Vihara Mahavira Graha Semarang, and That Magnificent Echo-making Ceiling

Saya punya seorang kawan yang adalah seorang calon biksu. Kawan saya ini tinggal di sebuah vihara yang juga sebagai tempat pendidikan calon biksu. Vihara Mahavira Graha namanya. Suatu hari dia pernah cerita kalau di viharanya terdapat langit-langit yang unik. Karena penasaran, saya pun mengunjungi vihara yang berlokasi di Jalan Marina Raya, dekat Pantai Marina, persis didepan Royal Family Residence ini. Vihara ini memiliki tujuh lantai dan kabarnya ini adalah vihara terbesar di Jawa Tengah. 

Masuk ke area vihara, disambut arca-arca Buddha dan Avalokitesvara yang mengelilingi vihara. Actually, tempat ini bukan tempat wisata namun dibangun untuk tempat pemujaan pada Buddha. Tapi ya karena teman saya tinggal disini, jadilah saya diantar keliling vihara olehnya. Hehe, terimakasih ya biksu..

Dan benarlah, saya diajak naik ke lantai atas dan dibawa ke sebuah ruangan besar dengan langit-langit yang unik, dimana langit-langit itu berupa tiruan langit dan bisa mengeluarkan bunyi gema. Ruangan itu tampak makin indah dengan adanya beberapa patung. Lanjut saya diajak naik lagi ke lantai berikutnya dan dia pun menunjukkan view Kompleks Marina from the top! Incredible banget. Disini saya pajang salah satu fotonya. Dari atas, saya juga bisa melihat Holy Stadium, gereja tempat saya beribadah youth tiap Sabtu sore. Saya pun masih diajak berkeliling ke beberapa ruangan lagi, salah satunya adalah tempat pemujaan kepada Buddha. Diruangan ini terdapat peralatan untuk ritual ibadah dan beberapa patung. Senang rasanya berkunjung ke vihara ini. Sekali lagi, terima kasih ya biksu untuk kebaikanmu mengantarku keliling Vihara Mahavira Graha

Salah satu view Kompleks Marina Semarang from the top

Candi Borobudur, Candi Buddha Terbesar di Dunia


Siapa sih yang ga tau Candi Borobudur? Candi ini adalah candi paling populer di Indonesia. Turis asing yang ke Indonesia belum afdol kalau belum ke Candi Borobudur. Nah, ini adalah kali kedua saya ke candi yang dibangun pada abad ke-9 ini. Pertama kali kesini waktu masih SD, entah udah berapa taun yang lalu itu.. ah saya udah tuwa ternyata, hahaha.

Eniwei, saya ke Candi Borobudur sama Milan, bule Belgia sesama volunteer yang saya kenal di konservasi gajah Way Kambas Lampung. Kilas balik sebentar, waktu mau balik ke Pulau Jawa si Milan ini nge-begging mau ikut saya ngebus ke Semarang, wwkwkw pantat panas super hot dah secara kita ngebus seharian loh dari Lampung menuju Semarang. Tapi itu ga menyurutkan niat si Milan yang udah kebelet pengen pipis ke Karimunjawa. Singkat cerita, saya antar dia beli tiket ke Karimunjawa dan memperkenalkan dia ke 3 turis asing lainnya biar dia ada temannya dan bisa share cost, maklum dia mepet banget dana jalan-jalannya. Nah beberapa hari kemudian saya jemput dia dari pelabuhan Jepara (sekalian jalan-jalan ke Pantai Kartini) dan antar dia nginep ke rumah salah seorang temen saya. Paginya kami ke Candi Borobudur karena dia juga pengen ke candi yang kepopulerannya udah meluber ke seantero dunia ini. So berhubung saya baik hati dan tidak sombong jadi saya anterin dia ke Candi Borobudur in a backpacker way alias naik bus en angkot! Untung si Milan ini orangnya ga rewel, apapun kondisinya dia tetep keep smiling en pasang muka hepi terus. Ih ni anak emang polos lugu lucu lah.. 

