Jalan-jalan ke Tempat Wisata Populer di Makassar: Pantai Losari, Fort Rotterdam, dan Somba Opu

Saya dan seorang teman ngetrip bareng ke Tana Toraja dan Makassar di Sulawesi Selatan. Kami terbang dari Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta dan sampai di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar pada malam hari. Malam itu juga kami dijemput oleh driver bis Bintang Timur yang seat nya sudah kami booking via call. Nah, perjalanan lengkap trip di Tana Toraja dapat teman-teman baca mulai dari trip di Kete Kesu dan Gantiri ya, lalu berlanjut ke Kambira Baby Grave, Tampangallo, Suaya, Buntu Burake, Batu Lemo, dan Londa. Hampir semua tempat wisata tersebut merupakan tempat wisata kuburan ya gaess, hehe... cucok buat kamu-kamu yang pengen wisata ekstrim, anti mainstream lah pokoknya, meet the skeletons :D.


Nah, kami balik ke Makassar dari Rantepao, Toraja Utara pada malam hari dengan bis Bintang Timur dan makan waktu 8 jam, jadi kami sampai di Makassar pada dini hari. Karena masih dini hari, kami bisa diturunin di kota dan ga perlu kejauhan diturunin di Terminal Daya. Kami turun di depan Universitas Empat Lima, lalu lanjut naik taxi sampai area Pantai Losari, karena pete-pete (angkot) baru beroperasi jam 6 pagi. Tapi itulah sisi horenya, Karena masih terlalu pagi, jadi belum ada orang,, hahahayyy walhasil kami pun puas selfie dengan background "bersih" didepan tulisan-tulisan Makassar, City of Makassar, Bugis, dan Pantai Losari. Pokoknya belum ke Makassar kalo belum narsis di Pantai Losari. Pantai ini sangat terkenal dan merupakan tempat wisata paling populer di Makassar, jadi biasanya area ini sangat ramai. Ah ya, dikawasan Pantai Losari ini ada masjid apung, imitasi kapal Phinisi, dan tugu Adipura juga. Dari sini teman saya pengen banget ke Stadion Andi Mattalatta. Sebenarnya saya kurang minat sih soalnya ga demen nonton sepakbola, tapi sebagai teman yang baik ya saya temani deh pastinya :D. Kami jalan kaki sejauh kira-kira 2 kilometer ke Stadion Andi Mattalatta. Kenapa jalan? karena ga ada angkot yang kearah ini karena rutenya one way kalo dari Pantai Losari.

Asyiknya selfie pagi-pagi, masih sepii :D
Ada kapal Phinisi di Pantai Losari 
Setiba di stadion, teman saya senang sekali karena keinginannya kesampaian. Saya malah milih duduk duduk santai aja sambil melepas lelah. Dari stadion ini kami memutuskan untuk sekalian ke Fort Rotterdam. Kami naik angkot dengan tarif 5000 rupiah saja untuk menuju ke Fort Rotterdam atau yang juga disebut Benteng Ujung Pandang. Benteng ini merupakan salah satu landmark Makassar. Didalamnya terdapat museum tapi kami ga masuk karena museum tutup pada hari Senin. Sayang banget sih sebenarnya, kapan lagi ke Fort Rotterdam. Tapi tak apalah, kami cukup foto-foto kece aja di depan bangunan bersejarah ini tanda kami pernah menyambangi lokasi ini (walaupun ga masuk #hiks).

Stadion Andi Mattalatta
Fort Rotterdam, atau yang disebut Benteng Ujung Pandang
For your information, benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa yang saat itu berkuasa. Namun benteng bersejarah ini jatuh ke tangan Belanda karena adanya perjanjian Bungayya. Sejak ditempati pasukan Belanda, benteng ini berubah nama menjadi Fort Rotterdam.

