Trip to Banyuwangi, Part 4: Snorkeling dan Berenang dengan Hiu di Bangsring dan Menikmati Alam Pantai Watu Dodol

Hari ini adalah hari keempat kami ngetrip ke tempat-tempat wisata di Banyuwangi. Mengingat kembali aktivitas trip kami sejak 3 hari lalu, kami sudah ngetrip ke Mangrove Blok Bedul, Pantai Grajagan, dan Pantai Marengan yang berada dalam kawasan Taman Nasional Alas Purwo, lalu hari berikutnya kami ke Pantai Mustika Pancer dan Pantai Pulau Merah yang merupakan pantai unik dengan pasir berwarna kemerah-merahan. Dan kemarin kami berhasil mencapai puncak Gunung Ijen untuk menangkap sunrise dan mengagumi keindahan view Kawah Ijen. Nah hari ini kami mau mengunjungi Bangsring dan Pantai Watu Dodol. 

Okee cuss kami langsung menuju ke Bangsring. Ada apa sih di area Bangsring? Di Bangsring terdapat Pantai Bangsring. Namun bukan pantainya yang jadi target trip. Snorkeling dan berenang dengan hiu-hiu adalah target trip di Bangsring. Area Bangsring juga digunakan sebagai area koservasi terumbu karang. Biasanya pengunjung kemari untuk bisa menikmati pemandangan bawah lautnya melalui aktivitas snorkeling ataupun diving. Tiket masuknya murmer hanya 5000 rupiah, sedangkan sewa life jacket dan peralatan snorkel dikenai biaya 25 ribu saja. Setelah memakai life jacket, segera menuju ke rumah apung ditengah laut dengan menaiki boat selama beberapa menit. Nah rumah apung ini adalah tempat penangkaran ikan hiu dan juga spot untuk menaruh barang-barang kita kalau mau snorkeling karena disediakan tempat khusus. Ya masak snorkeling bawa tas sih, kan ga lucu.

Pemandangan bawah laut terlihat indah dengan keragaman biotanya. Terlihat karang-karang dan banyaknya ikan yang lalu lalang. Sayangnya saya ga punya kamera waterproof #hiks, next time musti beli kamera waterproof nih biar kalau snorkeling bisa foto-foto. Puas snorkeling, saya menuju ke spot penangkaran hiunya. Hiu-hiunya berukuran tidak besar tapi ya pastinya lumayan juga kalau nggigit ya, hehe. Tapi jangan kuatir, hiu-hiu ini udah termasuk jinak dan bisa diajak berenang bareng. Beberapa remaja tampak berusaha menggenggam hiu ditangan mereka. Saya berhasil mengambil gambar seekor hiu itu sebelum cepat-cepat dilepas kembali ke penangkaran. Memegang kulit hiu rasanya deg-degan tapi senang juga berhasil ngelus-ngelus hiu, hehe. Oh ya, tahun 2014 saya juga pernah berenang dengan hiu sewaktu ngetrip ke Pulau Menjangan Besar di Karimunjawa, Jepara. Rasa deg-degan itu masih sama loh, ah hiu.. kamu emang paling bisa bikin hatiku deg-degan terus :D.

Kami berada di Bangsring sekitar 3 jam dan setelah itu melanjutkan trip ke Pantai Watu Dodol. Pantai Watu Dodol terletak sekitar 5 kilometer dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Nama Watu Dodol sendiri merujuk pada batu besar dengan tinggi 6 meter yang terletak di antara kedua ruas jalan. Selain itu di Pantai Watu Dodol ada patung yang terkenal dengan nama Patung Gandrung, patung yang memakai pakaian penari khas Banyuwangi. Kalau karakter pantainya sendiri mungkin tidak terlalu istimewa dengan pasir yang berwarna abu gelap, tapi view lautnya bagus. Pulang dari Pantai Watu Dodol, kami tak lupa beli oleh-oleh dulu, yaitu di area sekitar Taman Blambangan. Saya beli 2 bungkus Bagiak, kue khas Banyuwangi. Puas rasanya hari ini ngetrip ke Bangsring dan Pantai Watu Dodol. 

