Rekreasi Sambil Mengenal Keragaman Budaya di Taman Mini Indonesia Indah

Tak terasa hari ini hari terakhir saya stay di Jakarta. Besok sore saya harus udah ada di Stasiun Pasar Senen untuk pulang ke Semarang. 2 hari yang lalu saya ngetrip ke beberapa destinasi di Jakarta yaitu Monas, Museum Nasional RI, dan Kebun Binatang Ragunan. Tanpa menyia-nyiakan waktu lagi, hari ini saya mau mewujudkan satu lagi keinginan ngetrip saya di Jakarta, yaitu ke Taman Mini Indonesia Indah yang terletak di Jakarta Timur. TMII ini adalah tempat rekreasi budaya yang memiliki area sangat luas, sekitar 1,5 kilometer persegi dan saya sengaja mengalokasikan satu hari full ini untuk TMII. Saya udah membayangkan pasti untuk keliling-kelilingnya sendiri ke banyak anjungan propinsi, aneka museum, aneka rumah ibadah, dan lain sebagainya itu butuh waktu banyak. 

Saya berangkat jam 7 pagi naik angkot M17 dari rumah teman saya di Kebagusan, Jakarta Selatan menuju ke Terminal Pasar Minggu dulu, lalu ganti naik angkot S15A jurusan TMII. Bayar angkotnya murah sih cuman 6000 rupiah aja, padahal jaraknya jauh juga dari JakSel ke Jaktim. Saya masuk TMII lewat pintu masuk 2 dan membayar tiket sebesar 10 ribu rupiah. Kebetulan ada mobil keliling TMII yang lagi mau on the go lagi, ya saya langsung naik aja, hehe murah cuma 5000, dianter sampe depan Teater Keong Emas. 

Dari sini saya mulai jalan kaki aja mengeksplor aneka anjungan propinsi di Indonesia, isi tiap anjungannya ada rumah adat, pakaian adat, patung-patung khas dari propinsi yang bersangkutan, senjata khas, aneka perabot, dll. Kadang-kadang ada anjungan yang sedang mengadakan acara, misal acara musik. Waktu itu saya masuk anjungan Sumatra Barat dan didepan salah satu rumah Gadang, ada sekelompok orang sedang memainkan musik tradisional khas Sumatra Barat, wow kereeen. Selain itu saya juga berjalan melewati beberapa museum seperti Museum Perangko, Museum Listrik dan Energi Baru, Museum Komodo dan Taman Reptil, Museum Minyak dan Gas Bumi, Museum Keprajuritan Indonesia, dll. Saya ga masuk ke semua museum itu karena pasti waktu saya ga bakalan cukup. Masih banyak yang musti di explore, gan! :D


Ga cuma anjungan propinsi-propinsi dan museum ya, temans... Tapi ada juga danau dan aneka taman seperti Taman Burung, Taman Budaya Tionghoa, Taman Bekisar, dll, serta sejumlah rumah ibadah dan banyak sarana rekreasi. Salah satu sarana rekreasi yang paling ngetop adalah Istana Anak-anak Indonesia. Untuk suvenir disini ada banyak toko suvenir, jadi bisa dipilih mana-mana aja yang mau dibeli buat oleh-oleh. Oh ya, di TMII ini bisa naik kereta atau kereta gantung juga sih, cuma duit saya cekak, jadi kelilingnya ya pake mobil keliling itu aja, udah cukup, hehe. Puas jalan kaki keliling TMII, saya keluar lewat pintu yang deket dengan pintu masuk 2 tadi, lalu ke pertigaan dan naik angkot S15A. Sesuai info rute yang saya dapet dari temen saya, saya pun kemudian turun di depan Masjid Jatipadang. Nah dari sini saya lanjut naik angkot M17 dan pulang ke rumah temen saya, jeung Restu di Kebagusan.

