Pantai Goa Cemara Yogyakarta, Uniknya Pepohonan Cemara Udang dan Konservasi Kura-kura

Di one day trip dengan keluarga temen saya hari ini, kami mengunjungi 2 destinasi wisata. Yang pertama adalah Taman Kyai Langgeng di Magelang dan yang kedua adalah Pantai Goa Cemara. Pantai ini terletak di daerah Bantul, Yogyakarta, kira-kira 20 kilometer jauhnya di bagian Barat Pantai Parangtritis. Di pintu masuknya, kita akan disambut tulisan gede Pantai Goa Cemara dengan 2 patung kura-kura. Jangan lewatkan foto-foto dibagian ini deh, karena instagrammable banget. Karakter pantai ini hampir sama dengan Pantai Parangtritis, yaitu pasirnya berwarna gelap dengan ombak laut yang sangat besar. Tapi ada keunikan yang hanya dimiliki Pantai Goa Cemara. Sesuai namanya, disini banyak terdapat pohon cemara udang yang tumbuh dengan rimbunnya di area pantai dan pohon-pohon tersebut membentuk seperti lorong, maka diberi nama Goa Cemara. Pantai ini masih tergolong baru tapi waktu kami mengunjungi pantai ini, banyak banget pengunjungnya. 

Keunikan lain adalah disini ada Turtles Conservation, atau tempat konservasi kura-kura. Berbentuk rumah kura-kura dan beberapa jenis kura yang ada di tempat konservasi ini adalah penyu hijau, penyu sisik, penyu lekang, dan penyu belimbing. Pada waktu-waktu tertentu diadakan rilis kura-kura atau melepas kura-kura ke laut.

Di Pantai Goa Cemara terdapat mercusuar dan pengunjung juga bisa masuk ke mercusuar ini dengan hanya membayar 5000 rupiah untuk 2 orang. Sayangnya karena waktu kami ga banyak, kami ga sempat naik ke mercusuar ini. Mungkin next time kalau kemari lagi saya pasti tak akan sia-siakan kesempatan naik ke mercusuar :D.

Selama berada di Pantai Goa Cemara, saya duduk-duduk dibawah rindangnya pohon-pohon cemara udang, sambil menikmati view laut dengan ombak yang sangat besar. Angin disini semilir dan kadang-kadang juga cukup kencang. Sejuk dan bikin ngantuk, pengennya tidur kalau ketemu pepohonan yang rimbun. Oh ya, kalau anak-anak mau berenang di air yang bersih, disini juga disediakan kolam pemandian. Selain itu, fasilitas yang lain adalah tempat parkir yang luas, toilet umum, kamar mandi, dan mushola.  


Beberapa jenis kura-kura yang ada di Turtles Conservation

Karena ombaknya gede, cukup menikmati dari kejauhan aja

Taman Kyai Langgeng, Hutan Buatan di Magelang

Ini adalah kedua kalinya saya berwisata ke Taman Kyai Langgeng di Magelang. Yang pertama di tahun 2011 dan waktu itu saya jalan-jalan bareng temen-temen kerja. Namun kali ini saya berwisata bareng keluarga teman saya yang bernama Mbak Fosa. Taman Kyai Langgeng letaknya sekitar 1 kilometer saja dari pusat kota Magelang dan memiliki hutan buatan serta aneka fasilitas yang mengasyikkan seperti Wahana Permainan, Wahana Petualangan, Wahana Edukasi, Wahana Air dan banyak fasilitas pendukung lainnya. Tiket masuk sebesar 30 ribu, sudah termasuk gratis naik becak air, becak mini, bianglala, mobil keliling, kereta air, kereta mini, komidi layang, komidi putar, sepur mini, dan nonton film pendek 6 dimensi. Tapi berhubung terlalu banyak pengunjung jadi antrian dimana-mana cukup panjang dan lama. Saya menikmati gratisan naik mobil keliling dan bianglala saja. Film 6 dimensinya sebenarnya sih bikin saya penasaran tapi karena waktu kami ga lama untuk berwisata jadi kami skip ga nonton deh.