Hari berikutnya, hari Minggu, kami tidak melakukan aktivitas trip tapi beribadah di gereja temen saya yaitu GBT Bethesda Banyuwangi, lanjut ditraktir makan bakso, hehe kenyang rohani dan jasmani. Hari Senin tanggal 29 Juni kami pulang dengan kereta Sri Tanjung jam 7 pagi dari Stasiun Kalisetail Banyuwangi, sampai di Solo sekitar hampir jam 7 malam. 12 jam bo! Pantat saya sampe panas banget rasanya seperti udah mengeluarkan asap!. Dari stasiun Solo kami lanjut naik angkot sampai Kerten lalu naik bus jurusan Semarang. Puji Tuhan sampai dengan selamat :D :D. Terimakasih ya temans untuk liburan barengnya. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan selama hampir 1 minggu berada di Banyuwangi :D.

Pantai Bangsring. Terlihat rumah apung yang merupakan tempat penangkaran hiu

Narsis rame-rame :D

Pantai Watu Dodol

Taman Blambangan

Trip to Banyuwangi, Part 3: Sunrise di Puncak Gunung Ijen


Nah kali ini kami melanjutkan trip kami pada malam hari, karena mau mendaki Gunung Ijen supaya bisa mengejar sunrise. Tadi siang kami pulang awal setelah mengunjungi Pantai Mustika Pancer dan Pantai Pulau Merah karena kami mau beristirahat dulu ngumpulin energi untuk mendaki Gunung Ijen. Malam ini kami berangkat sekitar jam 10 malam menuju ke kawasan Gunung Ijen. Gunung ini adalah gunung berapi aktif yang terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Ketinggiannya 2.443 mdpl. Nah, fenomena alam yang sangat populer dari gunung ini adalah kawahnya, Kawah Ijen yang memiliki api biru. 

Perjalanan kami cukup horor, melewati area hutan yang udah pasti gelap gulita. Mobil yang kami naiki juga sebenarnya ga kuat untuk naik keatas, jadi makin horor aja karena rasa-rasanya kayak mau jatuh kebawah #horor. Untunglah ada mobil pick up lewat dan supirnya mau memberi tumpangan. Sebagian dari kami naik mobil pick up itu, terimakasih oh pak supir yang baik hati #terharu. Akhirnya kami berhasil sampai di area parkir Gunung Ijen sekitar jam 1 pagi dan mulai mendaki setelah membayar tiket masuk sebesar 5000 rupiah dan parkir mobil dikenai tarif 10 ribu rupiah. Memulai rute naik gunung ini kami berjalan disepanjang jalan setapak yang sempit dan berpasir, cukup licin. Apalagi malam-malam buta begini, waduuh.. tapi tetap semangat demi mengejar sunrise ya!! 

Anyway, ditengah perjalanan naik kami ditawari beberapa orang untuk melihat Kawah Ijen. Seperti yang saya tulis diatas, Kawah Ijen ini memiliki keunikan yaitu adanya Blue Flame atau Blue Fire atau Api Biru yang kabarnya hanya ada dua didunia, yaitu di Islandia dan di Gunung Ijen, Banyuwangi. Turis asing pun terlihat banyak yang mendaki Gunung Ijen demi bisa ke Kawah Ijen ini. Paket masuk dengan guide ke kawahnya sendiri tidak murah, kami dimintai tarif 250 ribu rupiah. Tapi karena menurut kami mahal, kami menolak tawaran itu. Sebenarnya bisa sih gratisan, alias turun sendiri ke area kawahnya tapi terlalu beresiko, lebih baik memang pakai guide sih. 

Kawah Ijen dari puncak Gunung Ijen

Selfie nya mepet kawah, hehe
Sebenarnya ga masuk ke area kawah pun kita tetap bisa melihat Blue Fire nya dari atas, cuma ya kurang jelas sih sebenarnya, tampak api berwarna biru sedang menari-nari gitu.. Okee mari kita lanjutkan saja misi sunrise ini! Kami pun berhasil mencapai puncak Gunung Ijen sekitar jam 4 pagi dan menunggu sampai sunrise muncul. Dan ketika sunrise itu muncul... wowwwww amazing!! super duper kereeen :D :D Ah puas banget akhirnya bisa mengejar sunrise di puncak Gunung Ijen. Nah dari atas puncak saya menikmati view Kawah Ijen (yang tentu saja Blue Fire nya udah ga ada karena hanya muncul saat malam). Rasanya bahagia bisa mengejar sunrise dan melihat Kawah Ijen yang spektakuler dan ngetop banget itu. Oh ya, bau sulfurnya merebak banget yaaa... jangan lupa bawa masker kalau ke Gunung Ijen, soalnya bau belerangnya kuat strong banget.

