur dimasa prasejarah. Untuk kembali ke posko, kami menyusuri jalan setapak di pematang sawah dan naik lagi ke bagian belakang truk itu. Ah, serunya wisata hari ini ga bisa dilukiskan dengan kata-kata, yang pasti hepi puas jiwa dan raga. 

Bersiap memasuki Goa Pindul. Disinilah saya mulai deg-degan

Lubang besar diatas gua

Cewe-cewe narsis

Diangkut dulu kaaaak

Pantai Ngobaran, Pantai di Gunung Kidul dengan Kompleks Pura



Hari ini saya dan beberapa teman melakukan trip ke 3 destinasi wisata di Gunung Kidul, Yogyakarta yaitu Pantai Pok Tunggal, Pantai Ngobaran, dan Goa Pindul. Di postingan ini saya akan share tentang Pantai Ngobaran. Kalau anda pernah kemari pasti tahu kalau pantai ini memiliki keunikan yang tidak dimiliki pantai-pantai di Gunung Kidul. Apakah itu? Entar boss, jangan dibuka dulu apa keunikannya..


Pantai Ngobaran ini letaknya ada di Desa Kanigoro. Tiket masuk hanya 3000 rupiah per orang, sudah termasuk berkunjung ke Pantai Ngrenehan. Karakter Pantai Ngobaran sendiri banyak karang dan sangat terjal. Ga ada pasir yang luas disini, tapi pemandangannya tetap menakjubkan dengan banyak karang yang besar-besar di pinggiran pantai. Nah keunikannya adalah... di pantai ini kita ga cuma bisa wisata alam tapi juga wisata religi disaat yang bersamaan! Dikarenakan adanya kompleks pura yang merupakan tempat ibadah orang-orang Hindu dan Kejawen. Di kompleks pura yang dinamakan Pura Segara ini banyak terdapat arca dewa-dewi dan beberapa foto saya disini malah disangka foto-foto di Bali, hehehe.

Pantai Pok Tunggal Gunung Kidul, Pantai Cantik Untuk Camping Asyik


Pantai Pok Tunggal masih tergolong pantai baru. Mulai dikomersilkan sejak 2012, pantai yang berlokasi di Desa Tepus di Gunung Kidul Yogyakarta ini masih bersih banget, bener-bener cantik dan indah. Pantai ini populer untuk camping karena pantai ini tergolong aman dengan ombak yang tidak besar. Lokasinya berada di antara Pantai Indrayanti dan Pantai Siung. Kalau ga bawa tenda, pengunjung bisa menyewa dari petugas setempat dengan harga sekitar 60 ribu rupiah. Agak berbeda dari pantai-pantai lain di area Gunung Kidul, di Pantai Pok Tunggal ada pohon unik namanya pohon Duras. Karena pohon ini sulit tumbuhnya, makanya keberadaannya dijaga banget sama penduduk setempat. Tiket masuknya murah banget, cuma 2000 rupiah aja. Parkir untuk motor juga 2000, sedangkan mobil sebesar 5000 rupiah. Di pantai yang pasirnya bersih ini, kita bisa maen air dan berenang dengan aman. Batu-batu karang di bibir pantai pun cukup jelas terlihat karena air lautnya juga jernih. 

Mau menikmati view Pantai Pok Tunggal yang lebih wow lagi? Bisa dengan mendaki bukit di sebelah barat pantai. Dari bukit ini pemandangannya bikin mulut ternganga.. melongooo... saking kerennya. Bukitnya juga aman kok, sudah di pasangi pembatas di tepi-tepinya. Selepas dari pantai ini, saya dan temen-temen lanjut ngetrip ke Pantai Ngobaran dan Goa Pindul yang keduanya juga masih berada di kawasan Gunung Kidul, Yogyakarta. 