Okee jadi kita berangkat dari rumah temen saya di Ambarawa menuju ke Terminal Magelang dan lanjut naik bus ke Terminal Borobodur. Dari terminal ini kami naik becak ke Candi Borobudur karena Milan penasaran pengen naik becak. Kalau mau jalan kaki pun ga jauh kok. Sebelumnya dia beli caping/penutup kepala yang biasa dipakai petani biar ga kepanasan. Saya bantu dia nawar sampai dapat harga terendah. Eniwei, sampai di booth pembelian tiket, dia merasa kalau harganya rasis banget. Tiket domestik 30 ribu dan untuk turis manca harganya 240 ribu, alias 8 kali lipatnya! Milan pun menyayangkan kenapa harganya ga sama dan selisihnya antara bumi dan langit gitu. Dia juga bilang kalau di negaranya dan di Eropa pada umumnya, semua harga sama untuk ras apapun. Akhirnya saya bantu dia nawar harga tiket karena dia masih berstatus pelajar, lumayan dapat diskon 50% jadi dia cuma bayar 120 ribu aja. 

Candi Borobudur, candi Buddha terbesar di dunia
Milan yang cengar-cengir senang dapat diskon 50% makin semangat naik ke candi ini. Candi Borobudur adallah candi peninggalan jaman Buddha yang dibangun pada abad ke-9. Sering orang salah kaprah mengira lokasi candi ini ada di Yogyakarta, padahal candi Buddha terbesar didunia ini letaknya ada di Kota Magelang, Jawa Tengah.

Candi ini digunakan sebagai tempat ziarah agama Buddha dan tiap tahun umat Buddha datang dari seluruh dunia untuk berkumpul memperingati hari raya Waisak di candi ini. Milan ga abis-abisnya kagum dan ga brenti ambil foto terus di setiap sudut candi. Apalagi background candi ini juga keren banget dengan adanya 2 pasang gunung kembar, yaitu Gunung Sundoro-Sumbing dan Gunung Merbabu-Merapi. Ada juga Bukit Tidar dan perbukitan Menoreh. Nah, selain gunung dan bukit, candi ini juga terletak dekat Sungai Progo dan Sungai Elo. Biasanya sungai-sungai itu disukai para turis untuk kegiatan arung jeram atau bahasa kerennya, rafting. 

Pelataran Candi Borobudur juga bagus dengan adanya taman-taman hijau yang cantik dan luas. Disini juga boleh bersantai-santai dulu melepas lelah sehabis menaiki dan menjelajah Candi Borobudur. Tak terasa udah sore jam 5, saya dan Milan pun buru-buru keluar dari candi biar masih bisa dapat bis dari Terminal Borobudur. Lucky us, bus sore itu adalah bus yang terakhir menuju ke jalan raya utama. Sampai di pertigaan jalan raya, kami pun turun dan lanjut naik bus jurusan Yogya-Semarang untuk balik lagi ke rumah teman saya di Ambarawa. 

Esok harinya saya dan Milan jalan-jalan ke pusat kota Semarang sekaligus mengunjungi Vihara Mahavira Graha, sebuah vihara dimana seorang teman saya sedang menjalani pendidikan menjadi seorang biksu. Catatan lengkapnya bisa dibaca di Vihara Mahavira Graha Semarang, and That Magnificent Echo-making Ceiling.