Taman-taman di Kyai Langgeng ini luas, sejuk dan bagus untuk foto-foto. Selain taman, pengunjung juga bisa melihat aneka hewan di Taman Satwa walaupun jumlahnya ga banyak. Sebelum pintu keluar, pengunjung bisa masuk kedalam pesawat terbang di Anjungan Dirgantara dengan hanya 5000 aja. Pesawat terbang ini dimaksudkan untuk mengedukasi pengunjung tentang isi pesawat, apa saja yang ada didalem pesawat. Anjungan Dirgantara dan Taman Satwa ini adalah 2 objek yang termasuk di Wahana Edukasi. Objek-objek lain yang termasuk Wahana Edukasi adalah Tanaman Langka dan Desa Buku/Perpustakaan. 

Sedangkan yang termasuk Wahana Petualangan adalah Flying Fox, Bioskop 6 Dimensi, Kereta Mini, dan Mobil Keliling. Kalau mau seru-seruan di air bisa juga di aneka Wahana Air seperti Kolam Renang, Becak Air, Kereta Air, Hand Boat, dan Water Ball. Wahana Permainan mencakup Sepeda Tandem, Becak Mini, Sepur Mini, Bom Bom Car, Bianglala, Komidi Layang, dan Komidi Putar. Satu hal yang tidak saya temukan adalah rollercoaster mini nya. Tahun 2011 masih ada dan saya naik juga, tapi ya sejujurnya waktu itu rasanya deg-degan banget karena rasanya tidak aman sama sekali. Syukurlah rollercoaster mini yang horor itu sekarang ga ada, hehe. Yang unik adalah terdapat wisata religius juga di Taman Kyai Langgeng yaitu Makam Kyai Langgeng. Ulama yang namanya menjadi nama area wisata ini dulunya adalah seorang ulama yang juga adalah penasehat spiritual Pangeran Diponegoro di masa penjajahan Belanda. Makam beliau terletak di tengah area obyek wisata Taman Kyai Langgeng.

Kami menjelajahi tempat wisata ini selama 2 jam saja dan lanjut ke Pantai Goa Cemara yang terletak di Bantul, Yogyakarta, kira-kira 3 jam jaraknya dari Taman Kyai Langgeng.

Yuk mari kita explore Taman Kyai Langgeng

Salah satu sudut taman yang sejuk

Hutan buatannya cantik dengan aneka tanaman

Anjungan Dirgantara

The Fountain Ungaran, Waterpark dengan Jam Buka yang Panjang


The Fountain adalah waterpark dan restoran yang berlokasi di Mapagan, Ungaran. Buka setiap hari dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore untuk waterpark, dan jam 6 pagi sampai jam 8 malem untuk restorannya, wah jam bukanya panjaaaang yah. Saya dan teman saya, Tita kesini pas hari biasa. Tiket masuknya 15 ribu. Ya standar sih kalau menurut saya ga terlalu mahal juga. Kalau weekend harganya 25 ribu. Untuk masuk ke kolam renang, kita masuk ke area restorannya dulu. Tapi ga makan soalnya kita emang udah niat mau kulineran di Alun-alun Lama Ungaran abis berenang, hehe. Soal menu, resto The Fountain menyediakan menu yang Indonesia banget. Karena hari biasa, jadi ga rame.. yippiee.. langsung deh foto-foto dulu di taman, di area tempat duduk yang terbuat dari bambu dan kayu, pokoknya narsis dulu. Baru deh ganti baju di ruangan yang udah disediakan en langsung nyeburrr...

Pintu masuk The Fountain

Penampakan kolam renang

Airnya seger bening.. Disini ada 4 pilihan kedalaman, mau yang mana? ada yang 30 cm, 60 cm, 100 cm, dan 150 cm. Kami sih udah jelas pilih yang..... 60 cm! Hahahaha.. soalnya ga bisa berenang. Nah, kalau yang 30 cm itu udah jelas ya buat anak-anak. Apalagi dikolam nya dikasi seluncuran warna warni itu... aduh pengen.. #eh. Kalau menurut saya, waterpark ini masih masuk kategori sangat sederhana, contohnya bila dibandingkan dengan Atlantic Dreamland di Salatiga. 