Dari benteng Fort Rotterdam, kami jalan kaki ke Somba Opu karena jaraknya dekat. Tapi ditengah perjalanan, kami melapar dan mampir dulu ke sebuah warung yang menjual menu nasi kuning. Nasi kuning adalah salah satu makanan khas Makassar yang sayang untuk dilewatkan. Porsinya banyak dan enak, walau harganya cukup mehong juga di kantong kami yaitu 30 ribu rupiah. Nah setelah kenyang, kami lanjut jalan gaess,, energinya udah 100% lagi abis makan, hohohoho.

Nasi Kuning khas Makassar
Sampailah kami di area Somba Opu yang terkenal sebagai lokasi oleh-oleh atau suvenir khas Makassar. Banyak sekali toko yang menjual aneka barang disini dari mulai kaos, ganci, barang-barang kerajinan, dll. Tapi yang mengherankan, toko emas juga ga kalah banyaknya di sepanjang jalan ini. Di Somba Opu saya membeli kaos bertuliskan "Makassar" dan juga gantungan kunci. Entah kenapa, saya suka sekali membeli gantungan kunci di setiap tempat wisata yang saya kunjungi. Tapi semisal ga ada ganci ya ga papa juga sih, seadanya aja :D. 

Puas beli suvenir, kami langsung ke hostel Harmoni Inn untuk check-in dan tepar. Hostel ini letaknya strategis, mudah ditemukan di jalan Nusantara. Disekitar hostel ini banyak tempat makan dan toko kecil juga, jadi menurut saya cukup yes lah. Selain itu harganya juga murah dan ada free wifi dan free breakfast. Sorenya saya menjelajah sedikit area jalan Nusantara ini dan juga mampir ke sebuah rumah makan bernama Coto Nusantara untuk menikmati coto asli Makassar, hehehe. Kesampaian deh cita-cita makan Coto Makassar langsung di Makassar. Menjelang maghrib saya balik ke hostel dan langsung tepar.

Yes! Berhasil makan Coto Makassar langsung di Makassar :D
Paginya, tanggal 8 Maret 2016, kami packing dan bersiap untuk check-out lalu menuju ke Bandara Sultan Hasanuddin. Dari hostel Harmoni Inn kami jalan kaki ke halte bus didekat hostel. Di halte bus ini kami naik bus Damri khusus bandara. Tarifnya menurut saya murah, cukup 27 ribu saja. Sampai di Bandara Sultan Hasanuddin, kami harus menunggu kira-kira 2 jam sampai waktu boarding. Nah, sambil menunggu tak ada salahnya selfie di bandara internasional yang kece ini :D.

Bandara Sultan Hasanuddin Makassar
By the way, saya puas banget mbolang di Tana Toraja dan Makassar, Sulawesi Selatan. Hal yang paling saya suka adalah saya nggak menemukan pengamen dimana-mana (sumpeee.. ga ada pengamen!), toilet umum gratis dimana-mana (di jowo mah pipis aja 2000), dan angkotnya jujur soal tarif dan rute (ga ada yang mark-up tarif, dan kalau ditanya soal rute bakal ngasi arah yang jelas). Selain itu porsi makanan selalu banyak (ini yang paling penting gan!).

Tak terasa 3 jam kami berada di pesawat, dan akhirnya kami mendarat dengan selamat di Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta. Dari sini kami musti ke Terminal Jombor untuk mencari bus ke Semarang. Nah rutenya mudah saja, kami naik bus Trans Jogja nomer 3A dari bandara ke Terminal Condong Catur, lalu lanjut naik bus koridor 2A turun di Terminal Jombor. Dari sini kami langsung cuss pulang naik bus patas Ramayana menuju Semarang. Yeaaah!!

Trip to Tana Toraja, Part 7: Londa, Kuburan Batu Populer dan Suvenir Murah di Toraja


Sampailah saya di destinasi terakhir trip di Tana Toraja, yaitu... Londa! Dan lagi-lagi... kuburan gaesss,, gyahahaha.. memang serasa tiada abisnya wisata kuburan di Tana Toraja. Seru abis untuk kamu yang suka wisata ekstrim (dan yang ga takut liat tengkorak tentunya). Nah Londa ini adalah gua alam yang dijadikan kuburan. Londa terletak di Desa Sendan Uai, Kecamatan Sanggalangi, kira-kira 6 kilometer dari pusat kota Rantepao, Toraja Utara.