Inilah Pesona Keindahan Alam Dataran Tinggi Dieng


Bulan Agustus ini saya hepi bertubi-tubi. Setelah trip ke Surabaya dan Bromo, saya mendapat ajakan ngetrip bareng ke Dataran Tinggi Dieng. Ah satu lagi travel wish saya terpenuhi :D. Saya dan teman-teman berangkat dari Semarang pada tengah malam. Maksudnya supaya sampai sana sebelum subuh supaya bisa mengejar sunrise di Bukit Sikunir Dieng. Dieng terletak di dua kabupaten yaitu Wonosobo dan Banjarnegara. Jalur kami adalah Bandungan - Secang - Temanggung - Parakan - Wonosobo. Sampai di area Dieng sekitar jam 4 pagi dan ternyata oh ternyata hari itu bertepatan dengan Dieng Culture Festival, ritual potong rambut gimbal. Jalan sungguh macet, mobil kami pun stuck ga bisa maju-maju karena banyaknya mobil, motor dan bus menuju Dieng. Berhubung macetnya sungguh parah, kami akhirnya memutuskan jalan kaki aja sampai Bukit Sikunir demi menangkap sunrise. 

Desa Sembungan, desa tertinggi di Pulau Jawa

Menangkap "secuil" sunrise di Bukit Sikunir
Bukit Sikunir berada di Desa Sembungan, desa tertinggi di Jawa. Desa Sembungan memiliki ketinggian 2306 mdpl, sedangkan Bukit Sikunir tingginya 2463 mdpl. Kalau berkunjung ke Dieng, bukit ini wajib dan kudu kamu kunjungi. Tak lengkap ke Dieng bila tidak ke Bukit Sikunir dan mengejar keindahan Golden Sunrise nya. Tapi lagi-lagi pagi itu di Bukit Sikunir juga amat sangat ramai, sampai-sampai susah mau keatas. Ahhh sepertinya next time kalau ke Dieng lagi musti memastikan ga pas ada acara perayaan nih, biar ga seheboh ini ramenya. Saya berhasil mengambil foto sunrise sih, tapi kurang memuaskan hasilnya #hiks. Anyway, turun dari Bukit Sikunir saya sempat menonton pertunjukan musik tradisional oleh sekelompok orang. Berhubung perut laper kami mencari jajanan disekitar Bukit Sikunir. Yang paling dekat dengan kami waktu itu adalah penjual gandos. Langsung saya dan teman saya beli banyak gandos yang rasanya enak banget itu. Cukup untuk membuat perut kenyang dan tak lagi "bersuara".

Telaga Cebong

Sudut telur rebus di Kawah Sikidang
Lalu lanjut ke Telaga Cebong yang juga masih berada di Desa Sembungan Dieng. Telaga ini ngehits sebagai spot camping. Banyak tenda warna warni yang kami temui sewaktu akan mengambil foto telaga ini. Okee, yuk sekarang kita meninggalkan Desa Sembungan dan menuju ke Desa Dieng Kulon untuk menjelajahi area Kawah Sikidang. Kawah ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Banjarnegara ya gaess, beda dengan Bukit Sikunir dan Telaga Cebong di Desa Sembungan yang masuk wilayah Kabupaten Wonosobo. Kawah ini merupakan salah satu yang diunggulkan untuk wisata di Dieng. Banyak terlihat turis-turis asing sedang menjelajahi kawasan Kawah Sikidang yang panas ini. Di area kawah ini saya membeli suvenir berupa kaos dan gantungan kunci. Nah berhubung saya melapar lagi, saya pun membeli jamur crispy yang banyak dijual di Kawah Sikidang. Rasanya sooo yummy banget, enak dan renyah. Oh ya, kamu juga bisa membeli oleh-oleh khas Dieng yaitu pepaya gunung, yang di wilayah Wonosobo disebut carica. 

Kemudian trip kami lanjut ke Telaga Warna yang memiliki view sangat indah. Telaga Warna masuk ke wilayah Kabupaten Wonosobo dan merupakan salah satu andalan wisata di Dieng juga. Diberi nama Telaga Warna karena memiliki fenomena alam yang unik yaitu warna air yang sering berubah-ubah. Disekitar Telaga Warna terdapat beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi yaitu Telaga Pengilon dan beberapa gua. Sayangnya saya ga ke Telaga Pengilon karena keasyikan keliling ke area gua-guanya yaitu Goa Semar, Goa Pengantin, Goa Sumur, dan Goa Jaran.