Salah satu rumah adat di TMII

Info tambahan: Saya pulang ke Semarang melalui stasiun Pasar Senen di Jakarta Pusat. Rute saya yaitu setelah turun di Terminal Pasar Minggu dengan angkot M17, saya jalan ke Stasiun Pasar Minggu depan Robinson, lalu beli tiket KRL Commuter Line. Tiket KRL seharga 8000 yang saya beli adalah untuk menuju Stasiun Pasar Senen (5000 rupiahnya dibalikin kalo udah sampe Pasar Senen). Tapi jangan dibayangin bakalan sesimpel itu dari Pasar Minggu ke Pasar Senen. Untuk menuju Stasiun Pasar Senen, saya naik KRL jurusan Jakarta Kota dulu dan turun di Stasiun Manggarai, lalu transit dengan KRL jurusan Bekasi dan turun di Stasiun Jatinegara. Dari Stasiun Jatinegara ini saya transit KRL jurusan Bogor dan baru deh turun di Stasiun Pasar Senen. Kenapa begitu? Karena KRL yang menuju Pasar Senen hanya KRL yang berangkat dari Stasiun Jatinegara. Saya sampe donlot dulu map KRL nya biar ga salah naik kereta, hehe. Dan pergerakan KRL ini menurut saya sih slow, mana nunggunya sampe muncul juga lama. Total waktu yang saya butuhkan dari Pasar Minggu sampai Pasar Senen adalah 3 jam. Untung kereta saya jam 4 sore, dan saya udah pamitan sama temen saya dari jam 10 pagi. Gile aja, nunggu KRL nya lama bener. Wasting time banget. Mudah-mudahan proyek pemerintah DKI bikin MRT bisa segera selesai. Amin.

Alasan Kenapa Piknik ke Ragunan Zoo Itu Asyik


Perjalanan ngetrip hari ini masih berlanjut gaesss, setelah sebelumnya saya ke Monas dan Museum Nasional Republik Indonesia, kini giliran Kebun Binatang Ragunan yang saya kunjungi. Dari halte busway didepan Museum Nasional RI, saya naik bus kopaja jurusan Monas-Ragunan dengan tarif 6000 saja dan turun persis didepan kebun binatang ini. Lokasinya memang strategis, tepat didepan Terminal Ragunan. Tiket masuk bonbin saya tebus murah meriah, hanya 4500 aja. Tiketnya bagus, kece kayak kartu ATM, tapi sayangnya ga boleh dibawa pulang, musti dikasihkan ke petugas cek tiket di pintu masuk #hiks.

Tiket masuknya bagus, kayak kartu ATM
Nah berhubung tahun lalu saya ngetrip ke bonbin yang super duper gede di Jatim Park 2 yaitu Batu Secret Zoo, mengunjungi bonbin Ragunan ini jadi berasa biasa-biasa aja, hehe #NoOffense. Tapi bonbin ini menyenangkan untuk tempat piknik. Ragunan Zoo memiliki area yang luas dengan banyak koleksi spesies, ada sekitar hampir 300 spesies satwa. Kerennya, bonbin ini ternyata adalah bonbin pertama di Indonesia, dibangun taun 1864. Nah disini kamu ga hanya bisa melihat aneka koleksi satwa, tapi juga bisa keliling area bonbin dengan menyewa sepeda. Kalau pengen jalan kaki kemana-mana juga sejuk-sejuk aja kok, karena area ini banyak tanaman dan pepohonannya, bahkan terdapat juga eco forest atau hutan wisata. Fasilitasnya juga oke lah mencakup ATM service, toilet, mushola, dan kantin. Biasanya yang suka kesini tuh keluarga yang punya anak-anak kecil, hehe.. soalnya saya liat dimana-mana rombongan keluarga yang anak-anaknya happy banget liat aneka satwa, nunjuk-nunjuk hewan dan nanya-nanya mama papanya: "itu apa? itu apa?" :D. Jadi bonbin Ragunan sangat oke untuk wisata edukasi sekaligus tempat rekreasi dan piknik keluarga. 

Salah satu penunjuk arah
Anyway, saya menghabiskan waktu sekitar 2 jam saja disini, sekaligus duduk-duduk melepas lelah sebelum balik pulang ke rumah teman saya. Saya mengambil rute pulang lewat pintu timur Ragunan Zoo, nyebrang lalu naik angkot M17 dan berhenti tepat didepan rumah teman saya. Nah itulah 3 destinasi ngetrip saya hari ini: Monas, Museum Nasional RI, dan Ragunan Zoo. Next saya masih ada 1 destinasi lagi di Jakarta yaitu Taman Mini Indonesia Indah yang berlokasi di Jakarta Timur.