Didepan gua Londa, sebelum memasuki gua

Tau-tau di bagian depan gua Londa
Ngomong-ngomong soal gua alam yang dijadikan sebagai kuburan, agak sama seperti Tampangallo yaa.. tapi gua Londa ini sangat gelap, beda dengan Tampangallo yang terang. Dan untuk masuk kita musti pake senter atau penerangan apapun soalnya didalam bener-bener gelap. Nah setelah bayar tiket 10 ribu rupiah, nanti kita ditawari jasa pemandu (udah plus lampu petromaks) sebesar 30 ribu rupiah. Saran saya, ambil saja karena toh kita dapat jasa guide dan lampu, dan lebih afdol kalau ada yang mandu cerita-cerita seputar tengkorak dan tulang belulang di dalam gua. Kan biar makin berasa horornya gitu loh, hehehe...  

Erong-erong ini usianya udah ratusan tahun

Banyak tulang belulang di dalam gua Londa
Erong (peti mati khas Toraja), tengkorak dan tulang belulang di dalam gua Londa ini banyak yang sudah berusia ratusan tahun, meskipun ada juga beberapa peti yang masih baru. Awalnya kami mengira kalau udara didalam bakalan pengap dan horor abis dengan bau-bau mayat. Tapi nyatanya tidak loh, sodara-sodara... :D. Udara didalam sejuk dan ga ada bau apa-apa. Nah dari beberapa kisah tulang belulang ituh.. saya paling merasa terharu sama kisah Romeo Juliet versi Toraja. Jadi nanti kalau ke kuburan Londa, kamu pasti bakalan di guide juga ke spot dimana ada tulang belulang milik sepasang kekasih. Mereka ini kabarnya dilarang berhubungan lebih lanjut dan akhirnya mereka memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri. Nah di gua ini, tulang mereka pun akhirnya bisa selalu bersama selamanya #Romantis #Tragis.

Tulang belulang "Romeo dan Juliet" nya Toraja
Seperti di Tampangallo, Suaya, dan Batu Lemo, di Londa juga terdapat banyak tau-tau, patung kayu yang merupakan representasi dari mereka yang sudah meninggal. Nah seperti yang saya tulis di postingan Batu Lemo, tidak semua orang Toraja bisa dibuatkan tau-tau ya.. Hanya mereka yang berasal dari strata sosial tinggi saja dan itupun mereka masih harus memenuhi syarat-syarat tertentu sebelum diputuskan untuk dapat dibuatkan tau-tau.

Ketika kita keluar dari gua Londa, kita bisa memberi tips (uang seikhlasnya) untuk pemandu yang tadi menemani kita. Ketika keluar dari gua inilah saya teringat bahwa saya belum membeli suvenir. Saya mengingatkan temen saya dan kami buru-buru ke toko suvenir yang banyak terdapat di lokasi wisata Londa ini. Buru-buru dikejar waktu karena udah sore huhuhu. Eniwei, kami memutuskan membeli suvenir disini dan bukan di Batu Lemo karena menurut Pak Mangallo (driver kami), harga suvenir di Londa lebih murah. Saya dan teman saya membeli beberapa kaos dengan harga yang menurut kami murah. Selain itu juga bisa nawar, hehehe yess lah.

Bis Bintang Timur yang kece dan super nyaman siap mengantar ke Makassar!
Puas mengunjungi 8 destinasi di Tana Toraja, kami pun diantar ke rumah makan Sesean di Rantepao untuk makan dan sekalian mandi. Selanjutnya kami jalan ke perwakilan bis Bintang Timur yang jaraknya dekat dengan rumah makan ini. Tepat jam 8 malam, bis Bintang Timur yang kece dan super nyaman itupun menjemput kami menuju ke Makassar. 

