Volunteering at Way Kambas Lampung - Part 1: Konservasi Gajah Sumatra

Subscribe to Travelingika.com:
Dulu banget waktu masih SMA saya pernah 1 kali merasakan ngetrip keluar pulau Jawa. Waktu itu ke Bali dalam rangka study tour. Tapi karena belum punya jiwa dan semangat ngetrip makanya ga terlalu enjoy juga, pengennya cepet-cepet pulang kerumah. Nah sebenarnya spirit ngetrip itu mulai muncul tahun lalu waktu saya kangen sama teman lama saya yang saat itu tinggal di Malang yang membuat saya nekat mengunjunginya selama seminggu. Sejak pulang dari Malang itulah tiba-tiba spirit mbolang ceria itu muncul, ahahahayyy

Okeeh, dan salah satu kenekatan saya ditahun 2014 ini adalah mendaftar untuk jadi sukarelawan (bahasa kerennya: volunteer) selama kurang lebih 1 minggu di Way Kambas National Park, Lampung. Way Kambas ini adalah taman nasional yang menjadi tempat konservasi gajah Sumatra. Saya daftar ke Dejavato, sebuah NGO di Semarang. Eh ternyata permohonan saya diterima dan waktu itu saya membayar sekitar 900 ribu untuk akomodasi dan makan selama di Lampung. Deg-degan karena inilah yang malah berasa jadi the first trip keluar pulau Jawa. Saya pesen tiket bus ke Lampung dari Ungaran kira-kira 2 minggu sebelum keberangkatan dan dapat tiket dengan harga 250 ribu. Sampai di hari keberangkatan, bus berangkat malam dan menyebrang ke pulau Sumatra dari Pelabuhan Merak di Cilegon, Banten. Sampai di Lampung pada pagi hari, tapi sampai di area perkotaannya menjelang siang. Beruntung ada penumpang bus yang berbaik hati memberi tahu arah ke Hotel Gadjah Mada, hotel yang jadi meeting point dengan group leader dan beberapa sukarelawan yang lain. Hotel gampang ditemukan karena lokasinya dipinggir jalan depan Bandara Radin Inten II. 

Ketemulah dengan group leader saya, Mba Reny dan 2 volunteer lainnya yaitu Jacky dan Chan. Mereka datang dari Hong Kong dan kliatan antusias banget untuk jadi volunteer di Way Kambas. Hari itu cuma perkenalan aja karena kami semua langsung tepar. Esok harinya kami dijemput untuk ke Way Kambas. Perjalanannya lumayan jauh juga, masuk area hutan,, hmm bau-bau petualangan udah didepan mata nih gaesss! Fyi, Taman Nasional Way Kambas merupakan taman nasional tertua di Indonesia. Nah, dari gapura/ticket booth Way Kambas aja mobil masih harus masuk jauh kedalam dengan pemandangan pohon-pohon dikanan kiri. Setelah sampai di lokasi konservasi gajah Way Gambas, kami semua diantar ke kabin sederhana tempat kami akan menginap selama kurang lebih 1 minggu. Eh, tiba-tiba ada 1 sukarelawan asal Belgia yang muncul di kabin kami. Namanya Milan, dia ini lupa kasi konfirmasi kedatangan, makanya begitu sampe di bandara langsung dikasi tau Mba Reny untuk naik taxi langsung ke Way Kambas. Di hari pertama at Way Kambas ini kami lebih ke kegiatan mengenali lingkungan konservasi dulu, setelah itu makan bareng di kantin dan unpack barang-barang kami dikamar dan langsung istirahat, ngumpulin energi untuk segenap aktivitas esok harinya.


Dihari-hari berikutnya, aktivitas rutin kami adalah bangun pagi, makan bareng dikantin, lalu ke kandang gajah untuk mulai bantu-bantu mengurus gajah-gajah disini. Di Way Kambas ada banyak pawang yang disebut Mahout. Mereka ini bertugas memberi makan, mengajak jalan-jalan gajah keliling area konservasi, memandikan, mengecek kesehatan gajah-gajah, dan lain-lain. 1 mahout bertanggung jawab mengurus 1 gajah. Nah masing-masing kami dapat jatah 1 mahout dan 1 gajah, jadi setiap hari kami bisa mengikuti mahout kami masing-masing untuk beraktivitas memelihara gajah seharian. Ah banyaaak banget pengalaman yang saya dapatkan selama disini. Saya yang awalnya takut sama ketinggian, akhirnya berani menaiki gajah, hahaha. Gajah yang saya urus namanya Aditya, gajah jantan. Darimana kok tau kalau jantan? Aditya punya gading, sodara-sodara... Gading itu penanda jenis kelamin gajah. Gajah betina tidak memiliki gading. Tak ada gading yang tak retak.. *halah kok malah berpantun* hahaha