Narsis dulu sebelum nyebur ke kolam yang cethek :D
Ga kerasa udah 2 jam kami nyebur renang suka-suka di The Fountain Waterpark. Tiba-tiba perut mulai berbunyi, makin keras pula, aah ini pertanda harus segera diisi. So, menjelang jam 4 sore kami langsung ke kamar ganti untuk mandi dan ganti baju. Ruang gantinya luas dengan beberapa kamar mandi (shower). Untuk rombongan pengunjung yang ingin melakukan aktivitas outbound, disini juga disediakan lapangan rumput hijau dengan beberapa sarana permainan outbound. Jadi puas-puasin deh maen air, outbound, dan makan kenyang di The Fountain Waterpark & Resto.

Pantai Sadranan, Snorkeling Asyik di Yogyakarta


Pantai Sadranan terletak di desa Sidoarjo, kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Pantai ini sempat heboh beritanya sekitar bulan Juni 2015 karena peristiwa tebing yang ambrol akibat longsor. Meski demikian, tidak bisa dipungkiri kalau pantai ini super duper indah sekaleee. Saya dan temans puass ber-selfie ria. Apalagi saya yang udah 3 bulan ga mbolang, menatap pantai ini rasanya bikin bahagia bingiittss. Disini juga bisa snorkeling karena ombaknya tidak terlalu besar dan masih terbilang aman. Beda dengan Pantai Ngobaran yang ombak lautnya sangat besar sehingga pengunjung hanya bisa selfie saja.

Bening yaa... air lautnya!

Disitu ada batu karang besar
Nah, nama Pantai Sadranan sendiri sebenarnya berasal dari kata "nyadran", artinya ritual sedekah laut. Masyarakat setempat yang tinggal disekitaran pantai melakukan ritual nyadran ini sebagai wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta. Pasir disini putih bersih, senang rasanya main pasir di pantai ini. Belum lagi kalau melakukan aktivitas snorkeling, bisa melihat ikan-ikan dan aneka terumbu karang yang cantik dibawah laut. Saya kebetulan tidak melakukan aktivitas snorkeling kali ini karena ga bawa baju ganti hehe. Tapi dari info yang saya dapat, waktu snorkeling yang oke dan aman adalah pada pagi atau sore hari ketika air laut tidak sedang pasang. Ketika kami kemari, banyak juga yang sedang asyik berkemah. Jadi di Gunung Kidul, selain Pantai Pok Tunggal, lokasi ini juga merupakan "target" camping, khususnya buat anak-anak muda yang suka berpetualang. 

Duduk manis di atas bebatuan karang

Selfie kaki masih kekinian ga sih? :D

Bukit Doa Taman Getsemani Ungaran, Rumah Doa dengan Taman Super Kece


Berhubung lagi baper akibat barusan putus sama pacar, kayaknya wisata reliji paling pas nih untuk mengobati hati yang galau *halah*. Jadilah waktu diajak emak ke Bukit Doa Taman Getsemani saya gak nolak. Pingin ke tempat yang sejuk, tenang, adem biar bisa merenungi arti kehidupan sehabis putus cinta *halah lagi*. So siang itu kami ke bukit doa yang biasa dikunjungi umat Kristiani ini. Lokasinya ada di Jalan Sindoro, Ungaran. Masuk gratis, tidak ada biaya apapun, cukup mencatatkan nama di buku tamu saja.

Keluar dari ruang resepsionis, kami berjalan menuju gua doa dan mulai melihat berbagai fasilitas yang ada di bukit doa ini. Terdapat ruang kebaktian yang dulu sering digunakan untuk acara ibadah Ungaran Bermazmur dan bisa menampung 400 orang. Saya katakan "dulu" karena sewaktu saya masih SMA disini rutin diadakan ibadah itu, tapi kurang tau kalau sekarang sepertinya udah ga diadakan lagi. Jadwal kebaktian umum disini tiap Sabtu jam 10.30 WIB. Lanjut, ada ruang pujian dan penyembahan, ruang pentakosta yang digunakan untuk persekutuan doa atau sharing bersama, ruang basement yang digunakan untuk tempat berdoa para tamu, tempat duduk melingkar yang biasa digunakan untuk kebaktian padang, toko buku, perpustakaan, dan rumah elim yang digunakan sebagai tempat menginap para tamu. Ada juga rumah Elisa yang hanya boleh digunakan Hamba Tuhan dan menara doa tempat para pendoa berdoa syafaat untuk kota, bangsa dan negara atau apapun yang memerlukan doa syafaat. Ruang konseling pun disediakan bila ada tamu yang ingin dilayani konseling masalah pribadi. Bahkan bukit doa ini juga menyediakan layanan bimbingan belajar gratis bagi anak SD. 