Trip to Tana Toraja, Part 6: Batu Lemo, Kuburan Bangsawan Toraja


Setelah sebelumnya kami break sejenak dari aneka wisata kuburan di Tana Toraja dengan mengunjungi Buntu Burake, dimana ada Patung Yesus tertinggi didunia, kini kami mau melanjutkan aktivitas wisata kuburan lagi, yeah! Mobil pun melaju menuju Desa Lemo, sebuah desa di Kecamatan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja. Terletak sekitar 7 kilometer di sebelah utara Makale. Di desa ini kami akan mengunjungi sebuah tebing batu yang merupakan kuburan keluarga bangsawan Tana Toraja tempo doeloe. Kuburan batu ini disebut sebagai Batu Lemo.

Tebing batu yang dipahat jadi kuburan bangsawan

Setelah membayar tiket masuk sebesar 10 ribu rupiah, kaki kami pun segera melangkah melintasi pematang sawah nan hijau untuk menuju ke Batu Lemo. Terdapat banyak lubang yang merupakan hasil pahatan pada tebing batu ini. Lubang-lubang itu adalah tempat meletakkan jenasah para kaum bangsawan yang hidup di masa lalu. Lubang-lubang ini kemudian ditutup dengan pintu kayu dan biasanya satu lubang bisa diisi satu keluarga.  

A closer look, lubang-lubang kuburan dan tau-tau

Ada Tongkonan di Batu Lemo
Kuburan Batu Lemo ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke-16 dan menjadi makam kepala suku Toraja. Pokoknya kalau ke Tana Toraja, wajib banget ke Batu Lemo! Lokasi kuburan ini sangat memukau, menyatu dengan indahnya area persawahan. Disini udaranya sejuk dan saya menghabiskan beberapa menit untuk duduk duduk melepas lelah di sebelah 2 rumah adat Tongkonan. Ah ya, di Batu Lemo juga ada tau-tau, patung kayu yang merupakan representasi dari mereka yang meninggal. Disini saya baru tahu kalau ternyata tak semua orang Toraja bisa dibuatkan tau-tau. Ternyata hanya kalangan bangsawan saja yang boleh dibuatkan patung kayu ini setelah memenuhi serangkaian persyaratan. Btw, di Batu Lemo banyak terdapat toko suvenir, tapi kami tidak membeli suvenir disini karena mau mengejar waktu menuju ke destinasi berikutnya yaitu Londa.

Trip to Tana Toraja, Part 5: Buntu Burake, Patung Yesus Tertinggi

Di trip ke Tana Toraja ini saya sudah mengunjungi Kete Kesu, Gantiri, Kambira Baby Grave, Tampangallo, dan Suaya yang semuanya (kecuali Gantiri) merupakan wisata kuburan. Nah kali ini mari kita lupakan sejenak wisata kuburan dan beralih ke wisata religi, hehe saya mau lanjut ngetrip ke Buntu Burake. Buntu Burake itu apa sih? Buntu Burake adalah sebuah bukit dimana pada puncaknya terdapat patung Yesus. Patung Yesus ini tingginya lebih dari 40 meter. Kabarnya sih tinggi patung ini sudah melebihi tingginya patung Yesus di Brasil. Jadi.. bisa dong ya kalau kita katakan patung Yesus tertinggi didunia terletak di Tana Toraja. Yeaah! :D

Patung Yesus tertinggi

Wisata reliji at Buntu Burake

View kota Makale dari Buntu Burake
Buntu Burake terletak sekitar 4 kilometer dari pusat kota Makale yang merupakan ibukota Kabupaten Tana Toraja. Jalan menuju kesini sangat ekstrim, apalagi waktu itu sedang ada pengaspalan. Meski demikian, masuk kemari gratis dan bila kita sudah sampai diatas rasanya worth it banget, memandang keindahan alam dan menikmati view kota Makale dari atas bukit. Cuaca waktu itu panassss banget, dan naik keatas itu memang butuh tenaga ekstra karena kita harus menaiki ratusan anak tangga. Tapi tak apalah, itung-itung sambil ngilangin kalori #eh.