Pantai Kartini, Wisata Edukasi Bahari di Jepara


Untuk penggemar pantai, mungkin Pantai Kartini ini udah ga asing lagi di telinga. Pantai Kartini yang berlokasi di Jepara ini digandrungi sebagai tempat wisata edukasi dan rekreasi untuk keluarga. Tiket masuk sangat murah yaitu 3000 aja untuk hari Senin-Jumat dan 5000 rupiah untuk weekend. Pantai disini udah dikasi pagar, jadi disini ga seperti pantai-pantai lain yang bisa bebas main di tepi laut. Kita bisa menikmati pemandangan laut dari pelataran Pantai Kartini yang cukup menarik. Yang jadi keunikan Pantai Kartini adalah adanya kura-kura raksasa yang menjadi ciri khas dari pantai ini. Biasanya pengunjung yang kemari berbondong-bondong foto dulu didepan kura-kura raksasa ini. Nah sebenarnya kura-kura raksasa itu isinya apa sih? Oh ternyata didalam kura-kura raksasa ini, pemerintah daerah sudah membuat Kura-Kura Ocean Park sebagai wisata edukasi untuk memperkenalkan keindahan dan kekayaan laut Jepara. Didalam terdapat banyak aquarium yang berisi pemandangan biota laut, ada pula touch pool atau kolam sentuh. Pengunjung dapat berinteraksi dengan ikan hanya dengan menyentuh touch pool ini. Selain itu, ada pertunjukan film 3 dimensi di Kura-kura Ocean Park ini.

Kura-kura Raksasa yang merupakan lokasi Kura-kura Ocean Park

Pintu masuk Kura-kura Ocean Park

Penampakan Laut Jepara dari Pantai Kartini
Untuk menikmati Kura-kura Ocean Park, harga tiketnya sebesar 17.500 untuk dewasa dan 12.500 untuk anak-anak pada saat weekend, dan 12.500 untuk dewasa dan 7500 untuk anak-anak di hari Senin-Jumat. Tiket pertunjukan film 3D sebesar 5000 rupiah. Abis dari Kura-kura Ocean Park, bisa cuss langsung menikmati pemandangan laut, tak lupa foto-foto di tulisan besar Pantai Kartini. Nah, sesuai namanya, pantai ini memang didedikasikan untuk mengenang pahlawan R.A Kartini yang kabarnya dulu sering bermain di pantai ini. Oleh pemerintah setempat, di pantai ini dibuatkan tugu R.A. Kartini.

Selain pemandangan laut dan Kura-kura Ocean Park yang disuguhkan di Pantai Kartini, ada juga wahana bermain anak-anak, panggung hiburan, dan rencananya akan dibangun juga permainan dan wahana yang lain. Oh ya, kalau ke Pantai Kartini, perhatikan ada dua pintu masuk. Yang sebelah kiri adalah pintu masuk ke pelabuhan, biasanya untuk wisatawan yang mau berwisata ke Karimunjawa. Sedangkan pintu masuk yang satu lagi, disebelah kanan, adalah pintu masuk ke tempat rekreasi Pantai Kartini.

Nah sebenarnya tujuan utama saya kemari adalah menjemput si Milan, bule Belgia yang saya kenal sewaktu jadi volunteer di Way Kambas National Park, Lampung. Beberapa hari yang lalu saya mengantar Milan beli tiket disini karena dia pengen banget ke Karimunjawa. Jadi hari ini saya jemput dia karena liburannya di Karimunjawa udah selesai. Nah sambil nunggu kapal yang dinaiki Milan nyampe ke pelabuhan, ga ada salahnya explore tempat rekreasi dan edukasi bahari di Pantai Jepara ini dulu, hehehe.

Volunteering at Way Kambas Lampung - Part 3: Kampung Bali dan Way Kanan

Saya senang sekali mendapatkan kesempatan jadi volunteer mengurus gajah Sumatra di Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Catatan aktivitas dan keasyikan saya bareng volunteer lain di Way Kambas dapat dilihat di Volunteering at Way Kambas Lampung - Part 1 dan Volunteering at Way Kambas Lampung - Part 2. Nah di Part 3 ini saya akan bercerita mengenai aktivitas kami setelah selesai menjadi volunteer di Way Kambas. Kami menginap di Ecolodge dan mengunjungi beberapa tempat yang menarik di Lampung. 

Pagi setelah sarapan bareng, kami menuju ke sebuah Kampung Bali di Lampung. Saya ga nyangka kalau ada kampung berisi penduduk dan adat budaya Bali disini. Disini nuansa Bali nya sungguh kental dengan banyaknya pernak pernik khas Bali, pura, alat musik Bali, dll. Bahkan Jacky juga kepincut ikutan nari-nari dengan iringan alat musik tradisional itu. Selain itu ada juga pembuat wayang yang berbaik hati menjelaskan cara membuat dan memainkan wayang. Kami balik ke Ecolodge dengan hati senang dan perut super lapar!