Salah satu gua pribadi di Bukit Doa Taman Getsemani
Tamannya kece banget!
Buat saya, highlight tempat ini adalah gua doa pribadi. Ada 53 gua kecil yang bisa digunakan untuk waktu pribadi dengan Tuhan. Para tamu yang datang biasanya berdoa, membaca Alkitab dan merenungkan firman Tuhan di gua-gua ini. Di setiap sudut Bukit Doa Taman Getsemani selalu ada taman dengan berbagai jenis tanaman. Taman-tamannya kece banget, banyak pohon tinggi dan biasanya tamu-tamu yang datang suka banget foto-foto ditaman selepas berdoa di gua. Wisata reliji disini berhasil bikin saya yang lagi gundah gulana ini bersemangat kembali. Ah Tuhan memang paling tahu yang terbaik untuk saya dan mungkin pacar yang kemarin bakalan ga baik untuk hidup saya kedepannya. Ya sutralah.. cari pacar lagi yuk! #eh

Lawang Sewu, Bangunan Mistis Paling Populer di Semarang

Lawang Sewu adalah tempat tujuan wisata yang paling populer di Semarang. Letaknya sangat strategis di pusat kota Semarang dekat dengan Tugu Muda. Tiket masuk juga cukup murah, hanya 10 ribu rupiah saja dan buka setiap hari jam 9 pagi sampai jam 9 malam. Nama boleh populer, tapi nuansa ke-horor-annya juga tak kalah populer. Karena alasan inilah sebenarnya saya cukup tertarik untuk berkunjung ke Lawang Sewu. Lawang Sewu atau dalam Bahasa Indonesia berarti Seribu Pintu, pada kenyataannya memang memiliki banyak sekali pintu, walau tidak sampai berjumlah seribu. Bangunan kuno ini dibangun pada tahun 1904 dan memiliki 3 lantai. Pada masa lalu, 2 lantai digunakan untuk aktivitas perkantoran, dan lantai 3 kabarnya digunakan untuk aktivitas olahraga. Berdasarkan sejarah, gedung ini dulunya adalah kantor pusat NIS yang merupakan perusahaan kereta api Belanda yang beroperasi di Semarang. 

Sudah beberapa kali saya berkunjung kemari. Pertama kali dengan teman-teman English Conversation Club di kampus saya dulu, lalu yang kedua kali juga dengan teman-teman kampus dan waktu itu bahkan sampai ikut tur sore menjelajahi lorong dan ruang bawah tanah Lawang Sewu yang pada masa penjajahan Jepang digunakan sebagai penjara jongkok dan penjara berdiri. Dalam tur itu, kami diminta pakai sepatu boot dulu karena airnya cukup tinggi sampai hampir selutut. Ruangannya gelap dan panjang, rasanya lama banget ga keluar-keluar juga. Pengap dan baunya apek, cukup membuat saya berkata pada diri saya sendiri bahwa ini adalah tur bawah tanah yang pertama dan terakhir buat saya. Cukup horor juga cerita-cerita yang saya dengar tentang lorong tersebut dimana kabarnya banyak penampakan dari para tawanan yang meninggal disitu. Ataupun banyaknya hantu dan makhluk gaib yang dikabarkan suka berseliweran di bangunan ini mulai dari bagian sumur tua, pintu utama, lorong-lorong, ruang-ruang utama serta di ruang penyiksaan. 

Dan kali ini adalah kali ketiga saya ke Lawang Sewu. Berbeda dengan 2 kunjungan saya yang sebelumnya, kali ini saya puas-puasin foto-foto di setiap sudut Lawang Sewu (kecuali ruang bawah tanah). Karena sudah banyak direnovasi. Bahkan terdapat juga kereta asli peninggalan Belanda di pelataran Lawang Sewu yang turut direvitalisasi. Bangunan Lawang Sewu kini sangat terawat dan bagus, makanya selalu jadi target utama wisatawan yang berkunjung ke kota Semarang. Belum ke Lawang Sewu ya belum sah ke Semarang :D.