Memotret singa

Dinding relief

Dilarang Foto di Lantai 4 Museum Nasional Republik Indonesia Jakarta


Selama stay di Jakarta beberapa hari ini saya menargetkan ngetrip ke beberapa destinasi wisata populer. Seabis dari Monas pagi-pagi, saya melanjutkan jalan ke Museum Nasional Republik Indonesia. Museum ini populer disebut Museum Gajah karena adanya monumen gajah yang ditaruh didepan pintu masuk museum. Asal tau aja ye, museum ini adalah museum arkeologi pertama dan terbesar di Asia Tenggara loh. Letaknya berseberangan dengan area Monas, jadi sangat saya sarankan untuk berwisata ke Museum Gajah, apalagi tiketnya murah meriah banget cuma 5000 aja. 

Bunderan hitam didepan museum
Tamannya pun dipenuhi aneka arca


Beberapa koleksi arca kuno
Nah museum ini memiliki 4 lantai full of benda-benda arkeologi dan bersejarah. Koleksinya mantap banget seputar history Indonesia. Untuk mengeksplore keempat lantai ini ga usah takut capek naik tangga karena udah disediakan lift dan tangga eskalator. Satu hal yang saya "sedihkan" adalah tripod ga boleh dibawa masuk, jadi dititipin di tempat penitipan museum. Untunglah saya bawa tongsis jadi paling ga masih bisa foto selfie di museum ini, hehe.

Ga boleh memotret koleksi di Ruang Emas lantai 4
Kalau kamu penggemar sejarah dan apapun yang serba kuno apalagi prehistoric stuff, kamu pasti bakalan hepi explore Museum Gajah. Pasalnya museum ini memamerkan banyak arca, prasasti, benda-benda etnografi, barang-barang kerajinan, perunggu dan masih banyak lagi. Tiap lantai di museum ini memiliki kategorinya masing-masing dan benda-benda yang dipamerkan boleh difoto oleh pengunjung. Tapi ada satu lantai dimana pengunjung ga boleh mengambil foto, yaitu Ruang Emas di lantai 4, dimana terdapat banyak sekali koleksi benda-benda yang terbuat dari emas. Hmm, ya wajar sih kalau ga boleh foto-foto di area ini.  

Arca Bhirawa, arca unik yang rada "horor"
Okee ada satu patung yang sangat menarik perhatian saya, yaitu arca Bhairawa. Unik karena patung tertinggi di museum ini memiliki pose sedang berdiri diatas beberapa tengkorak sambil memegang cangkir yang juga terbuat dari tengkorak. Entah kenapa saya selalu suka melihat koleksi arca kuno dari jaman kerajaan kuno di Indonesia, bahkan di Museum Ranggawarsita Semarang saya juga paling suka ketika mengeksplor koleksi arcanya. By the way, saya menghabiskan waktu sekitar 2 jam di Museum Nasional Indonesia dan setelah mengambil tripod saya di tempat penitipan, saya segera menuju ke halte busway untuk melanjutkan agenda trip saya berikutnya yaitu explore Kebun Binatang Ragunan di Jakarta Selatan.

Jalan-jalan ke Monas dan Asyiknya Naik City Tour Bus

Hiyaa, setelah ngetrip ke Singapore, serta Malacca dan Kuala Lumpur di Malaysia, saya mendaratkan diri saya di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Kenapa ga langsung ke Semarang? yaa karena saya pengen banget jalan-jalan ke beberapa tempat wisata di Jakarta. Kebetulan saya ada seorang teman di daerah Kebagusan, Jakarta Selatan, jeung Restu namanya. Jeung satu ini baik banget mau "menampung" saya di rumahnya, hehehe. Makasih ya jeung, kebaikanmu takkan pernah kulupakan.. Anyway, tanggal 4 Februari 2015 saya naik bus Damri dari bandara ke Pasar Minggu lalu lanjut naik angkot M17 jurusan Pasar Minggu - Lenteng Agung (wow LA, bo!) dan turun didepan rumah teman saya yang kebetulan letaknya strategis di pinggir jalan, hehe. Jeung Restu pun menyambut saya dengan perutnya yang udah besar, jeung satu ini memang sedang hamil 5 bulan. Kami pun kangen-kangenan dulu berasa reuni mini soalnya Restu teman SMA saya dan entah udah berapa tahun kami ga ketemu. Dan..akibat kecapekan, tiba saatnya tanpa basa-basi.. langsung aja saya in action bersih-bersih dan cuci baju-baju kotor selama ngetrip di Singapore dan Malaysia. Maaaap jeung, saya nyucinya terlalu semangat ampe beberapa ember, huaaa..