Yay! Berhasil mengejar sunrise yang super duper amazing! :D

Sunrise di tanganku..

Beberapa orang tampak membawa pikulan berisi batu belerang

Finish! :D
Sekitar jam 9 pagi kami mulai menuruni Gunung Ijen dan saya melihat beberapa orang yang memikul batu-batu berwarna kuning yang adalah batu belerang. Beberapa orang juga tampak menjual aneka suvenir yang terbuat dari batu belerang ini. Okee berakhirlah sudah trip kami di Gunung Ijen. Sangat bersyukur sekali diberi kesempatan menikmati indahnya alam dari puncak Gunung Ijen dan mengejar sunrise yang super amazing. Sungguh pengalaman yang takkan saya lupakan. Trip saya di Banyuwangi belum berakhir ya gaess, hari berikutnya kami akan ngetrip ke kawasan Bangsring yang ngetop dengan penangkaran hiu nya dan juga Pantai Watu Dodol. 

Trip to Banyuwangi, Part 2: Pantai Mustika Pancer dan Pantai Pulau Merah


Jalan-jalan ke Banyuwangi ini kami awali sejak kemarin, yaitu trip ke Mangrove Blok Bedul, Pantai Grajagan, Alas Purwo, dan Pantai Marengan. Nah pada trip hari ini kami berencana untuk mengunjungi 2 pantai yaitu Pantai Mustika Pancer dan Pantai Pulau Merah. Horeee.. yuk gaess cuss ikuti petualangan kami.

Kami berangkat pagi-pagi ke Pantai Mustika Pancer yang terletak di Desa Pancer, Kecamatan Pesanggaran. Pantai ini masih bisa dibilang sepi, dan pantainya juga bersih. Karakter pantainya beda dengan pantai yang kami kunjungi kemarin, kali ini pasirnya bersih, yes lah. Ombaknya juga besar dan menjadi view yang unik dikala kami melihat beberapa kapal sedang berlayar ditengah laut. Oh ternyata pantai ini letaknya berdekatan dengan tempat pelelangan ikan Pancer. Bisa jadi itu adalah kapal-kapal penangkap ikan. Untuk masuk ke Pantai Mustika Pancer ini tidak dipungut biaya, alias gratis. Asyik kan gaess? :D Puas-puasin untuk foto tak hanya di area berpasirnya tapi juga menjelajahi area berbatunya di sebelah kanan pantai ini. View laut dari atas bebatuan ini juga sangat menarik gaess.

Indahnya Pantai Mustika Pancer dengan view laut dan perbukitan

Jangan lupa selfie disini ya gaesss

Deretan bebatuan

Okee, setelah menghabiskan waktu sekitar 2 jam disini, kami balik ke parkiran dan bergegas ke pantai yang masih satu garis dengan Pantai Mustika Pancer yaitu Pantai Pulau Merah. Jaraknya hanya sekitar 3-4 kilometer dari Pantai Mustika Pancer, berlokasi di Desa Sumber Agung, Kecamatan Pesanggaran. Pantai ini adalah salah satu destinasi wisata yang paling terkenal di Banyuwangi. Pemerintah setempat sangat mempromosikan keberadaan pantai yang unik dengan pasirnya yang berwarna kemerah-merahan dan view Pulau Merah ditengah laut ini. Tiket masuknya hanya 5000 rupiah aja dan kamu sudah bisa menjelajahi keindahan Pantai Pulau Merah. 

Nah mengenai keberadaan pulau ditengah laut yang dinamakan Pulau Merah ini, apakah bisa dikunjungi juga? Oh tentu bisa gaess.. tapi.. ada tapinya ya.. hehe. Jangan kemari kalau pas ombak pasang karena tentu saja jalan menuju ke Pulau Merah nya tertutup ombak. Dan sayang sekali waktu kami kemari, ombak sedang pasang dan itu membuat kami mengurungkan niat untuk ke Pulau Merah #hiks. Air lautnya jernih dan karakter pasir di pantai ini luar biasa. Bersih dan berwarna agak kemerahan apalagi pada saat sunset. Itulah kenapa disebut Pantai Pulau Merah. Ombaknya sendiri cukup besar dan disarankan untuk selalu waspada ya gaess. Walaupun pemandangannya luar biasa, tapi hati-hati itu wajib hukumnya.