Foto diantara pintu-pintu

Cantiknya Lawang Sewu menjelang malam

Klenteng Sam Poo Kong, Penghormatan untuk Laksamana Cheng Ho

Salah satu tempat wisata reliji yang populer di Semarang adalah Klenteng Sam Poo Kong. Klenteng yang punya nama lain Klenteng Gedung Batu merupakan klenteng Cina tertua di kota Semarang. Nah apa sih yang membuat Sam Poo Kong sangat ngetop? Ternyata lokasi klenteng ini dulunya adalah tempat persinggahan pertama dari seorang Laksamana Tiongkok yang bernama Cheng Ho. Disebut Gedung Batu karena disini terdapat gua yang dijadikan tempat sembahyang dan ziarah orang-orang keturunan Cina. Tiket masuk klenteng murah meriah hanya 3500 rupiah aja, tapi kalau mau masuk ke gua nya harus membayar lagi sebesar 20 ribu rupiah. 

Saya kesini dengan Dian, teman lama saya sewaktu studi S1 di Universitas Dian Nuswantoro Semarang. Untuk menuju ke Sam Poo Kong di daerah Simongan dengan angkot cukup mudah, tinggal naik angkot berwarna oranye yang menuju ke jalan Kelud, lalu turun di perempatan. Dari situ tinggal jalan kaki sebentar. Atau bisa juga naik Go-Jek, malah irit, ga capek dan cepat sampai, hehe. Eh maap, bukan lagi promosi Go-Jek ya tapi emang kehidupan jadi lebih mudah dengan Go-Jek sih.. hehehe.

Oke balik ke Laksamana Cheng Ho. Beliau adalah yang pertama kali menyebarkan ajaran Islam di Jawa. Maka klenteng ini dijadikan tempat penghormatan bagi Cheng Ho dan juga disaat yang sama sebagai tempat sembahyang agama Konghucu. Lagipula, mereka menganggap Cheng Ho layaknya dewa meskipun beliau seorang muslim.

Terdapat 2 bangunan besar di Sam Poo Kong, terdapat juga patung-patung termasuk yang paling utama adalah patung Cheng Ho. Pelataran klenteng luas dan biasanya dijadikan tempat pagelaran seni yang berhubungan dengan budaya Cina. Selain itu, banyak tempat duduk untuk santai dibawah pohon rindang. Nuansa merah di Sam Poo Kong sangat cetar, jadi cocok dong yah sama baju merah yang saya pakai di trip kali ini :D. Kalau mau ngetrip di Semarang, jangan lupa masukkan Sam Poo Kong dalam itinerary anda ya. Atau bila anda hanya ingin one day trip, saya sarankan untuk juga berwisata ke Lawang Sewu dan Pagoda Avalokitesvara Buddhagaya Watugong.

Duduk duduk sok manis

Serba merah

Bangunan yang paling besar

Spot ini eye-catching banget

Trip to Banyuwangi, Part 4: Snorkeling dan Berenang dengan Hiu di Bangsring dan Menikmati Alam Pantai Watu Dodol

Hari ini adalah hari keempat kami ngetrip ke tempat-tempat wisata di Banyuwangi. Mengingat kembali aktivitas trip kami sejak 3 hari lalu, kami sudah ngetrip ke Mangrove Blok Bedul, Pantai Grajagan, dan Pantai Marengan yang berada dalam kawasan Taman Nasional Alas Purwo, lalu hari berikutnya kami ke Pantai Mustika Pancer dan Pantai Pulau Merah yang merupakan pantai unik dengan pasir berwarna kemerah-merahan. Dan kemarin kami berhasil mencapai puncak Gunung Ijen untuk menangkap sunrise dan mengagumi keindahan view Kawah Ijen. Nah hari ini kami mau mengunjungi Bangsring dan Pantai Watu Dodol. 