Ada Kampung Bali di Lampung!

Jacky jadi penari dadakan
Keseruan dan keasyikan kami di Lampung belum berakhir! Walaupun besoknya kami harus udah balik ke pulau dan negara kami masing-masing, tapi masih ada 1 destinasi yang akan kami kunjungi, yaitu Kabupaten Way Kanan Nah, di Way Kanan terdapat hutan yag memproduksi karet. Disini kami diberitahu info seputar pengolahan karet. Kami pun diperbolehkan untuk mencoba mengambil getah karet dari sebuah pohon. Lalu perjalanan lanjut ke sebuah lokasi produksi biogas. Diberitahu cara memproduksi biogas dari pup hewan yang kemudian selain bisa dipakai untuk membuat pupuk juga bisa memproduksi bahan bakar untuk memasak. Seorang warga mencoba memasak telur ceplok didepan kami dengan bahan bakar biogas. Waktu kami diminta mencoba makan telur itu, mata Jacky, Chan dan Milan memandang penuh makna kearah saya, pertanda mereka ga mau makan itu telor dan ngarep saya aja yang makan, gubrakk. Yaelah itu kan cuman telor ceplok, sini saya makan. Selanjutnya kami diajak ke rumah produksi tas dari bahan plastik bekas, misalnya dari bahan sachet sampo, sabun, dll. Chan terlihat agak bosan disini, dan Jacky dengan gaya wise nya masih menunjukkan ketertarikannya pada barang-barang hasil daur ulang itu. Milan malah sibuk terheran-heran sama ukuran rumah didesa yang cenderung besar-besar. Malah dia nanya harga rumahnya sekalian dan begitu tau kalau rumah besar itu dibangun dengan dana hanya 100 juta, Milan pun kaget. Melongo karena di Indonesia harga rumah masih bisa dibilang murah.

Hutan karet

Next, destinasi terakhir kami adalah hutan lindung Way Kanan. Di hutan ini diperkirakan banyak terdapat hewan-hewan langka yang masih bebas. Misalnya burung-burung dari jenis yang langka, babi hutan, harimau, siamang, dll. Didalam hutan lindung ini juga terdapat sungai yang bisa dilintasi kapal kecil. Cukup banyak para photographer yang datang jauh-jauh dari luar negeri hanya untuk memotret spesies burung-burung langka di hutan ini. Saya mencoba menanyai salah seorang photographer itu dan katanya sih sangat susah dapat momen burung yang lagi terbang, apalagi akhir-akhir ini diperkirakan makin sedikit jumlahnya. Kami lanjut masuk ke area hutan untuk mencari siamang. Susah banget untuk dapat momen siamang menampakkan diri. Biasanya mereka ga mau menampakkan diri dan cuma sembunyi diatas pohon aja. Kita bisa mengetahui keberadaan mereka dari suara yang dikeluarkannya karena siamang memiliki suara yang khas. Eniwei, hutan ini cukup bikin cape deh, bukan karena jarak atau sulitnya medan, tapi karena lintah-lintah kecil ada dimana-mana! Gilee dah, lintah-lintah ini geraknya cepat banget dari tanah ke sepatu kami dan masuk-masuk ke kaos kaki dan bahkan baju kami. Yang bikin cape karena kami tak henti-hentinya mengibas-ngibaskan lintah-lintah yang jalannya melebihi kecepatan Superman itu. Gile, tau-tau udah sampe ke lengan saya! Dan mana ada sih lintah yang nggak menggigit. Lintah-lintah itu menghisap sama gilanya kayak lintah yang menghisap darah saya di Way Kambas. Omegot, plis keluarkan saya segera dari hutan horor ini kakaaak.. 