Fast forward ke keesokan paginya, saya sengaja bangun pagi-pagi saking semangatnya pingin lihat.. Monas! Hahaha.. ya ya ya saya tau tempat wisata ini kayaknya emang udah super umum banget yah di kuping. Tapi apalah daya saya yang dari Jowo ini belum pernah kesini jadi ya hasrat nomer satu saya hari ini udah pasti ke landmark nya Jakarta yang tinggi menjulang ngetop populer bernama Monas. Dari rumah jeung Restu saya naik angkot M17 sampai di jalur busway deket Kementrian Pertanian, bareng jeung Restu soalnya mau diajak makan soto dulu di depan kantornya, asyik asyik yummy yummy.. soto Jakarta emang beda sama soto di kota saya, Ungaran, tapi rasanya tetep enak. Pokoknya soto is the best lah, dimanapun lokasinya tetep enak! Hidup soto! :D

Okee, berhubung jeung Restu musti kerja, saya dilepasnya di rimba Jakarta raya inih.. ini pertama kalinya saya bakalan explore Jakarta sendirian, tanpa teman, sebatang kara..apalagi sodara sepupu saya sempet bilang kalo di Jakarta kudu extra hati-hati karena banyak orang jahatnya. Yaelah, orang jahat mah dimana-mana ada, yang penting kan niat saya baik, cuma pengen ngetrip syalala.. Cuss deh saya naik bus kopaja jurusan Ragunan - Monas. Murah lah 6000 udah bisa sampai Monas. Perjalanan melewati hiruk pikuknya kota Jakarta saya nikmati, entah kenapa saya cukup menikmati nuansa Jakarta pagi itu, mungkin karena saking hepinya mau ketemu si Monas #eh. Dengan semangat saya bilang ke keneknya untuk ngasi tau saya kalau udah sampai Monas. Dan sang kenek yang baik hati pun memberi tau saya kalau udah sampai Monas. Monas ini terletak tepat ditengah lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Begitu turun dari bus, tiba-tiba mata ini menjatuhkan pandangan pada bis kece warna biru yang aduhai itu.. itukah.. bis City Tour? Saya tau bus ini dari internet dan katanya sih gratis. Karena posisinya masih di halte saya pun langsung naik aja ke bus City Tour ini. Oh nyamannya.. sejuk adem luas dan bertingkat, so saya bisa pilih mau duduk diatas atau dibawah. Karena saya selalu merasa nyaman duduk dekat pintu ya saya pilih duduk dibawah aja deh. Perjalanan City Tour ini gratis dan kita akan dibawa berkeliling ke sebagian Jakarta Pusat. Not bad, not bad. 

Setelah tur selama kurang lebih 1 jam, fokus saya pun balik lagi ke si Monas. Hiyaaa ayoo tanpa menunggu lebih lama lagi mari ke Monas! Saya turun di halte bus City Tour tepat didepan Monas dan segera masuk ke area pelataran Monas. Wowww,, akhirnya.. saya bisa melihat Monas yang tinggi menjulang ituh. Monumen Nasional atau yang biasa disingkat Monas ini adalah sebuah monumen peringatan untuk mengenang jasa para pahlawan yang gugur dalam merebut kemerdekaan dari Belanda. Sama seperti Tugu Pahlawan di Surabaya yang juga dibangun untuk mengenang jasa para pahlawan yang gugur dalam perang. Tugu Monas yang dibuka untuk umum sejak tahun 1975 ini memiliki "mahkota" lidah api yang dilapisi emas. Buka dari jam 8 pagi sampai 3 sore setiap hari. 