Okee cuss kami langsung menuju ke Bangsring. Ada apa sih di area Bangsring? Di Bangsring terdapat Pantai Bangsring. Namun bukan pantainya yang jadi target trip. Snorkeling dan berenang dengan hiu-hiu adalah target trip di Bangsring. Area Bangsring juga digunakan sebagai area koservasi terumbu karang. Biasanya pengunjung kemari untuk bisa menikmati pemandangan bawah lautnya melalui aktivitas snorkeling ataupun diving. Tiket masuknya murmer hanya 5000 rupiah, sedangkan sewa life jacket dan peralatan snorkel dikenai biaya 25 ribu saja. Setelah memakai life jacket, segera menuju ke rumah apung ditengah laut dengan menaiki boat selama beberapa menit. Nah rumah apung ini adalah tempat penangkaran ikan hiu dan juga spot untuk menaruh barang-barang kita kalau mau snorkeling karena disediakan tempat khusus. Ya masak snorkeling bawa tas sih, kan ga lucu.

Pemandangan bawah laut terlihat indah dengan keragaman biotanya. Terlihat karang-karang dan banyaknya ikan yang lalu lalang. Sayangnya saya ga punya kamera waterproof #hiks, next time musti beli kamera waterproof nih biar kalau snorkeling bisa foto-foto. Puas snorkeling, saya menuju ke spot penangkaran hiunya. Hiu-hiunya berukuran tidak besar tapi ya pastinya lumayan juga kalau nggigit ya, hehe. Tapi jangan kuatir, hiu-hiu ini udah termasuk jinak dan bisa diajak berenang bareng. Beberapa remaja tampak berusaha menggenggam hiu ditangan mereka. Saya berhasil mengambil gambar seekor hiu itu sebelum cepat-cepat dilepas kembali ke penangkaran. Memegang kulit hiu rasanya deg-degan tapi senang juga berhasil ngelus-ngelus hiu, hehe. Oh ya, tahun 2014 saya juga pernah berenang dengan hiu sewaktu ngetrip ke Pulau Menjangan Besar di Karimunjawa, Jepara. Rasa deg-degan itu masih sama loh, ah hiu.. kamu emang paling bisa bikin hatiku deg-degan terus :D.

Kami berada di Bangsring sekitar 3 jam dan setelah itu melanjutkan trip ke Pantai Watu Dodol. Pantai Watu Dodol terletak sekitar 5 kilometer dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Nama Watu Dodol sendiri merujuk pada batu besar dengan tinggi 6 meter yang terletak di antara kedua ruas jalan. Selain itu di Pantai Watu Dodol ada patung yang terkenal dengan nama Patung Gandrung, patung yang memakai pakaian penari khas Banyuwangi. Kalau karakter pantainya sendiri mungkin tidak terlalu istimewa dengan pasir yang berwarna abu gelap, tapi view lautnya bagus. Pulang dari Pantai Watu Dodol, kami tak lupa beli oleh-oleh dulu, yaitu di area sekitar Taman Blambangan. Saya beli 2 bungkus Bagiak, kue khas Banyuwangi. Puas rasanya hari ini ngetrip ke Bangsring dan Pantai Watu Dodol. 

Hari berikutnya, hari Minggu, kami tidak melakukan aktivitas trip tapi beribadah di gereja temen saya yaitu GBT Bethesda Banyuwangi, lanjut ditraktir makan bakso, hehe kenyang rohani dan jasmani. Hari Senin tanggal 29 Juni kami pulang dengan kereta Sri Tanjung jam 7 pagi dari Stasiun Kalisetail Banyuwangi, sampai di Solo sekitar hampir jam 7 malam. 12 jam bo! Pantat saya sampe panas banget rasanya seperti udah mengeluarkan asap!. Dari stasiun Solo kami lanjut naik angkot sampai Kerten lalu naik bus jurusan Semarang. Puji Tuhan sampai dengan selamat :D :D. Terimakasih ya temans untuk liburan barengnya. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan selama hampir 1 minggu berada di Banyuwangi :D.

Pantai Bangsring. Terlihat rumah apung yang merupakan tempat penangkaran hiu

Narsis rame-rame :D

Pantai Watu Dodol

Taman Blambangan

Trip to Banyuwangi, Part 3: Sunrise di Puncak Gunung Ijen


Nah kali ini kami melanjutkan trip kami pada malam hari, karena mau mendaki Gunung Ijen supaya bisa mengejar sunrise. Tadi siang kami pulang awal setelah mengunjungi Pantai Mustika Pancer dan Pantai Pulau Merah karena kami mau beristirahat dulu ngumpulin energi untuk mendaki Gunung Ijen. Malam ini kami berangkat sekitar jam 10 malam menuju ke kawasan Gunung Ijen. Gunung ini adalah gunung berapi aktif yang terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Ketinggiannya 2.443 mdpl. Nah, fenomena alam yang sangat populer dari gunung ini adalah kawahnya, Kawah Ijen yang memiliki api biru. 