Eniwei, aktivitas-aktivitas yang saya lakukan bersama mahout setiap hari adalah pagi-pagi ke kandang dan naik ke punggung gajah bersama mahout dan mengelilingi area konservasi yang luas banget itu, sampai ke area pinggiran hutan. Kita ga masuk kedalam hutan ya, cukup di pinggirannya aja, karena didalam hutan ada banyak gajah-gajah liar yang belum dijinakkan jadi belum aman. Lalu gajah ditinggal di pinggiran hutan untuk mencari makan sendiri, nah kitanya yang balik ke arah kabin dengan jalan kaki. Haha.. mending kalau mulus jalannya,, lah jalannya berumput yang kadang-kadang licin apalagi kalau abis ujan yang bikin tanah jadi becek, ga ada ojek.. :D :D, ditambah lagi harus jalan pelan-pelan nyebrang sungai, ga dalam sih tapi disitu banyak lintahnya,, jadi musti ati-ati dan waspada.. hieee...

Nah, sampai di kabin sekitar jam makan siang, lunch bareng para sukarelawan yang lain sambil ketawa ketiwi nyeritain kisah-kisah serunya ngurus gajah, dan segenap obrolan asyik lainnya. Mereka ini walau dari negara-negara lain tapi doyan banget masakan Indonesia loh, malah ketagihan hahaa,, si Milan apalagi tuh badan bole kurus tapi makannya paling banyak. Kalau Jacky dan Chan lebih suka banyakin sayur karena mereka lagi rajin-rajinnya menerapkan gaya hidup sehat gitu. Saya? ah kayak ga tau saya aja,, saya mah begitu ada makanan enak ya langsung aja saya lahap, hehehe.

Gajah narsis

Makan bareng-bareng

Mak gajah dan anaknya
Okee perut udah kenyang nih, abis istirahat sebentar, saya dan mahout balik lagi ke lokasi kami ninggalin si Aditya. Ngelewatin sungai dengan lintah-lintah itu lagee sodara-sodara.. pokoknya awas aja kalau lintah-lintah itu menghisap darah saya dan saya ga langsing-langsing #eh. Dari kejauhan udah kliatan pantat si Aditya yang ndut. Tak lupa foto-foto narsis dulu sama gajah gempal yang jinak ini. Kami menaiki Aditya dan balik ke arah kandang. Sampai di kandang, ga langsung dimasukin ke kandang tapi dimandiin dulu. Dimana? di danau buatan yang ada didepan kabin. Jadi selama si Aditya mandi didanau, saya juga masih bercokol diatasnya, ikut-ikutan ngrendem body di danau. Mandi bareng gajah? Siapa takut..yuk mariii.

Next, acaranya bebas, kami bisa melakukan aktivitas lain yang kami mau. Di hari kedua dan ketiga malah trio lucu Jacky, Chan dan Milan semangat banget mancing ikan didanau. Saya dan Mbak Reny sendiri lebih suka langsung mandi dan istirahat lagi sebelum makan malam. Oya, kamar cewe dan cowo dibedakan ya,, jadi kami yang cewe-cewe ini ga sekamar sama trio kocak itu. Menjelang malam sebelum bobok biasanya kami ngumpul-ngumpul dulu didepan kabin ngobrol-ngobrol.

Suatu malam, Milan ngajarin kami maen kartu.. Permainan kartu apakah itu? Mau tau segenap keasyikan lain selama jadi volunteer di Way Kambas National Park? Yuuuk baca kelanjutannya di catatan Volunteering at Way Kambas Lampung - Part 2 dan Volunteering at Way Kambas Lampung - Part 3.


Beri nilai tempat wisata ini, Kak :
{[["☆","★"]]}

Yuk komen, Kak! :D
EmoticonEmoticon