Oh ya, Pantai Pulau Merah juga merupakan salah satu spot surfing di Banyuwangi, bahkan pernah dijadikan lokasi sebuah kompetisi surfing internasional pada tahun 2013. Pantai ini memiliki banyak pepohonan kelapa dan warung-warung yang menjajakan makanan pun semuanya menyediakan minuman kelapa. Kawasan ini ramai, beda dengan Pantai Mustika Pancer. Wajar karena pantai ini namanya memang sangat populer. Apalagi kamu juga bisa menyewa tempat duduk untuk bersantai di pantai dengan harga murah meriah.

Kerennya view Pulau Merah ditengah laut

Spot duduk-duduk yang bisa kamu sewa
Selepas dari pantai ini, kami langsung balik ke rumah mertua teman saya karena mau langsung istirahat sebelum melanjutkan trip kami nanti malam ke Gunung Ijen

Trip to Banyuwangi, Part 1: Mangrove Blok Bedul dan Angkernya Taman Nasional Alas Purwo

Senang sekali rasanya di bulan Juni ini saya puas ngetrip. Setelah di awal bulan ngetrip ke Bangkok dan Pattaya di Thailand, kali ini di akhir bulan saya ngetrip ke Banyuwangi, sebuah kota yang berada di ujung propinsi Jawa Timur. Menjelajahi beberapa destinasi wisata di kota ini sungguh merupakan pengalaman yang amat sangat memuaskan, walaupun tentunya masih banyak tempat wisata yang belum sempat saya kunjungi karena terbatasnya waktu mbolang di Banyuwangi ini. Okee di postingan Part 1 ini saya akan membahas tentang trip saya di Mangrove Blok Bedul, Pantai Grajagan, dan Pantai Marengan yang berada di kawasan Taman Nasional Alas Purwo.

Kok bisa sampe ke Banyuwangi? Well, atas ajakan seorang kawan lama yang mau mudik ke rumah mertuanya di Banyuwangi membuat saya tak pikir panjang untuk berkata "Oh yes!!" hehehe. Meeting point kami di Salatiga karena teman saya berdomisi di kota sejuk itu. Berangkat dari Salatiga menuju Kerten, Solo dan lanjut naik angkot ke Stasiun Purwosari untuk naik kereta Sri Tanjung yang berangkat jam 8 pagi. Tiketnya menurut saya murah juga cuma 100 ribu dari Solo sampai Banyuwangi, tapi ya itu.. 12 jam! #hiks. Kami tiba di Stasiun Kalisetail sekitar jam 8 malam, dan kami dijemput mertua teman saya. Malam itu rasanya lega ketemu kasur, badan udah pegel linu 12 jam di kereta, hahaha.

Nah petualangan kami dimulai keesokan paginya, tanggal 24 Juni 2015. Dengan mobil (baca: milik mertua temen saya) kami menuju ke Mangrove Blok Bedul di Taman Nasional Alas Purwo. National park ini letaknya ada di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi. Kawasan hutan ini menyimpan kekayaan flora dan fauna, dan juga kekayaan misteri karena kabarnya kawasan ini angker, hiii. Ah tapi tak mengapa, niatnya kemari kan mau wisata bukan mau macem-macem, so cuss deh. Tiket masuk per orang 10 ribu dan kami bisa naik boat dari dermaga Pantai Bedul untuk menuju ke Alas Purwo dengan tarif 5000 rupiah. Nah di kawasan perairan nan luas ini terdapat cukup banyak spot-spot wisata yang bisa dijelajahi. Supaya puas menjelajahinya, akhirnya kami memutuskan untuk menyewa boat tersebut dengan tarif 250 ribu. Untunglah kami berlima jadi bisa patungan. Itulah enaknya ngetrip bareng, bisa share cost. Kalau traveling sendirian biayanya waduh hahaha. Kami diantar ke Pantai Grajagan dengan perjalanan boat hampir 1 jam, melintasi daerah mangrove hijau segar di kanan kirinya.