Perjalanan kami cukup horor, melewati area hutan yang udah pasti gelap gulita. Mobil yang kami naiki juga sebenarnya ga kuat untuk naik keatas, jadi makin horor aja karena rasa-rasanya kayak mau jatuh kebawah #horor. Untunglah ada mobil pick up lewat dan supirnya mau memberi tumpangan. Sebagian dari kami naik mobil pick up itu, terimakasih oh pak supir yang baik hati #terharu. Akhirnya kami berhasil sampai di area parkir Gunung Ijen sekitar jam 1 pagi dan mulai mendaki setelah membayar tiket masuk sebesar 5000 rupiah dan parkir mobil dikenai tarif 10 ribu rupiah. Memulai rute naik gunung ini kami berjalan disepanjang jalan setapak yang sempit dan berpasir, cukup licin. Apalagi malam-malam buta begini, waduuh.. tapi tetap semangat demi mengejar sunrise ya!! 

Anyway, ditengah perjalanan naik kami ditawari beberapa orang untuk melihat Kawah Ijen. Seperti yang saya tulis diatas, Kawah Ijen ini memiliki keunikan yaitu adanya Blue Flame atau Blue Fire atau Api Biru yang kabarnya hanya ada dua didunia, yaitu di Islandia dan di Gunung Ijen, Banyuwangi. Turis asing pun terlihat banyak yang mendaki Gunung Ijen demi bisa ke Kawah Ijen ini. Paket masuk dengan guide ke kawahnya sendiri tidak murah, kami dimintai tarif 250 ribu rupiah. Tapi karena menurut kami mahal, kami menolak tawaran itu. Sebenarnya bisa sih gratisan, alias turun sendiri ke area kawahnya tapi terlalu beresiko, lebih baik memang pakai guide sih. 

Kawah Ijen dari puncak Gunung Ijen

Selfie nya mepet kawah, hehe
Sebenarnya ga masuk ke area kawah pun kita tetap bisa melihat Blue Fire nya dari atas, cuma ya kurang jelas sih sebenarnya, tampak api berwarna biru sedang menari-nari gitu.. Okee mari kita lanjutkan saja misi sunrise ini! Kami pun berhasil mencapai puncak Gunung Ijen sekitar jam 4 pagi dan menunggu sampai sunrise muncul. Dan ketika sunrise itu muncul... wowwwww amazing!! super duper kereeen :D :D Ah puas banget akhirnya bisa mengejar sunrise di puncak Gunung Ijen. Nah dari atas puncak saya menikmati view Kawah Ijen (yang tentu saja Blue Fire nya udah ga ada karena hanya muncul saat malam). Rasanya bahagia bisa mengejar sunrise dan melihat Kawah Ijen yang spektakuler dan ngetop banget itu. Oh ya, bau sulfurnya merebak banget yaaa... jangan lupa bawa masker kalau ke Gunung Ijen, soalnya bau belerangnya kuat strong banget.

Yay! Berhasil mengejar sunrise yang super duper amazing! :D

Sunrise di tanganku..

Beberapa orang tampak membawa pikulan berisi batu belerang

Finish! :D
Sekitar jam 9 pagi kami mulai menuruni Gunung Ijen dan saya melihat beberapa orang yang memikul batu-batu berwarna kuning yang adalah batu belerang. Beberapa orang juga tampak menjual aneka suvenir yang terbuat dari batu belerang ini. Okee berakhirlah sudah trip kami di Gunung Ijen. Sangat bersyukur sekali diberi kesempatan menikmati indahnya alam dari puncak Gunung Ijen dan mengejar sunrise yang super amazing. Sungguh pengalaman yang takkan saya lupakan. Trip saya di Banyuwangi belum berakhir ya gaess, hari berikutnya kami akan ngetrip ke kawasan Bangsring yang ngetop dengan penangkaran hiu nya dan juga Pantai Watu Dodol. 