Di Buntu Burake ini banyak terdapat bebatuan alam yang bagus juga untuk foto-foto. Berkali-kali Pak Mangallo membantu kami mengambil foto. Beliau mengajak kami ke spot kece untuk melihat kota Makale dan juga mengambil beberapa foto dengan background patung Yesus. Karena patungnya tinggi amat, susah banget ngambil gambar full, hahaha... anyway, trip ini belum selesai ya... masih ada 2 tempat lagi yang akan kami kunjungi yang merupakan tempat wisata kuburan (back to kuburan!), yaitu Batu Lemo dan Londa. 

Trip to Tana Toraja, Part 4: Suaya, Kuburan Keluarga Raja Sangalla

Di Kecamatan Sangalla di Kabupaten Tana Toraja, selain mengunjungi kuburan terbuka di gua alam Tampangallo, kami juga mengunjungi Suaya. Apa sih Suaya itu? Suaya adalah kuburan keluarga raja Sangalla. Lokasinya sekitar 5 kilometer di sebelah barat kota Makale atau 23 kilometer di sebelah selatan Rantepao. Tiket masuk sebesar 10 ribu. Eniwei, semua tiket masuk di Tana Toraja sama rata. 10 ribu semua, gampang ngingetnya, hehe. 



Suaya ini sendiri berbentuk bukit tebing batu dan terdapat lubang-lubang kantung tempat meletakkan jenasah anggota keluarga ningrat tersebut. Disini juga terdapat tau-tau atau patung para raja dan keluarga raja. Uniknya, tau-tau tersebut diberi pakaian seperti pakaian yang mereka kenakan saat mereka hidup dulu. Disini kami tidak lama sih, sebentar saja karena driver kami, Pak Mangallo, akan mengantarkan kami ke Buntu Burake dimana terdapat Patung Yesus yang tinggi banget itu. Pak Mangallo sebelumnya udah memberitahu kami kalau rute menuju lokasi wisata Buntu Burake ini bakalan cukup ekstrim dan sulit. Jadi sebaiknya lebih cepat kesana lebih baik. Okee deh Pak Mangallo, kami nuruuut :D 

Trip to Tana Toraja, Part 3: Tampangallo, Gua Alam Kuburan Orang Toraja

Setelah sebelumnya kami wisata kuburan di Kete Kesu dan Kambira Baby Grave, nampaknya nyali kami untuk melihat tengkorak malah makin membesar #Loh. Pak Mangallo yang merupakan driver mobil yang kami sewa berkali-kali menekankan betapa pentingnya untuk berwisata kuburan di Tampangallo. Wah apa itu Tampangallo? apakah kuburan gantung lagi? ataukah kuburan bayi lagi? Oh ternyata bukan sodara-sodara. 


Tampangallo adalah sebuah gua alam yang terletak di Kelurahan Kaero, Kecamatan Sangalla, Tana Toraja. Jaraknya kira-kira 9 kilometer di sebelah Barat Makale dan tidak terlalu jauh dari Kambira Baby Grave. Tiket masuk lagi-lagi sebesar 10 ribu. Kata Pak Mangallo, semua objek wisata di Tana Toraja, baik yang populer maupun tidak populer, memiliki tarif tiket masuk yang sama, yaitu 10 ribu rupiah saja . 

Selfie with erong-erong dan tau-tau

Erong, peti mayat khas Toraja

Banyak tengkorak dan tulang belulang di Tampangallo
Di Tampangallo ini kami disambut tulang belulang dan tengkorak manusia sejak dari pintu masuk gua, hehe. Belum lagi yang didalam gua, banyak banget tengkorak dan tulang belulang orang-orang Toraja jaman dulu. Disini kami baru mengetahui kalau setiap ada yang meninggal, mereka akan mengadakan ritual kematian dan meletakkan patung kayu manusia kecil (Tau-tau) sebagai wadah jiwa orang yang meninggal itu. Dan untuk meletakkan 1 patung, butuh korban 24 kerbau! Wow! Jadi, orang-orang Toraja biasanya mengumpulkan uang banyak bukan buat pesta nikah tapi untuk ngadain ritual kematian. Mehong euy! Di kuburan gua alam Tampangallo ini terdapat banyak erong (peti mayat khas Toraja) dan tau-tau didekat erong-erong tersebut. 