Nah kebetulan saya memang ga ada keinginan masuk kedalam Tugu Monas dan naik hingga puncak seperti yang dilakukan kebanyakan orang kalau datang ke Monas. Saya simply cuma pengen narsis didepan Monas dan mengabadikan momen keberhasilan saya selfie di Monas #lebay. Oh iya, berhubung saya pergi sendirian jadi selain tongsis saya juga udah ready dengan tripod, hehehe ini trik saya kalau pergi sendirian #hiks. Area pelatarannya bersih dan ada taman-taman beserta pepohonan, lumayan buat ngadem sejenak. Next, perjalanan ngetrip saya lanjut ke sebuah gedung yang berada di seberang Monas, yaitu Museum Nasional RI atau yang populer disebut Museum Gajah. 

Hunting Foto di Batu Caves dan Petronas Twin Towers Kuala Lumpur


Setelah trip to Singapore, kami melanjutkan trip ke 2 kota di Malaysia, yaitu Malacca dan Kuala Lumpur. Tanggal 3 Februari 2015, kami berangkat dari terminal Melaka Sentral, Malacca dengan bus Transnational Ekspres jam 10 pagi, sampai di terminal Bersepadu Selatan, Kuala Lumpur sekitar jam 1 siang. Kami membeli tiket MRT (manual, cuz mesin nya out of order) untuk menuju ke KL Sentral dari stasiun Bandar Tasek Selatan yang ada dibawah terminal Bersepadu Selatan ini. Jika merunut dari peta MRT dan LRT (RapidKL) Kuala Lumpur, KL Sentral itu ada di tengah-tengah jalur RapidKL jurusan Kelana Jaya-Gombak. Sampai di KL Sentral, saya menitipkan tas backpack dan segenap barang bawaan saya di tempat penyewaan loker dengan tarif sebesar RM10. Dititipin dulu biar jalan-jalannya lebih enteng cuma bawa sling bag aja. Memang kami sengaja tidak mencari alamat hostel dulu di area Chinatown supaya hemat waktu. So, setelah tas dititipin, saya membeli tiket return trip (PP) ke Batu Caves seharga RM4 aja. Dari KL Sentral ini kami turun ke platform 3 dan naik kereta RapidKL ke Batu Caves di Gombak, Selangor. 

KL Sentral

Prihatin sih... :D
Perjalanan nyaman banget dengan kereta, asyik aja ada kereta langsung ke Batu Caves. Sesampainya di Batu Caves, saya rada surprise karena ternyata pas ada festival Thaipusam 2015. Orang-orang India tumpah ruah, ramaiii banget pokoknya. Makin keren aja buat poto-poto, berasa lagi di India, hehe. Oh ya, namanya aja "caves" ya, jadi ada beberapa cave/gua disini. Hanya aja karena ga banyak waktu, kita hanya poto-poto di dalam Ramayana Cave dan didepannya patung Lord Murugan, patung dewa Hindu tertinggi. Asiknya, pas masuk Ramayana Cave ditanyain sama yang jaga: "Orang mana?" Kita jawab "Indonesia" eh langsung disuruh masuk gitu aja, gratis, padahal harusnya bayar RM5, hihi lumayaaan. Sesuai namanya, Ramayana Cave ini berisi diorama kisah Ramayana. Sebelum memasuki kawasan Ramayana Cave, ada patung Hanuman setinggi 50 meter dan sebuah temple yang didedikasikan untuk Hanuman. Cuaca di Batu Caves sendiri panas luar biasa, bener-bener hot hot hot.. Tapi mau pake payung maless, hahaha. Disini banyak penjual makanan India, bau rempahnya nyegrak banget. Oh ya, kemarin saya makan nasi ayam di sebuah resto India dan ternyata perut saya ga kuwat gaesss... pagi tadi perut saya muless hahaha ke toilet terus daaah.