Trip to Banyuwangi, Part 2: Pantai Mustika Pancer dan Pantai Pulau Merah


Jalan-jalan ke Banyuwangi ini kami awali sejak kemarin, yaitu trip ke Mangrove Blok Bedul, Pantai Grajagan, Alas Purwo, dan Pantai Marengan. Nah pada trip hari ini kami berencana untuk mengunjungi 2 pantai yaitu Pantai Mustika Pancer dan Pantai Pulau Merah. Horeee.. yuk gaess cuss ikuti petualangan kami.

Kami berangkat pagi-pagi ke Pantai Mustika Pancer yang terletak di Desa Pancer, Kecamatan Pesanggaran. Pantai ini masih bisa dibilang sepi, dan pantainya juga bersih. Karakter pantainya beda dengan pantai yang kami kunjungi kemarin, kali ini pasirnya bersih, yes lah. Ombaknya juga besar dan menjadi view yang unik dikala kami melihat beberapa kapal sedang berlayar ditengah laut. Oh ternyata pantai ini letaknya berdekatan dengan tempat pelelangan ikan Pancer. Bisa jadi itu adalah kapal-kapal penangkap ikan. Untuk masuk ke Pantai Mustika Pancer ini tidak dipungut biaya, alias gratis. Asyik kan gaess? :D Puas-puasin untuk foto tak hanya di area berpasirnya tapi juga menjelajahi area berbatunya di sebelah kanan pantai ini. View laut dari atas bebatuan ini juga sangat menarik gaess.

Indahnya Pantai Mustika Pancer dengan view laut dan perbukitan

Jangan lupa selfie disini ya gaesss

Deretan bebatuan

Okee, setelah menghabiskan waktu sekitar 2 jam disini, kami balik ke parkiran dan bergegas ke pantai yang masih satu garis dengan Pantai Mustika Pancer yaitu Pantai Pulau Merah. Jaraknya hanya sekitar 3-4 kilometer dari Pantai Mustika Pancer, berlokasi di Desa Sumber Agung, Kecamatan Pesanggaran. Pantai ini adalah salah satu destinasi wisata yang paling terkenal di Banyuwangi. Pemerintah setempat sangat mempromosikan keberadaan pantai yang unik dengan pasirnya yang berwarna kemerah-merahan dan view Pulau Merah ditengah laut ini. Tiket masuknya hanya 5000 rupiah aja dan kamu sudah bisa menjelajahi keindahan Pantai Pulau Merah. 

Nah mengenai keberadaan pulau ditengah laut yang dinamakan Pulau Merah ini, apakah bisa dikunjungi juga? Oh tentu bisa gaess.. tapi.. ada tapinya ya.. hehe. Jangan kemari kalau pas ombak pasang karena tentu saja jalan menuju ke Pulau Merah nya tertutup ombak. Dan sayang sekali waktu kami kemari, ombak sedang pasang dan itu membuat kami mengurungkan niat untuk ke Pulau Merah #hiks. Air lautnya jernih dan karakter pasir di pantai ini luar biasa. Bersih dan berwarna agak kemerahan apalagi pada saat sunset. Itulah kenapa disebut Pantai Pulau Merah. Ombaknya sendiri cukup besar dan disarankan untuk selalu waspada ya gaess. Walaupun pemandangannya luar biasa, tapi hati-hati itu wajib hukumnya.

Oh ya, Pantai Pulau Merah juga merupakan salah satu spot surfing di Banyuwangi, bahkan pernah dijadikan lokasi sebuah kompetisi surfing internasional pada tahun 2013. Pantai ini memiliki banyak pepohonan kelapa dan warung-warung yang menjajakan makanan pun semuanya menyediakan minuman kelapa. Kawasan ini ramai, beda dengan Pantai Mustika Pancer. Wajar karena pantai ini namanya memang sangat populer. Apalagi kamu juga bisa menyewa tempat duduk untuk bersantai di pantai dengan harga murah meriah.

Kerennya view Pulau Merah ditengah laut

Spot duduk-duduk yang bisa kamu sewa
Selepas dari pantai ini, kami langsung balik ke rumah mertua teman saya karena mau langsung istirahat sebelum melanjutkan trip kami nanti malam ke Gunung Ijen

Comments

Featured Travel Note

A Trip to Hong Kong Disneyland, A Dream That Comes True

Catatan Mancanegara