Sesampainya di Pantai Grajagan, kami menikmati view laut dengan ombak yang tidak besar ini selama kira-kira setengah jam aja. Karakter pantainya tidak terlalu istimewa, dengan pasir yang berwarna abu. Kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan boat ke dermaga di kawasan hutan Alas Purwo. Disini kami menemukan papan-papan penunjuk arah dan papan peta beberapa tempat wisata di Taman Nasional Alas Purwo. Tapi karena keterbatasan waktu, kami hanya mengunjungi beberapa saja yaitu Mangrove Blok Bedul, Pantai Grajagan, dan Pantai Marengan. Untuk menuju ke Pantai Marengan dari penunjuk arah ini jaraknya tidak jauh sekitar 800 meter. Jalan kaki melewati area hutan dengan kera-kera "sopan" yang tampak muncul disana sini. Ah kera-kera ini tiba-tiba mengingatkan saya pada Goa Kreo di Semarang dimana banyak terdapat kera yang juga jinak disitu. Anyway, sebenarnya kenapa sih kok banyak yang bilang area taman nasional ini angker? Kata temen saya, dulu area ini sering buat semedi atau cari wangsit karena mereka percaya ada banyak makhluk halus yang bertebaran disini. Tapi tak hanya itu, area ini juga dulunya sering buat tempat bersembunyi para perampok dan penjahat. Mereka tak segan merampok dan membunuh orang-orang yang datang ke area ini. Itulah kenapa Taman Nasional Alas Purwo dibilang angker. Tapi itu dulu gaesss, sekarang yah udah ga kayak gitu lah, tenang aja.. Sekarang area ini malah menjadi salah satu tempat wisata populer di Banyuwangi.

Sekilas penampakan mangrove di Mangrove Blok Bedul

Wefie ceria diatas boat

Pantai Grajagan

Pantai Marengan
Sesampainya di Pantai Marengan, kami disambut view lautan yang luas. Angin berderap kencang di pantai yang karakter pasirnya juga berwarna abu gelap ini. Anyway, karena waktu sudah menunjukkan sore hari, kami tidak menghabiskan waktu lama disini. Balik ke kapal kami di dermaga tadi dengan kembali melewati jalan setapak di hutan Alas Purwo. Balik ke dermaga Pantai Bedul kira-kira 1 jam membuat saya nyaris ketiduran di kapal karena keenakan dengan hawa sejuk yang menerpa saya. Pemandangan di perairan dengan view mangrove ini memang keren. Kalau kamu ke Banyuwangi, jangan lewatkan wisata di Taman Nasional Alas Purwo ini yaaa. Next, ikuti catatan saya selanjutnya, trip ke Pantai Mustika Pancer dan Pantai Pulau Merah.

One Day Trip to Pattaya Thailand, Ojek dan Songthaew Jadi Andalan


Tanggal 3 Juni 2015 saya mewujudkan rencana jalan-jalan ke Pattaya. Dari Glur Bangkok hostel tempat saya menginap, saya ke stasiun Saphan Taksin yang hanya sekitar 100 meteran aja jaraknya lalu naik skytrain ke stasiun Siam. Dari sini saya pindah ke jalur Sukhumvit Line menuju ke stasiun Ekkamai. Dari Saphan Taksin ke Ekkamai tiketnya seharga 42 Baht. Lalu saya pun bergegas ke Eastern Bus Terminal yang ada tepat didepan stasiun Ekkamai ini untuk membeli tiket bus AC ke Pattaya seharga 119 Baht aja. Murmer banget kalo menurut saya, hehe. Bisnya nyaman dan supirnya mengemudi dengan mulus. 

Perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam. Seharusnya 2 jam juga sudah sampai sih tapi berhubung macet dipagi hari ya molor deh, tapi no problemo, untungnya saya berangkat dari hostel sekitar jam 7 pagi. Setelah saya tiba di Pattaya, tepatnya di Air-Conditioned Bus Terminal Pattaya, saya melanjutkan naik songthaew, yaitu sejenis mobil pick-up ala Thailand yang sudah dimodifikasi sedikit. Naik songthaew sampai Pattaya Beach, tepatnya di area Walking Street cuma bayar 30 Baht. Saya berjalan kaki menyusuri Walking Street yang terkenal dengan hiburan agogo girls, ladyboys, dan penari striptease nya. Area ini sepertinya hanya rame dimalam hari sih, dan berhubung pas kesana masih siang jadi ya area ini sepi, hehe padahal saya penasaran pengen lihat lady boys :D. 

