Watu Gunung, Danau Buatan di Ungaran


Kayaknya udah lama nih ga buat catatan jalan-jalan ke tempat wisata alam. Obyek wisata alam yang saya kunjungi hari ini adalah Watu Gunung yang berlokasi di Ungaran. Untuk mencapainya, dari Alun-alun Lama Ungaran bisa naik terus keatas ke arah Desa Lerep, lokasinya ada disebelah kiri jalan, hanya 5 menit naik motor. Tiket masuk sebesar 15 ribu dan saya ditanya kamera apa yang saya bawa. Saya sih cuman punya kamera pocket dan kamera hape jadi digratisin, kalau bawa kamera DLSR baru deh kena charge tambahan. Selain itu, ada tarif khusus pula bagi pengunjung yang ingin melakukan pemotretan misalnya untuk keperluan prewedding.

Narsis dulu di pintu masuk

Air di kolam renangnya seger

Di dekat pintu masuk ada papan bertuliskan "Watu Gunung", bolehlah kita selfie dulu ditulisan ini. Lalu saya dan temen saya jalan masuk dan melihat rumah joglo dengan kolam ikan hias yang cantik. Ada beberapa gazebo juga disini yang bisa disewa. Terdapat danau buatan dan taman-taman cantik disini, sayang kalau ga foto-foto. Apalagi foto di atas kapal di danaunya, bagus lo. Pemandangan alamnya bagus dan kita juga bisa memancing ikan didanau ini. Selain danau, ada juga air terjun buatan yang walaupun ukurannya kecil tapi tampilannya cantik karena posisinya ada ditengah taman. Nah, highlight dari Watu Gunung sebenarnya adalah kolam renangnya. Airnya murni seger dan ga bikin pedes mata. Selain itu banyak pohon-pohon tinggi dan aneka tanaman yang makin menambah cantiknya kolam renang ini. Jam bukanya juga cukup panjang yaitu dari jam 8 sampai jam 4 sore setiap hari. 

Danau buatan di Watu Gunung

Aneka Wahana Seru di Trans Studio Bandung


Yay akhirnya sampai juga di bagian terakhir dari catatan mbolang kami di Bandung. Sebelumnya saya sudah membuat catatan ngetrip ke Kawah Putih dan Situ Patenggang yang berlokasi di Ciwidey, Kabupaten Bandung, dan di bagian berikutnya catatan mengenai beberapa tempat di Kota Bandung yang saya dan bro Rofiq kunjungi, yaitu Cihampelas, Gedung Sate, Dago, Taman Balaikota, Taman Vanda, dan Braga. Termasuk juga catatan aneka tarif dan warna angkutan umumnya. Nah di bagian terakhir ini saya hanya membahas satu tujuan wisata aja yaitu Trans Studio Bandung (dan Trans Studio Mall buat mampir makan, hehe). Dari hostel kami jalan kaki aja karena dekat dan sampai di Trans Studio kami membeli tiket masuk seharga 270 ribu per orang (tarif weekend). Kalau hari biasa tiketnya seharga 170 ribu. Tiket masuk berupa kartu Mega Cash yang bisa di top up untuk keperluan beli ini itu selama didalam Trans Studio. Berhubung tas-tas backpack kami berat sangadh, ada baiknya dititipkan ke penitipan barang dulu. Satu loker bisa disewa dengan harga 20 ribu aja. 

Trans Studio adalah indoor themepark terbesar di Indonesia yang dikelola oleh TransCorp. Didalamnya ada 20 wahana permainan yang bisa kita nikmati. Tapi kalau bawa anak-anak cek dulu syarat tinggi badannya ya untuk memastikan wahana-wahana itu juga bisa untuk dinikmati anak-anak. Contohnya, kalau mau naik Yamaha Racing Coaster, syarat tinggi minimalnya 135 cm, otomatis dibawah itu ga bole menikmati wahana ini. Trans Studio Bandung buka tiap hari jam 10 pagi sampai 9 malam (Senin-Jumat) dan jam 9 pagi sampai 10 malam (Sabtu-Minggu). Berikut ini 20 wahananya: Trans City Theater, Yamaha Racing Coaster, Giant Swing, Marvel Super Heroes The Rides 4D, Indosat Vertigo Galaxy, Dunlop Trans Car Racing, Si Bolang Adventure, Trans Broadcast Museum, Ocean World Science Center, Dunia Anak, Jelajah, Kong Climb, Sky Pirates, Amphitheater, Captain Blackheart's Pirate Ship, Negeri Raksasa, Dragon Riders, Pulau Liliput, Dunia Lain, Special Effects Action.