Lord Murugan Statue

Hanuman Statue

Memasuki Ramayana Cave

Salah satu diorama kisah Ramayana

Guanya bling bling
Disini saya tidak membeli suvenir apapun karena kami berniat beli suvenir dideket hostel aja, di sekitaran Chinatown. Dari Batu Caves kami balik lagi ke KL Sentral dan membeli tiket RapidKL menuju ke Suria KLCC. Kami pengen foto-foto dengan background Petronas Twin Towers. Suria KLCC ini mall terbesar di Kuala Lumpur dan Petronas Twin Towers itu tepat berada dibelakangnya mall ini. Berhubung melapar dari pagi belum makan, kita ke KFC di mall ini dulu, ya ampun murah banget roti burger RM5 gede ukurannya dan dagingnya tebell.. duh seandainya aja KFC Indo bisa se-"baik hati" itu.. Oya, dikarnakan peristiwa perut mules dipagi hari gara-gara makan nasi ayam rempah di Malaka, saya jadi rada parno makan makanan asli Malaysia. Mending KFC or McDonalds aja deh, aman. Haha. Abis makan, niatnya mau langsung poto-poto di depan menara kembar Petronas tapi ternyata susah juga dapat angle yang yes biar menara nya keliatan semua dari atas sampai bawah. Baru sekarang saya percaya bahwa bangunan ini memang tinggi banget, hehe. Walhasil kami nyari-nyari spot dulu biar rada jauhan gitu, dan akhirnya berhasil juga mengabadikan poto "utuh" Petronas Twin Towers. Hati pun senang ^^.

Suria KLCC, mall terbesar di Kuala Lumpur

Petronas Twin Towers
Berhubung udah menjelang sore, kami balik lagi ke KL Sentral untuk mengambil tas saya di loker dan segera mencari alamat hostel di area Chinatown. Hostel kita namanya Eclipse Hostel. Khusus backpacker dan murmer banget, cuma RM20 (kira-kira 70 ribu rupiah). Ah ya, wifi di Spore dan Malaysia kenceng banget #Senang, asik lah buat aplot-aplot poto-poto narsis dalam sekejap ^^. Setelah check-in, kami istirahat sebentar lalu melanjutkan explore dideket hostel aja disekitaran jalan Petaling, sekalian beli suvenir buat oleh-oleh. 

Petaling Street, rame banget kalau malem
Ah akhirnya tiba saatnya kami harus mengakhiri trip to Malaysia ini. Pagi sekitar jam 6 pagi kami check-out dan bergegas jalan kaki ke arah stasiun Masjid Jamek karna temen saya niat banget pengen selfie dulu di depan Kuala Lumpur City Gallery (yang ada I Love KL nya itu), tapi akhirnya saya pun ikutan narsis sejenak disitu. Dari stasiun Masjid Jamek kami ke KL Sentral lalu turun ke platform khusus bus yang menuju bandara KLIA2 (pesawat2 low cost nangkringnya di KLIA2). Tarifnya murmer hanya RM10 dan bus pun melaju selama kurang lebih 1 jam menuju ke bandara. Sampai di bandara, lagi-lagi makan di KFC yang murmer lagiii. Setelah check-in di konter pesawat Lion Air dan proses imigrasi, voilaaa... terbanglah kami ke Jakarta. Temen saya terusan pulang ke Semarang sedangkan saya stay selama beberapa hari di rumah seorang kawan di Jl. Kebagusan, Jakarta Selatan. Saya berencana jalan-jalan dan mengeksplor beberapa tempat wisata di Jakarta. Okee deh, cusss kepoin catatan jalan-jalan di Jakarta ya.. :D

Pagi-pagi buta udah narsis di KLCC

Lepasin akyuuu... :D

Cetarnya Deretan Bangunan Merah di Malacca Malaysia


Setelah short trip di Singapore, kami naik bus Starmart Express menuju ke Malacca, Malaysia. Sampai di terminal Melaka Sentral jam 5 sore. Masih terang benderang, di Singapore dan Malaysia ini bahkan jam 7 malem aja masih terang, hehe. Tak lupa saya membeli tiket bus ke Kuala Lumpur untuk jadwal keesokan harinya, karena kami takut keabisan kalo belinya pas hari H. Kami melanjutkan perjalanan ke pusat kota Malacca dengan naik bus Panorama no.17 dan berhenti di halte Bangunan Merah. Halte ini masuk area Red Square, dan disana banyak terdapat deretan bangunan warna merah peninggalan jaman Belanda yang pernah berkuasa di daerah Malacca. Btw, Malacca ini dulunya secara bergantian dikuasai Portugis, Inggris, dan Belanda. 