Deretan tulang belulang :D

Lagi-lagi kumpulan tengkorak :D
Karena Tampangallo adalah gua alam, maka ga heran kalau pemandangan disekitar gua juga indah dan dengan angin semilir yang sejuk. Nah, ketika keluar dari gua saya menyebrangi jembatan kecil diatas sungai dan disambut area persawahan nan hijau. Saya menikmati pemandangan indah hamparan sawah sambil berjalan kaki melewati pematang sawah untuk kembali menuju ke jalan desa.

Yuk terus ikuti catatan trip to Tana Toraja ini ya gaess. Selanjutnya trip kami lanjutkan ke..Suaya!

Trip to Tana Toraja, Part 2: Kambira Baby Grave, Pohon Yang Menjadi Kuburan Bayi

Selain wisata rumah adat Tongkonan, Tana Toraja juga terkenal dengan wisata kuburan nya. Nah sebelumnya saya dan teman saya sudah ke desa wisata Kete Kesu dan Gantiri. Kedua tempat ini dikenal karena rumah adat Tongkonannya tentu saja. Tapi di Kete Kesu juga terdapat kuburan gantung, dimana kuburan terbuat dari batu dan banyak tengkorak serta tulang belulang manusia betebaran. Selanjutnya, perjalanan kami berlanjut ke sebuah kuburan lagi. Kambira Baby Grave namanya. 

Kambira Baby Grave terletak di Desa Kambira, sebelah tenggara Rantepao, atau kira-kira 9 kilometer dari kota Makale (Makale adalah ibukota Tana Toraja). Masuk ke Kambira cukup bayar 10 ribu aja dan kita harus menuruni jalan setapak untuk lokasi kuburan yang unik ini. Kambira Baby Grave adalah kuburan bayi dimana yang menjadi kuburannya adalah pohon! Iya pohon, kuburan pohon untuk bayi ini dinamakan Passiliran dan hanya bayi yang belum tumbuh giginya yang bisa dikuburkan didalam lubang-lubang di pohon Tarra ini. Getah pohon yang berwarna putih adalah simbolisasi dari air susu ibu. Pohon Tarra memiliki diameter besar, yaitu sekitar 100-300 cm, cukup besar untuk dijadikan kuburan bayi. Sebelum menguburkan bayi di pohon Tarra, tentu saja dibuatkan lubang terlebih dahulu, lalu setelah bayi dimasukkan, lubang tersebut ditutup dengan ijuk pohon enau. Fyi, ga semua orang Toraja melakukan hal ini ya, hanya penganut Aluk Tadolo atau kepercayaan kepada leluhur saja yang melakukan ritual ini ketika ada bayi yang meninggal. 

Di pintu masuk Kambira Baby Grave

Ini dia pohon Tarra, pohon kuburan bayi di Kambira
Yuk ikuti terus catatan perjalanan saya di Tana Toraja ini ya gaess. Next kita akan menuju ke Tampangallo, sebuah gua yang dijadikan kuburan terbuka. Gyaah kuburan lagi,, hahahaha.. :D

Trip to Tana Toraja, Part 1: Wisata Kuburan Gantung dan Rumah Adat Tongkonan di Kete Kesu dan Gantiri