Beberapa wahana yang paling saya suka di Trans Studio Bandung adalah Yamaha Racing Coaster yang super seru, Vertigo Galaxy yang mengingatkan saya akan gilanya Speed Flip di Wisata Bahari Lamongan, dan Marvel Super Heroes The Rides 4D dimana efek action 4 dimensi nya bener-bener bikin surprise! Puass jiwa raga dah pokoknya menikmati banyak wahana di Trans Studio Bandung. Kebetulan hari itu pas ada parade show sekitar jam 5 sore. Bagus banget, pawainya seru dan keren. Kami enjoy Trans Studio dari jam 1 siang sampai jam 8 malam, dan tak lupa beli beberapa suvenir kece. Berhubung udah malam dan udah melapar, kami lanjut ke Trans Studio Mall untuk makan malam dan sekitar jam 9 malem kami pulang ke Ungaran dengan menggunakan jasa mobil travel. Semoga next time bisa mbolang ke Bandung lagi!

Salah satu sudut Trans Studio Bandung

Toko suvenirnya kecee...

Jalan-jalan di Kota Bandung: Tarif Angkutan Umum

Wokeeh inilah catatan berikutnya dari mbolang saya dan bro Rofiq ke Bandung tanggal 2-3 Januari 2016. Setelah explore Kawah Putih dan Situ Patenggang yang berlokasi di Ciwidey, Kabupaten Bandung, kami balik ke arah Terminal Ciwidey. Nah, dari terminal ini, untuk menuju ke Kota Bandung kita bisa naik angkot jurusan Terminal Leuwi Panjang. Unfortunately, ngetemnya lamaa. Beneran lama. Parah banget durasi ngetemnya pokoknya, hehehe. Dan tarifnya juga mehong sebesar 15 ribu. Tapi jangan kuatir, harga tarif gila cuma sampai sini aja. Selama di Kota Bandung, angkot kemana-mana murah meriah, kisaran 2000-7000 doang tergantung jauh deket. Berikut ini catatan saya untuk tarif angkot ke beberapa lokasi di Kota Bandung. 

1. CIHAMPELAS

Okee, dari Terminal Leuwi Panjang kami memutuskan untuk beli suvenir dulu di Cihampelas. Memang jaraknya cukup jauh dan harus oper lagi. Kami naik angkot nomer 36 jurusan Kalapa (tarif 5000) lalu lanjut dengan naik angkot jurusan Kalapa-Ledeng dan turun di Cihampelas (tarif 6000). Di Cihampelas, sempet turun ujan rintik-rintik sebentar tapi ga mengganggu acara mbolang kami. Malah keren juga poto di trotoar Cihampelas yang ala kulit zebra itu, hehe. Cihampelas asik lah pokoknya buat beli kaos atau jeans atau suvenir apapun buat oleh-oleh ^^.

2. GATSOE

Karena sudah jam 5 sore, kami memutuskan untuk ke Bantal Guling Guesthouse, tempat kami menginap di area Gatsoe (Jl. Gatot Subroto) . Saya book hostel ini karena letaknya deket banget sama Trans Studio, jalan kaki doang. Dan harga kamarnya juga ga mahal. Untuk ke area Gatsoe ini dari Cihampelas, kami naik angkot biru jurusan Margahayu-Ledeng dan turun langsung di seberangnya area jalan Gatsoe (tarif 7000). Hostel kami gampang nyarinya, ada disebelah kiri kalo dari jalan raya karena nomer genap. Sedangkan nomer ganjil ada dideretan sebelah kanan. Rame sekali area ini sejak sore udah berderet warung-warung tenda dan aneka makanan. Ga kesulitan cari makanan yang murmer dan enak pokoknya.

3. GEDUNG SATE

Paginya, tanggal 3 Jan 2016, tujuan pertama kami adalah Gedung Sate. Dari Gatsoe kami naik angkot warna coklat (nomer 9) jurusan Gasibu atau bisa juga angkot warna hijau jurusan Caheum-Ledeng. Kalau naik yang angkot coklat, kita musti jalan dikit karena nyebrang, tapi kalau yang hijau bisa turun langsung didepan Gedung Sate (tarifnya sama kok, 4000 doang). 

4. DAGO

Puas narsis di depan Gedung Sate, kami jalan kaki ke area Dago karena jaraknya ga jauh hanya sekitar 20 menitan, tapi kami ga eksplor daerah Dago (Jl. Ir.H.Juanda) karena keterbatasan waktu. Kalau diteruskan, disini ada tempat wisata alam Dago Pakar (Taman Hutan Raya), Goa Belanda dan Jepang. Kapan-kapan kalau ke Bandung lagi mau explore Dago ah ^^. 