Speechless mengagumi keindahan Telaga Warna

Masih speechless, oh indahnya... #terharu

Patung Patih Gajahmada

Salah satu patung di Goa Sumur

Menjelang siang, perjalanan kami lanjutkan ke Dieng Plateau Theater. Dieng Plateau Theater adalah gedung bioskop yang menampilkan film dokumenter tentang Dieng. Kalau kamu suka sejarah dan budaya, nonton film Dieng itu kudu. Selesai nonton film, kami naik bentar ke area Bukit Batu Pandang (Batu Ratapan Angin). Sebenernya bisa ambil view 2 telaga dari sini tapi karena udah kelelahan paginya mendaki bukit segitu lamanya karena terlalu ramai orang, maka kami kurang minat untuk daki-mendaki lagi, hiks.

Dieng Plateau Theater
Terakhir, niat hati mau ke area kompleks candi-candi tapi apa daya berhubung macet parah karena sedang ada festival makanya kami juga urung ke area candi-candi tersebut dan langsung putar balik untuk pulang. Tapi pulang pun ga semudah itu! macet total bikin jarak 4 km harus ditempuh dalam 4 jam!

Pesan moral: kalo ke Dieng jangan pas festival, mobil susah gerak :( :(. Tapi trip kali ini saya hepi banget lah pokoknya (terlepas soal macet ituh..) soalnya niatan pengen ke Dieng dari dulu akhirnya terpenuhi juga.. ^^ Next time kalo diajak ke Dieng lagi saya pasti mau kok, ga nolak! :D

Waduk Jatibarang dan Goa Kreo Semarang, Rumah Bagi Kera-kera Liar


Di hari kemerdekaan RI yang ke-69 ini, saya jalan-jalan ke sebuah lokasi wisata alam yang lagi-lagi masih berada di kawasan Semarang. Tempat wisata ini bernama Waduk Jatibarang dan Goa Kreo. Tepatnya di Desa Kandri, Gunung Pati. Bersama seorang teman, saya naik angkot dari Ungaran ke Pasar Gunung Pati. Kemudian naik ojek (semotor bertiga biar irit, euy!) dengan biaya 20 ribu rupiah sampai ke posko tiket Waduk Jatibarang. Tiket masuk pun kami beli dengan harga 3500 per orang. Tarif ini untuk weekend ya, tarif hari biasa hanya 2500 rupiah. Memasuki kawasan ini, kami menuruni tangga menuju ke jembatan penghubung diatas Waduk Jatibarang. Dari jembatan ini, kami menikmati pemandangan cantik waduk yang ga kalah dari pemandangan danau diluar negeri. Luar biasa waduk ini cakep banget dengan deretan perbukitan hijau disekitarnya. 

Semarang punya destinasi baru yang kece *abaikan yang pakai baju hitam* :D

Jembatan yang menghubungkan dengan Goa Kreo
Waduk Jatibarang sendiri termasuk waduk baru karena setelah 4 tahun dibangun akhirnya mulai dibuka pada Mei 2014. Jadi baru 3 bulan yang lalu waduk ini mulai dioperasikan, selain sebagai waduk untuk mengatasi masalah banjir, juga sebagai destinasi wisata yang diharapkan bisa menambah penghasilan daerah, termasuk juga banyaknya penjual makanan dan suvenir di area waduk. 

Seekor kera sedang melamun makan roti
Jembatan penghubung diatas waduk ini berfungsi untuk menghubungkan pinggir waduk dengan Goa Kreo, goa yang masih alami dengan banyaknya kera disana sini. Bahkan terdapat beberapa patung kera di jembatan ini yang menambah keunikan jembatan Waduk Jatibarang. Jangan kuatir, keranya ga ganas kok. Kita juga boleh memberi makan kera-kera itu, tapi ingat untuk selalu buang sampah ditempatnya ya, sayang kan kalau area goa yang masih alami ini jadi kotor gara-gara sampah yang berserakan. Waduk Jatibarang dan Goa Kreo buka setiap hari mulai jam 5 pagi sampai jam 6 sore.

Goa Kreo

Bromo, Yadnya Kasada, dan Serunya Mengejar Sunrise


Akhirnya impian saya untuk mendaki Gunung Bromo kesampaian juga! Saya ngikut open trip seorang kawan yang saya kenal di grup Backpacker Semarang di Facebook. Namanya aja backpacker, ya kita open trip nya semurah dan seirit mungkin. Total kami bertujuh, 4 diantara kami berangkat dari Semarang, termasuk saya. Dari Stasiun Poncol kami menuju Stasiun Pasar Turi di Surabaya dan malam itu kami menginap dulu di rumah yang bikin open trip di Surabaya. Nah paginya sebelum mulai touring ke Bromo kami ke beberapa destinasi wisata dulu di Surabaya, catatannya bisa dibaca di postingan Jalan-jalan ke Surabaya :). 