Sungai di Way Kanan
Narsis di pinggir kali :D
Akhirnya setelah mendapatkan keberadaan siamang dari suaranya, kami pun segera mencari jalan keluar dari lokasi hutan ini. Gile, bisa-bisa kami tinggal tulang belulang kalau ga buru-buru kabur :D :D. Walaupun udah capek tapi rupanya Mbak Reny, Milan, Jacky dan Chan masih pengen naik boat menyusuri sungai di Way Kanan. Duuh monggo dah, saya cukup nunggu di posko ajah, mahal bayarnya 200 ribu per orang untuk aktivitas ini. 2 jam menanti, akhirnya mereka muncul juga. Huhu ngiri sih sebenernya liat foto-foto bidikan Milan di atas sungai bagus-bagus banget. Go Pro gitu loh.

Malamnya, kami menginap di rumah salah seorang pemilik warung di kantin Way Kambas. Sebelum kami ke Ecolodge, ibu ini memang menawari kami untuk tidur dirumahnya sebelum meninggalkan Lampung. Ini ibu yang masakannya selalu bikin para sukarelawan itu ketagihan,, hahaha kalau kata Jacky sih dia suka karena selain enak banget, bumbunya juga pas buat lidah foreigner. Jacky pun berbaik hati membantu sang ibu ini memasak didapurnya. Ah makan malam ini menjadi dinner kami yang terakhir sebelum balik ke "kampung" masing-masing, aah baper rasanya ngebayangin mau pisahan sama para volunteer yang asik-asik ini. Setelah dinner bareng, kami ke sebuah rumah yang lagi ngadain latihan menari untuk atraksi kuda lumping. Trio lucu pun kocak banget ikutan latihan joget-joget ini :D.

Our last dinner together
The Three Lumping-teers
Paginya kami pamitan pulang dengan ibu ini sambil berterimakasih udah boleh nginep gratisan dirumahnya. Kami pun diantar sampai ke Bandara Radin Inten II. Jacky langsung cuss fly balik ke negaranya, Mbak Reny cuss balik ke Semarang, dan Chan nebeng orang Lampung yang mau mengantarnya ke beberapa tempat wisata di Lampung karena jadwal pesawatnya masih 4 hari lagi. Tinggal saya dan Milan. Saya mah gampang tinggal pake bus aja pulang ke Semarang, tapi Milan ini pengen ngikut saya naik bis ke Semarang secara pesawatnya masih semingguan lagi. Akhirnya, Milan pun ngubah rute pesawatnya yang semula ke Jakarta dari Lampung, diubah jadi dari Semarang. Dia ini rupanya ngebet pengen ke Karimunjawa sehabis saya kasi liat beberapa foto Karimunjawa. Okelah, adek bule yang ganteng, mari ikut kakak pulang ke Semarang yak! Let's go kita ngebus seharian sampe pantat panas saking lamanya duduk di bus.. :D :D

Volunteering at Way Kambas Lampung - Part 2: Asyiknya Jadi Sukarelawan


Yeaah, melanjutkan catatan Volunteering at Way Kambas National Park Part 1, saya antusias sekali untuk membuat catatan Part 2 ini. Mari kita lanjut ke beberapa keasyikan lain yang saya lakukan dengan sesama volunteer di Way Kambas. Suatu malam, Milan yang iseng itu mau ngajarin kami main kartu namanya "A President". Dia ternyata bawa 1 pack kartu ditasnya dan kita semua dibuat penasaran sama permainan kartu dari Belgia ini. Dan mainnya ga sulit ternyata, seru dah.. yang kalah dapat hukuman semisal dicoret mukanya. Lucunya, yang ngajarin sapa..yang kalah sapa.. Hahaha si Milan yang awalnya ngajarin kita maen kartu malah kalah terus, wkwkwk.