5. TAMAN BALAIKOTA BANDUNG & TAMAN VANDA

Dari Dago kami ke Taman Balaikota yang ada gembok Love nya itu. Naik angkot jurusan Dago-Kalapa warna hijau (tarif 3000) dan kami nyebrang ke area Kantor Walikota Bandung dan tentu saja lanjut narsis ceria di Taman Balaikota. Taman ini letaknya diantara 2 jalan protokol yaitu Jl. Merdeka dan Jl. Wastukencana. Setelah explore Taman Balaikota Bandung, kami jalan menyusuri Jl. Merdeka itu dan selfie di Taman Vanda. Taman baru ini istimewa karena kalau malam ada air mancur warna-warni yang bisa dinikmati pengunjung. Sayang kami kesana pas masih siang jadi air mancurnya entong alias belum ada. 

Office nya Pak Ridwan Kamil :D

Taman Vanda

6. BRAGA

Dari Taman Balaikota sampai kawasan Jl.Braga kira-kira 1 kilo dan kami jalan kaki karena jalannya satu arah jadi ga ada angkot yang menuju Braga dari kawasan Taman Balaikota. Ya ga papa deh, itung-itung bakar lemak, lol. Kawasan Braga ini berasa vintage dan colorful banget dengan adanya deretan lukisan-lukisan disepanjang jalan. Disini saya juga melihat penampakan bus Bandung Tour yang sedang melintas di Jl. Braga. Keren banget dengan warna merah cetar. 

Berhubung dikejar keterbatasan waktu, kami buru-buru cari angkot untuk balik ke hostel kami yang letaknya dekat dengan Trans Studio Mall. Dari area Braga, kami naik angkot jurusan Stasiun Gedebage, turun didepan CIMB Niaga (tarif 4000) lalu lanjut naik angkot warna merah jurusan Binong-BSM (tarif 2000). BSM ini kependekan dari Bandung Super Mall yang sekarang disebut Trans Studio Mall. Wokeeh, kami masuk hostel lagi dan packing lalu check-out untuk kemudian lanjut jalan-jalan dan explore Trans Studio dan Trans Studio Mall Bandung ^^.

Penampakan Bandung Tour bus yang sedang melintas di Jl. Braga

Ini Kisah Romantis Terjadinya Situ Patenggang di Ciwidey Bandung


Situ Patenggang atau Situ Patengan ini adalah sebuah danau di area Ciwidey, Kabupaten Bandung yang view alamnya juga tak kalah keren. Dari Kawah Putih kami menuju ke Situ Patenggang dengan ojek. Dengan membayar 15 ribu, kami diantar sampai masuk kedalam dan ga perlu bayar tiket lagi (makasih ya Pak Ojek yang baik hati, hehe). Alternatif lain, dari Kawah Putih bisa naik angkot dengan tarif 5000, lalu beli tiket masuk seharga 20 ribu. Dengan jarak kira-kira 12 kilometer, kami membutuhkan waktu sekitar 15 menit naik ojek untuk sampai di Situ Patenggang.

Disini terdapat Batu Cinta, spot paling populer di Situ Patenggang. Tapi untuk menuju spot itu musti sewa boat seharga 30 rb/jam nya. Dikarenakan waktu yang terbatas, kami ga sewa boat dan cukup puas dengan narsis ceria di pinggiran danau, hehe. Nama Situ Patengan sendiri berasal dari bahasa Sunda "Pateangan-teangan" yang artinya saling mencari. Rupanya danau ini memiliki kisah historis yang romantis, tentang cinta antara putra seorang prabu dengan putri yang merupakan titisan dewi. Mereka bernama Ki Santang dan Dewi Rengganis. Walaupun mereka terpisah untuk sekian lama namun karena cinta mereka yang begitu dalam akhirnya mereka pun saling mencari dan dipertemukan kembali di sebuah tempat yang sampai sekarang dinamakan Batu Cinta.  

Dewi Rengganis minta untuk dibuatkan danau dan sebuah perahu untuk berlayar. Perahu inilah yang sampai sekarang menjadi sebuah pulau yang berbentuk hati, dan diberi nama Pulau Asmara / Pulau Sasaka. Nah, menurut cerita ini, siapapun yang singgah di Batu Cinta dan mengelilingi Pulau Asmara niscaya akan mendapatkan cinta abadi seperti cinta mereka. Wah romantis banget ya! Pantesan di Situ Patengan banyak kapal kecil yang bisa disewa untuk keliling danau. Sepertinya banyak juga yang sewa kapal untuk tujuan wisata romantis keliling Pulau Asmara ini, hehe. 