Kami gak langsung mencari alamat hostel di area Jalan Kota Laksamana, tapi selfie dulu di area Red Square ini mumpung masih terang. Yang paling terkenal adalah Stadthuys. Bangunan ini dibangun sekitar tahun 1650an dan pada masa itu dijadikan sebagai kantor gubernur Belanda. Selain itu, disini saya juga narsis dulu di beberapa spot seperti Christ Church Melaka, Melaka Art Gallery, Malaysia Youth Museum, Tang Beng Swee Clock Tower, Melaka River, Casa del Rio, Queen Victoria's Fountain, Kincir Angin, dan Malacca Sultanate Watermill. Di depan Stadthuys, saya membeli suvenir gantungan kunci yang murah meriah. Senang akhirnya bisa beli suvenir murah buat oleh-oleh, hehe di Singapore suvenirnya cukup mehong. Menjelang malam, kami mencari tempat makan yang murah. Sayangnya saya lupa nama restonya apa, yang jual orang India. Malam itu kami makan nasi ayam dan teh susu. Menu yang saya makan ini strong banget rempah-rempahnya, dan sangat pedas.   

Stadthuys

Malacca Sultanate Watermill

Christ Church Melaka

Queen Victoria's Fountain

Tang Beng Swee Clock Tower

Kincir Angin di area Red Square

Kenyang makan dan istirahat sejenak, kami jalan kaki mencari alamat hostel dengan menyusuri Jonker Street yang merupakan pusat night life nya kota Malacca, menuju ke arah jalan Kota Laksamana dan sampailah kami di The Cardamom Hostel. Hostel ini homey banget, berasa dirumah sendiri. Nyaman lah pokoknya, harganya juga murah, waktu booking onlen saya dapat harga sekitar 70 ribuan rupiah aja per malamnya. 

Nasi ayam dan teh susu. Strong banget rempahnya

Penjimatan? :D :D
Paginya kami check-out dan poto-poto lagi dalam perjalanan jalan kaki menuju halte Bangunan Merah. Dari halte ini, kami naik bus Panorama untuk menuju ke terminal Melaka Sentral. Kami gak langsung menuju terminal sih, bisnya muter dulu mengelilingi kota Malacca selama kurang lebih 1 jam. Asyik juga sih melihat kota Malacca selama 1 jam dari dalam bus. Untung kami udah check-out dari pagi hari jadi mau keliling keliling juga ga papa, itung-itung tur murmer karena naik bus ini cuma RM2 jauh deket, hehe. Selama perjalanan dengan bus ini saya memotret beberapa tulisan-tulisan lucu (udah sejak di Singapore saya demen sekali memotret kata-kata Melayu yang lucu-lucu, hihi). Setelah sampai di terminal Melaka Sentral, kami naik bus Transnational Ekspres menuju ke Kuala Lumpur, Malaysia.

Jalan-jalan ke Singapore ala Backpacker


Akhirnya kesampaian juga jalan-jalan ala backpacker ke Singapore, Malacca, dan Kuala Lumpur. Namanya aja backpacker, itu artinya: booking tiket pesawat (baca: tiket promo) sendiri, booking hostel murah sendiri, bikin rute jalan-jalan sendiri, cari-cari rute terus bingung sendiri, nyari-nyari wifi gretongan, sebisanya dan sebanyak-banyaknya jalan kaki, naik MRT, LRT, KRL Commuter Line, dan segenap keunikan backpacker lainnya. Haha, yang penting hemat dan irit. Dan emang beneran irit kok. Trips saya ke Singapore, Malacca, dan Kuala Lumpur ini cuma menghabiskan total ga sampai 2 juta rupiah, hahahayy. Ga kebayang deh kalau pake travel agent bakal abis berapa duit tuh ^^. 