Yang ngajarin maen kartu malah kalah terus

Abis lunch malah maen kartu lagi

Artis dadakan, laris manis dikalangan anak SMA
Ada beberapa kejadian lucu lain yang masih saya inget. Yang pertama,di suatu siang yang panas selepas makan, Jacky, Milan dan saya di samperin anak-anak SMA yang lagi rekreasi sambil belajar biota alam. Ternyata mereka minta foto bareng, haha si Milan laris banget diminta foto sana-sini. Jacky yang wise malah sempet kasi wejangan juga ke anak-anak SMA itu biar semangat studi, ciee.. cocok nih jadi motivator. Kelucuan kedua adalah waktu saya dan Jacky iseng pengen tau kayak apa sih rasanya digigit lintah. Mahout kami mengambil 2 lintah waktu kami melewati sungai yang banyak lintahnya itu dan menaruh lintah-lintah itu ditangan saya dan Jacky. Cuss,,makhluk jahanam itu berhasil menggigit dan menghisap darah kami. Rasanya? Sakit. Banget. Lintah-lintah yang semula kurus itu mendadak jadi gempal ndut setelah menghisap darah kami. Ternyata untuk melepaskan diri dari gigitan lintah itu ada caranya loh, ga bisa dilepas gitu aja. Abis dilepas pun, darah kami masih bercucuran sampai berjam-jam kemudian. Kata mahoutnya, kalau cepet membeku berarti kadar besi dalam darah bagus, tapi kalau lama berarti kurang zat besi. Saya becandain si Jacky terus karena darahnya lama banget membeku, hahaha. Dan masih banyak lagi kelucuan yang lainnya.

Atraksi gajah maen sepakbola

Museum di Way Kambas

Narsis didepan kandang gajah
Di Way Kambas National Park ada juga pertunjukan atraksi gajah lo. Biasanya penontonnya ya rombongan atau grup dari sekolah-sekolah. Disini kita bisa melihat aksi-aksi keren para gajah, seperti main sepakbola, main basket, dan segenap aksi-aksi wow lainnya. Kami terkesima lah pokoknya nonton pertunjukan atraksi ini. Selepas menonton atraksi gajah, kami diajak ke museum yang ga jauh dari lokasi atraksi ini. Disini terdapat info-info tentang gajah bahkan ada juga tulang gajah. Okee untuk menambah pengetahuan seputar gajah.

Sehari sebelum kami selesai jadi sukarelawan di Way Kambas National Park, ada beberapa tamu bule asal Amerika yang datang. Salah satunya seorang dokter hewan yang cantik dan baik hati, namanya Gabrielle. Gabrielle ini datang untuk memeriksa kesehatan gajah-gajah disini. Dia dan teman-temannya menginap di Ecolodge, tempat kami menginap besok. Besoknya kami packing barang-barang kami dan pamitan dengan semua mahout di Way Kambas. Huhu momen perpisahan memang selalu menyedihkan.. kami pun tuker-tukeran akun Facebook biar tetep bisa keep in touch. Bye for now, Way Kambas National Park *hiks hiks*.

Kabin kami di Ecolodge

Makan bareng di Ecolodge
Kami diantar ke Ecolodge, sebuah tempat menginap yang kece. Akhirnyaa..pindah tidur ke tempat tidur juga setelah berhari-hari me"lantai" di Way Kambas. Disini juga ada wifi gratis, langsung cuss kami hisaap itu wifi.. Berhari-hari tanpa internet di Way Kambas rasanya bener-bener omegot! Tapi sepadan kok dengan pengalaman mengurus gajah dan segenap keasyikan lainnya di Way Kambas. Esok harinya, kami jalan-jalan ke Kampung Bali. What?? Ada Kampung isinya orang Bali di Lampung? Iyaa.. pemirsah.. Yuk mari lanjut baca lanjutannya di Volunteering at Way Kambas Lampung - Part 3

Volunteering at Way Kambas Lampung - Part 1: Konservasi Gajah Sumatra

Dulu banget waktu masih SMA saya pernah 1 kali merasakan ngetrip keluar pulau Jawa. Waktu itu ke Bali dalam rangka study tour. Tapi karena belum punya jiwa dan semangat ngetrip makanya ga terlalu enjoy juga, pengennya cepet-cepet pulang kerumah. Nah sebenarnya spirit ngetrip itu mulai muncul tahun lalu waktu saya kangen sama teman lama saya yang saat itu tinggal di Malang yang membuat saya nekat mengunjunginya selama seminggu. Sejak pulang dari Malang itulah tiba-tiba spirit mbolang ceria itu muncul, ahahahayyy