Siang hari kami memulai touring ke Bromo dari Surabaya. Kawasan Gunung Bromo berada dalam 4 wilayah kabupaten yaitu Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang. Bromo itu destinasi wisata yang must-visit banget di Jawa Timur. Kepopuleran Bromo itu udah mendunia jadi amat sangat banyak turis asing yang mendaki dan berwisata ke Gunung Bromo yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Setelah 4 jam touring, akhirnya sore itu kami sampai juga di sebuah homestay di Bromo, penginapan ini sederhana banget sih, tapi yang penting bisa buat istirahat sejenak. Malam itu kami menonton sendratari Roro Anteng dan Joko Seger, abis itu balik penginapan lagi untuk tidur. Sebenarnya saya udah kerasa kalau bakalan ga bisa tidur karena dini hari jam 2an kami musti bangun dan melihat acara upacara Yadnya Kasada. Dan benarlah, karena khawatir ga bisa bangun super awal, akhirnya malah ga bisa tidur.. huaaa..

Beberapa sesembahan sesajen di upacara Yadnya Kasada

Unforgettable moment! Sunrise di Bromo!

Foto dengan background Gunung Batok
Yo wes lah, ga papa. Yang penting sekarang kami menuju ke Pura Luhur Poten yang menjadi lokasi acara perayaan Yadnya Kasada dan kami nonton acara ritual ini dari jam 3 sampai jam 5 pagi. Pura Luhur Poten ini adalah tempat pemujaan bagi masyarakat Tengger yang memeluk agama Hindu. Nah apa sih sebenarnya Yadnya Kasada itu? Yadnya Kasada adalah sebuah hari upacara persembahan sesajen kepada Sang Hyang Widhi. Sesajen juga dipersembahkan untuk para leluhur yaitu Rara Anteng dan Jaka Seger yang merupakan pasangan yang menjadi cikal bakal suku Tengger di Bromo. Kami juga ikut iring-iringan sesajen menuju ke puncak Bromo. Harusnya sampai kawahnya ya... tapi oh tapi... saat itu bau belerangnya bener-bener wow banget sampai saya ga tahan dan akhirnya ga ikut iring-iringan sesajen sampai kawah. 

Nah berada di Gunung Bromo ini tak kami sia-siakan. Mumpung menjelang sunrise, kami segera bersiap-siap ambil banyak foto matahari terbit di Bromo. Pemandangannya luar biasa, majestic banget dengan lautan kabut yang menambah keunikan view dari atas Gunung Bromo. Gunung Bromo ini adalah gunung berapi yang masih aktif ya gaess, tingginya 2329 mdpl, jadi okee juga buat pendaki pemula. Nah kalau berfoto di Gunung Bromo pasti juga dapat background view Gunung Batok, gunung yang berdekatan dengan Gunung Bromo.

Siangnya kami melanjutkan explore ke area-area lain di sekitar Bromo yaitu Pasir Berbisik Segara Wedi, Bukit Teletubbies dan Gunung Penanjakan untuk melihat view kawasan Bromo dari atas. Untuk Gunung Penanjakan nya bisa dicapai dengan naik motor dan area ini adalah salah satu spot terbaik untuk menikmati sunrise. Kami mengeksplor selama kurang lebih 3 jam dan selanjutnya balik ke penginapan untuk packing dan bersiap balik ke rumah temen saya di Surabaya. Terimakasih ya gaesss, kalian semua temen-temen trip yang asyik dan yes banget. Semoga lain waktu bisa ketemu untuk trip bareng lagi :).

Pura Luhur Poten dengan background Gunung Batok

Area lautan pasir Segara Wedi

View Bromo dari Penanjakan 

Pasir dimana-mana...

Teman-teman ngetrip ke Bromo

Comments

Featured Travel Note

A Trip to Hong Kong Disneyland, A Dream That Comes True

Catatan Mancanegara