Songthaew
Di ujung Walking Street, terlihat dermaga Bali Hai Pier (iiih kok namanya ada "Bali" nya sih, ga relaa...). Biasanya turis yang mau ke pulau-pulau kecil disekitaran Pattaya ya naik boatnya dari dermaga ini. Tapi berhubung waktu yang saya punya hari ini limited banget jadi ya cuma poto-poto aja dengan background tulisan gede Pattaya City, itu juga udah puas banget ^^. Puas poto-poto disini, saya ngojek ke tujuan kedua di Pattaya yaitu The Big Buddha Hill. Disini ada patung Buddha yang gedeee banget dan pemandangan Pattaya city dengan pantainya dari sini keren banget. Masuk The Big Buddha Hill gratis, paling cuma keluar duit buat ngojek PP aja, hehe. Oh ya, disini juga ada reclining Buddha atau Buddha berbaring, tapi ga sebesar di Wat Pho Bangkok ya. Puas menikmati view The Big Buddha Hill, saya balik ke Walking Street dengan ojek dan naik songthaew ke AC Bus Terminal Pattaya. Beli tiket pulang ke Bangkok yang harganya juga sama seperti waktu berangkat tadi (119 Baht) dan menikmati perjalanan pulang selama 2 jam dengan bus AC yang nyaman. 

Pattaya City :D

View Pattaya Beach

Memasuki Big Buddha Hill

Eh ada reclining Buddha jugak

Patung Big Buddha

Sampai di Bangkok, saya balik ke hostel dengan naik skytrain dari stasiun Ekkamai, transit di stasiun Siam dan lanjut ke stasiun Saphan Taksin dekat hostel kami. Rasanya puas seharian berada di Pattaya city, walaupun panasnya super hot hot hot. Tapi kalo menurut saya sih pantainya biasa aja :D :D.

Trip Irit Murah Meriah ke Bangkok Thailand


Tanggal 1-4 Juni 2015 saya dan seorang teman ngetrip irit ke Bangkok dan Pattaya. Kami berangkat dari Bandara Ahmad Yani Semarang tanggal 1 Juni 2015 jam 10.15 WIB menuju Bandara Soekarno-Hatta Terminal 3 dengan pesawat Lion Air lalu lanjut dengan Air Asia menuju Bandara Don Mueang International Bangkok. Kami tiba jam 8 malam (zona waktu sama dengan di Indonesia) dan langsung ke hostel Glur Bangkok dengan taxi resmi dari airport. Murmer banget naik taxi di Bangkok, ga kayak Indonesia yang berkali-kali lipat mahalnya (loh kok malah sesi curhat :p). Btw, Glur Bangkok ini hostel yg maknyus. Selain murah, hostel ini juga menyediakan roti, selai, cereal, susu, kopi, krim, dan gula gratis 24 jam, hot shower, wifi gratis nan cepat, bed nya luas, dan ada kedai kopinya pula. Setelah check-in kami pun langsung tepar karena esok kami akan ngetrip ke 6 destinasi wisata di Bangkok.

Didepan hostel Glur Bangkok
Paginya, 2 Juni 2015, kami berjalan kaki ke Wat Yannawa. Temple berbentuk kapal ini hanya sejauh 300 meter aja dari hostel kami. Setelah itu kami ke dermaga Sathon Pier yang jaraknya hanya 100 meteran aja dari hostel dan naik Chao Phraya Express Boat. Dengan tiket seharga 15 Baht jauh deket, menyusuri Chao Phraya River menuju ke dermaga Tha Tien, lalu jalan kaki ke tempat wisata Wat Pho. Tiket masuk tempat wisata yang terkenal ini sebesar 100 Baht/orang. Lokasinya luas banget dan setelah puas explore, kami jalan kaki ke Grand Palace dan foto-foto di bagian depannya aja. Ga masuk karena budget kami minim, hahaha. 

Wat Yannawa

Reclining Buddha at Wat Pho

Grand Palace

Lalu kami balik ke dermaga Tha Tien dan naik boat menuju ke Wat Arun dengan tarif cuma 3 Baht aja. Sampai di Wat Arun kami membeli tiket masuk seharga 50 Baht/orang. Wat Arun ini masih dalam proses renovasi dan kabarnya akan selesai pada 2016, tapi ya gpp lah, masih banyak spot di lokasi luas ini buat foto-foto. Cuaca waktu itu panas banget, Bangkok adalah kota yang sangat panas ternyata. Berhubung udah mulai kecapaian, akhirnya kami memutuskan balik ke hostel dulu sambil nyari-nyari street food endess dan istirahat sejenak.