Okeeh, dan salah satu kenekatan saya ditahun 2014 ini adalah mendaftar untuk jadi sukarelawan (bahasa kerennya: volunteer) selama kurang lebih 1 minggu di Way Kambas National Park, Lampung. Way Kambas ini adalah taman nasional yang menjadi tempat konservasi gajah Sumatra. Saya daftar ke Dejavato, sebuah NGO di Semarang. Eh ternyata permohonan saya diterima dan waktu itu saya membayar sekitar 900 ribu untuk akomodasi dan makan selama di Lampung. Deg-degan karena inilah yang malah berasa jadi the first trip keluar pulau Jawa. Saya pesen tiket bus ke Lampung dari Ungaran kira-kira 2 minggu sebelum keberangkatan dan dapat tiket dengan harga 250 ribu. Sampai di hari keberangkatan, bus berangkat malam dan menyebrang ke pulau Sumatra dari Pelabuhan Merak di Cilegon, Banten. Sampai di Lampung pada pagi hari, tapi sampai di area perkotaannya menjelang siang. Beruntung ada penumpang bus yang berbaik hati memberi tahu arah ke Hotel Gadjah Mada, hotel yang jadi meeting point dengan group leader dan beberapa sukarelawan yang lain. Hotel gampang ditemukan karena lokasinya dipinggir jalan depan Bandara Radin Inten II. 

Ketemulah dengan group leader saya, Mba Reny dan 2 volunteer lainnya yaitu Jacky dan Chan. Mereka datang dari Hong Kong dan kliatan antusias banget untuk jadi volunteer di Way Kambas. Hari itu cuma perkenalan aja karena kami semua langsung tepar. Esok harinya kami dijemput untuk ke Way Kambas. Perjalanannya lumayan jauh juga, masuk area hutan,, hmm bau-bau petualangan udah didepan mata nih gaesss! Fyi, Taman Nasional Way Kambas merupakan taman nasional tertua di Indonesia. Nah, dari gapura/ticket booth Way Kambas aja mobil masih harus masuk jauh kedalam dengan pemandangan pohon-pohon dikanan kiri. Setelah sampai di lokasi konservasi gajah Way Gambas, kami semua diantar ke kabin sederhana tempat kami akan menginap selama kurang lebih 1 minggu. Eh, tiba-tiba ada 1 sukarelawan asal Belgia yang muncul di kabin kami. Namanya Milan, dia ini lupa kasi konfirmasi kedatangan, makanya begitu sampe di bandara langsung dikasi tau Mba Reny untuk naik taxi langsung ke Way Kambas. Di hari pertama at Way Kambas ini kami lebih ke kegiatan mengenali lingkungan konservasi dulu, setelah itu makan bareng di kantin dan unpack barang-barang kami dikamar dan langsung istirahat, ngumpulin energi untuk segenap aktivitas esok harinya.


Dihari-hari berikutnya, aktivitas rutin kami adalah bangun pagi, makan bareng dikantin, lalu ke kandang gajah untuk mulai bantu-bantu mengurus gajah-gajah disini. Di Way Kambas ada banyak pawang yang disebut Mahout. Mereka ini bertugas memberi makan, mengajak jalan-jalan gajah keliling area konservasi, memandikan, mengecek kesehatan gajah-gajah, dan lain-lain. 1 mahout bertanggung jawab mengurus 1 gajah. Nah masing-masing kami dapat jatah 1 mahout dan 1 gajah, jadi setiap hari kami bisa mengikuti mahout kami masing-masing untuk beraktivitas memelihara gajah seharian. Ah banyaaak banget pengalaman yang saya dapatkan selama disini. Saya yang awalnya takut sama ketinggian, akhirnya berani menaiki gajah, hahaha. Gajah yang saya urus namanya Aditya, gajah jantan. Darimana kok tau kalau jantan? Aditya punya gading, sodara-sodara... Gading itu penanda jenis kelamin gajah. Gajah betina tidak memiliki gading. Tak ada gading yang tak retak.. *halah kok malah berpantun* hahaha