Oke, berhubung sudah sore maka saatnya menuju Kota Bandung untuk check in hotel, cari makan dan istirahat. Untunglah tas yang kami bawa itu model backpack, jadi praktis dan ga terlalu berat. Pulang ke Terminal Ciwidey dari Situ Patenggang sangat mudah. Naik aja angkot yang melewati kawasan Situ Patenggang ini langsung ke Terminal Ciwidey seharga 15 ribu. Karena kemarin macet parah, perjalanan ke terminal butuh waktu 1,5 jam. Tapi puass banget karena kami berhasil mbolang ke Kawah Putih dan Situ Patenggang di kawasan Ciwidey, Kabupaten Bandung. Next, mbolang kami berlanjut di Kota Bandung. Yeah! :D

Kisah romantis awal mula Situ Patenggang

Situ Patenggang dari kejauhan

Indahnya Kawah Putih Ciwidey di Kabupaten Bandung


Akhirnyaa kesampaian juga mbolang explore Bandung. Tanggal 1 Januari 2016 malam, saya dan bro Rofiq memulai acara mbolang kami ke Bandung dengan naik bus Bandung Express dari Terminal Sisemut Ungaran. Entah berapa tarifnya kalau dihari biasa, tapi karena kami pergi pas musim liburan, harga tiketnya 140 rb sampai Bandung. Tujuan wisata kami di Bandung ada beberapa dan kami memutuskan untuk ke Kabupaten Bandung dulu, tepatnya ke Ciwidey untuk mbolang ke Kawah Putih dan Situ Patenggang. Kami berangkat dari Ungaran jam 8 malem dan turun di Terminal Cicaheum Bandung sekitar jam 4 pagi. Lalu naik angkot ke Terminal Leuwi Panjang yang berjarak sekitar 20 menit dengan tarif 15 ribu. Lumayan mahal juga sih. Lalu lanjut naik angkot lagi ke jurusan Terminal Ciwidey, Kabupaten Bandung dengan lagi-lagi tarif sebesar 15 ribu. Perjalanan memakan waktu sekitar 45 menit. Untunglah waktu itu subuh sehingga jalan ga macet. 

Sesampainya di Terminal Ciwidey, lanjut naik angkot ke Kawah Putih yang memakan waktu sekitar 1 jam. Lagi-lagi 15 ribu pemirsaaah, katanya sih karena weekend (padahal setelah cek dan ricek dengan seorang teman, harusnya ga segitu loh, harusnya cuma 5000. Kami dikibulin? #tega). Sampai di Kawah Putih Ciwidey, kami membeli tiket masuk seharga 18 ribu dan tiket naik shuttle seharga 15 ribu. Kira-kira 30 menit naik shuttle, terlihatlah area parkir Kawah Putih. Kami jalan kaki sebentar aja kira-kira 5 menitan untuk sampai di lokasi kawahnya. Walaupun pengunjung ramai tapi karena lokasinya luass sekalii maka bisa puas selfie disini. Biasanya kalau mau liat kawah, harus cape-cape naik gunung dulu, tapi Kawah Putih ini istimewa dah. Kemari ga pakai capek pokoknya (kecuali capek kantong karena tarif angkot-angkotnya yang wow, hiks). 

Kawah Putih adalah sebuah danau yang terbentuk dari letusan Gunung Patuha. Kenapa disebut Kawah Putih? Itu karena tanah yang ada di area ini berwarna putih akibat bercampur dengan belerang. Gak hanya tanahnya yang berwarna putih, tapi air danaunya juga berwarna putih kehijauan dan bisa berubah warna sesuai kadar belerang, suhu atau cuaca. Karena berada di ketinggian lebih dari 2400 mdpl, kawasan ini berhawa sejuk dan cenderung dingin. Latar belakang perbukitan dan pohon-pohon yang tak berdaun makin menambah uniknya pemandangan Kawah Putih Ciwidey.

Kami disini selama kurang lebih 1,5 jam aja dan turun lagi ke area parkir bawah dengan shuttle. Ketika naik shuttle ternyata bro Rofiq ngobrol-ngobrol dengan supir shuttle nya dan kami pun disarankan untuk ngojek aja ke Situ Patenggang yang berjarak kira-kira 12 km dari Kawah Putih karena kalo dianter orang lokal ga perlu bayar tiket masuk, cukup bayar tukang ojeknya aja sekitar 15 ribu perorang. Lumayan lah, irit 10 rb. Kalau pakai angkot biasa, bayar 5000 sampai Situ Patenggang dan tiket masuk seharga 20 ribu dan itupun masih jalan kaki lagi. So, kami pun memutuskan ngojek selama kurang lebih 15 menit ke Situ Patenggang.

Latar belakang perbukitan
Ngelamun merenung di pinggir kawah

Comments

Featured Travel Note

A Trip to Hong Kong Disneyland, A Dream That Comes True

Catatan Mancanegara