Exploring Wat Arun

Saya tambah gosong

Salah satu pojokan street food deket hostel

Cukup banyak nemu yang non-halal kayak gini, tapi kalau buat saya ya halal..hehe
Sorenya kami bergegas ke Madame Tussauds Wax Museum di Siam Discovery Center. Siam Mall ini adalah mall terbesar di Bangkok dan ada stasiun centralnya, maksudnya kalau mau pindah line dari Silom Line ke Sukhumvit Line atau sebaliknya musti lebih dulu transit di Siam station ini. Seperti ketika naik kereta di Singapore dan Malaysia, sebelum naik skytrain BTS, beli tiket dulu di vending machine, ntar dapat kartu pass. Kami naik skytrain dari stasiun deket hostel, Saphan Taksin station. Tiketnya seharga 34 Baht untuk menuju Siam station. Kami turun 1 lantai dan lanjut jalan lurus terus sampai nemu Siam Discovery Center dengan Madame Tussauds nya. Untuk masuk ke museum ini, kami membeli tiket masuk seharga 760 Baht. Mahal sih, tapi worth it karena kami puas banget foto-foto dengan "tokoh-tokoh dunia" dan banyak "seleb" didalemnya. 

Eh ada Obama

Eh ada Queen Elizabeth

Soekarno ^^
Menjelang sore, kami menuju ke Asiatique the Riverfront dengan kapal Chao Phraya Express lagi dan turun di Wat Rajsingkom. Ini semacam night market dengan lampu-lampu yang wow. Indah banget pokoknya, coba kalo ada pacar mungkin udah makan malam romantis disini sekalian kali ya, hehe. Okee deh, itulah 6 tempat wisata yang kami kunjungi di Bangkok hari ini. Puas rasanya mengunjungi keenam destinasi wisata tersebut dalam sehari. Untung harga makanan (street food) di Bangkok murmer banget, jadi soal energi prima udah ga usah diragukan lagi karena kami jajan dan ngemil terus, hehehe #Sumringah. Yang pasti juga musti punya energi ekstra buat jalan kaki kemana-mana karena satu lokasi aja luas banget. Pulang dari Asiatique jalan kaki ke hostel karena kami pengen ngerti aja suasana malam di jalan-jalan di Bangkok. Ga terlalu jauh lah sekitar 3 kilometer kami berjalan kaki sampai hostel. Sampai hostel udah jam 8 malam dan tentunya langsung mandi dan tepar. 

Rute dan jadwal Chao Phraya Express Boat

Boat ini memang alat transportasi efektif untuk kemana-mana

Asiatique the Riverfront

Indahnya view pinggiran sungai

Kalau di kampung ku yang beginian namanya Dermolen :D
Paginya tanggal 3 Juni kami menuju ke Pattaya. Cerita selengkapnya ada di postingan Trip to Pattaya Thailand ya gaess.

Pulang dari Pattaya masih maghrib jadi kami langsung ke hostel, packing dan istirahat lebih awal karena paginya mau pulang ke Indonesia melalui Bandara Suvarnabhumi. Pagi-pagi banget tanggal 4 Juni, setelah check-out kami langsung ke stasiun Saphan Taksin dan naik skytrain ke stasiun Phaya Tai dengan tiket seharga 42 Baht. Transit di Siam station lalu pindah line ke Sukhumvit Line, karena Phaya Tai station ada di line ini. Sampai di stasiun Phaya Tai, kami interchange dengan Airport Rail Link menuju Suvarnabhumi Airport, tiket seharga 45 Baht menurut kami sih murmer banget. Udah cepet, mudah, ga macet, sampe bandara juga masih bisa poto-poto, hehe. Kami check-in di loket Tiger Airways, boarding dan tepat pukul 10.25 kami pun meninggalkan Thailand. Bye for now, Thailand...

Bye for now, Bangkok

Comments

Featured Travel Note

A Trip to Hong Kong Disneyland, A Dream That Comes True

Catatan Mancanegara