Eniwei, aktivitas-aktivitas yang saya lakukan bersama mahout setiap hari adalah pagi-pagi ke kandang dan naik ke punggung gajah bersama mahout dan mengelilingi area konservasi yang luas banget itu, sampai ke area pinggiran hutan. Kita ga masuk kedalam hutan ya, cukup di pinggirannya aja, karena didalam hutan ada banyak gajah-gajah liar yang belum dijinakkan jadi belum aman. Lalu gajah ditinggal di pinggiran hutan untuk mencari makan sendiri, nah kitanya yang balik ke arah kabin dengan jalan kaki. Haha.. mending kalau mulus jalannya,, lah jalannya berumput yang kadang-kadang licin apalagi kalau abis ujan yang bikin tanah jadi becek, ga ada ojek.. :D :D, ditambah lagi harus jalan pelan-pelan nyebrang sungai, ga dalam sih tapi disitu banyak lintahnya,, jadi musti ati-ati dan waspada.. hieee...

Nah, sampai di kabin sekitar jam makan siang, lunch bareng para sukarelawan yang lain sambil ketawa ketiwi nyeritain kisah-kisah serunya ngurus gajah, dan segenap obrolan asyik lainnya. Mereka ini walau dari negara-negara lain tapi doyan banget masakan Indonesia loh, malah ketagihan hahaa,, si Milan apalagi tuh badan bole kurus tapi makannya paling banyak. Kalau Jacky dan Chan lebih suka banyakin sayur karena mereka lagi rajin-rajinnya menerapkan gaya hidup sehat gitu. Saya? ah kayak ga tau saya aja,, saya mah begitu ada makanan enak ya langsung aja saya lahap, hehehe.

Gajah narsis

Makan bareng-bareng

Mak gajah dan anaknya
Okee perut udah kenyang nih, abis istirahat sebentar, saya dan mahout balik lagi ke lokasi kami ninggalin si Aditya. Ngelewatin sungai dengan lintah-lintah itu lagee sodara-sodara.. pokoknya awas aja kalau lintah-lintah itu menghisap darah saya dan saya ga langsing-langsing #eh. Dari kejauhan udah kliatan pantat si Aditya yang ndut. Tak lupa foto-foto narsis dulu sama gajah gempal yang jinak ini. Kami menaiki Aditya dan balik ke arah kandang. Sampai di kandang, ga langsung dimasukin ke kandang tapi dimandiin dulu. Dimana? di danau buatan yang ada didepan kabin. Jadi selama si Aditya mandi didanau, saya juga masih bercokol diatasnya, ikut-ikutan ngrendem body di danau. Mandi bareng gajah? Siapa takut..yuk mariii.

Next, acaranya bebas, kami bisa melakukan aktivitas lain yang kami mau. Di hari kedua dan ketiga malah trio lucu Jacky, Chan dan Milan semangat banget mancing ikan didanau. Saya dan Mbak Reny sendiri lebih suka langsung mandi dan istirahat lagi sebelum makan malam. Oya, kamar cewe dan cowo dibedakan ya,, jadi kami yang cewe-cewe ini ga sekamar sama trio kocak itu. Menjelang malam sebelum bobok biasanya kami ngumpul-ngumpul dulu didepan kabin ngobrol-ngobrol.

Suatu malam, Milan ngajarin kami maen kartu.. Permainan kartu apakah itu? Mau tau segenap keasyikan lain selama jadi volunteer di Way Kambas National Park? Yuuuk baca kelanjutannya di catatan Volunteering at Way Kambas Lampung - Part 2 dan Volunteering at Way Kambas Lampung - Part 3.

Comments

Featured Travel Note

A Trip to Hong Kong Disneyland, A Dream That Comes True

Catatan Mancanegara