Wokeeh saya mulai dari Singapore dulu ya, postingan ini khusus trip saya ke Singapore sahaja. Berangkat dari Bandara Ahmad Yani Semarang tanggal 1 Februari 2015 dengan pesawat Air Asia jam 4 sore, sampai Singapore udah jam 7 malam waktu setempat. Begitu sampai Bandara Changi, saya dan teman saya bener-bener bingung ga tau musti mulai dari mana, lol. Apalagi kami terheran-heran melihat bandara kece seperti Bandara Changi *ndeso mode*. Untunglah bertebaran papan-papan penunjuk jalan yang mudah dipahami, dan kami belajar mengenali rute MRT lalu beli tiket di vending machine untuk menuju ke stasiun Clarke Quay. Sesampainya di stasiun Clarke Quay, kami nyari-nyari alamat hostel kami di area South Bridge Road. Berhubung rada bingung, kami minta tolong sama orang Singapore yang kami temuin di jalan, hehe, satu keluarga yang baik hati memberitahu arah kepada kami dan akhirnya sampailah kami di Wokehome Capsule Hostel. Begitu check-in di hostel ini, tanpa ba bi bu kami langsung tepar dengan manis, oh kasur oh bantal.

Paginya kami jalan kaki dan selfie di area Merlion Park, Esplanade, Fullerton Road, Chinatown, Marina Bay, Sri Mariamman Temple, Buddha Tooth Relic Temple, dan lain-lain. Pokoknya ambil foto sebanyak-banyaknya, hihi. Tentu saja yang paling berkesan adalah ketika saya foto di depan patung Merlion yang selalu hits itu, maklum landmark nya Singapore :D. Untung masih pagi-pagi banget jadi belum ada orang di sekitaran patung Merlion, puas foto dan jelajah bahagia :D. Selain Merlion, ada satu spot narsis lagi yang wajib kami kunjungi yaitu globe Universal Studios di Sentosa Island

Penunjuk jalannya dalam aneka bahasa

Landmark nya Singapore yang paling populer

Marina Bay Sands

Buddha Tooth Relic Temple
Sri Mariamman Temple
Nah untuk menuju ke Sentosa Island, kami naik MRT ke stasiun Harbourfront dan masuk ke Vivo City Mall. Dari mall terbesar di Singapore ini kami berjalan kaki ke Sentosa Island. Kenapa jalan kaki? Bisa sih naik LRT, tapi mahal buat kantong kami, hehehe, dari lantai 3 Vivo City tarifnya 4 dollar, bo! Eman-eman. Buat kami, mendingan jalan kaki ceria di jalur yang jaraknya hanya sekitar 600 meteran saja. Sampai di Sentosa Island, kami langsung bernarsis ceria di depan globe nya Universal Studios. Kami memutuskan untuk tidak masuk ke dalam Universal Studios karena dua hal: yang pertama tentu saja karena dana kami ga ada (kira-kira 70 dollar), dan yang kedua karena waktunya yang ga ada, karena kami juga harus mengejar waktu naik bus ke Malacca, Malaysia. Kapan-kapan aja deh kalau ke Singapore lagi pasti saya usahakan ke Universal Studios, hehe. 

Puas berselfie ria, kami langsung cepet-cepet balik ke hostel, check-out dan bergegas ke area North Bridge Road, tepatnya di Golden Mile Complex untuk membeli tiket bus ke Malacca, Malaysia seharga 20 dollar/orang. Kami membeli tiket untuk keberangkatan jam 1 siang dengan bus StarMart Express. Bus nya bertingkat, keren dan nyaman. Perjalanan 4 jam menuju ke Malacca bakalan ga kerasa nih, okee deh cuss kita ke Malacca, Malaysia :D. 

Jalan kaki aja ke Sentosa Island biar sehat #eh 

Sepanjang jalan disuguhi pemandangan kece kece

Asyiknya jalan kaki itu karena bisa sekalian narsis di banyak sudut

Sampailah kita...

Jalan menuju ke Universal Studios #GlobeAja :D

Spot wajib buat yang baru pertama kali ke Sentosa Island

Yuk mari kita naik bus StarMart Express ke Malacca, Malaysia! :D

Comments

Featured Travel Note

A Trip to Hong Kong Disneyland, A Dream That Comes True

Catatan Mancanegara