Trip kali ini saya ke Sulawesi Selatan, tepatnya ke Makassar dan Tana Toraja dengan seorang kawan. Perjalanan dimulai dengan naik bis dari Semarang ke Yogyakarta turun di Terminal Jombor. Dari sini naik bus Trans Jogja nomer 2B dengan tarif 3600 ke halte trans di Terminal Condong Catur, lalu lanjut naik nomer 3B sampai Bandara Adi Sutjipto. Cuss naik Lion Air menuju Makassar, mendarat dengan selamat di Bandara Sultan Hasanuddin. Karena sampai sini sudah malam, bis Damri nya udah ga beroperasi, so kita naik taxi resmi bandara ke rumah makan Putri Minang dengan tarif 90 ribu untuk zona 1. Sehari sebelumnya udah booking kursi bus Bintang Timur (via call) dengan tarif 170 ribu per orang dan janjian meeting point dengan driver bus ini di rumah makan Putri Minang. Disini pun selain makan saya juga nebeng mandi dan ganti baju. 8 jam perjalanan dengan bis ini memungkinkan kami untuk tidur karena pastinya kami baru sampai di Tana Toraja keesokan harinya.

Bus Bintang Timur ini dikemudikan dengan mulus, amat sangat nyaman dengan kursi yang lebar nyaman lengkap dengan selimut pula. Langsung tidur nyenyak sepanjang 8 jam perjalanan. Sampai di Rantepao yang merupakan ibukota Toraja Utara sekitar jam 5 pagi. Kami sewa mobil untuk menuju ke tempat-tempat wisata di Toraja Utara dan Tana Toraja. Sewa mobil dan driver yang sekaligus jadi guide kami dengan tarif 400 ribu. Bila berminat ke Tana Toraja, daripada bingung-bingung cari rute sendiri di jalanan desa yang cukup ekstrim, lebih baik sewa mobil saja. 

Driver mobil yang kami sewa namanya Pak Mangalo, beliau orang Toraja asli. Rencananya kami akan diantar ke 8 lokasi wisata anti mainstream di Tana Toraja. Wisata anti mainstream disini sebenarnya lebih tepat disebut wisata horor karena mostly kami akan ngetrip ke beberapa lokasi kuburan terbuka khas Toraja. 

Tana Toraja memang populer dengan aneka wisata kuburannya. Hal itu karena adanya tradisi masyarakat setempat yang tidak mengubur jasad didalam tanah, melainkan meletakkannya di erong (wadah kubur kayu) ataupun terbuka ditanah atau di gua-gua. Tujuan pertama kami adalah Kete Kesu, desa wisata yang populer dengan rumah Tongkonan dan kuburan gantungnya. Desa ini terletak 5 kilometer saja dari Rantepao. Cukup dengan tiket masuk sebesar 10 ribu kita sudah bisa menjelajahi keindahan rumah Tongkonan dan mengeksplor kuburan gantungnya. Kete Kesu dikenal karena adat dan kehidupan tradisional masyarakatnya. Para wisatawan yang berkunjung ke Kete Kesu biasanya juga hunting foto dengan background rumah-rumah adat Tongkonan.

Rumah adat Tongkonan di Kete Kesu


Karena satu foto saja tidaklah cukup...
Perasaan saya awalnya mix banget antara takut dan antusias. Apalagi sambil nyetir, Pak Mangalo terus-terusan cerita soal kuburan terbuka yang tersebar di seantero Tana Toraja, seakan-akan melihat mayat diatas tanah adalah hal yang biasa saja. Pak Mangalo terus mengingatkan kami untuk tidak lupa melihat lokasi kuburan gantung di Kete Kesu, jangan cuma fokus di rumah-rumah Tongkonan nya aja. Kami pun menjawab "Yaa Pak" dengan dag dig dug. Kami mulai mengeksplor area rumah Tongkonan di Kete Kesu dan sampailah kami pada keputusan untuk terus jalan keatas demi melihat kuburan gantung. Meski takut, tapi kami berani-beraniin karena penasaran kayak apa sih bentuk dari kuburan gantung itu. Di area kuburan dan goa banyak betebaran tengkorak manusia. Pertama kali melihat tengkorak dan tulang belulang di Kete Kesu rasanya unik banget, takut-takut gimana gitu, belum pernah seumur-umur liat tengkorak manusia asli diletakkan begitu saja ditanah atau di erong. Hawa horor pun kental terasa ditempat ini. Apalagi kami datang kepagian dan pengunjung saat itu baru kami aja, hehe. Kuburan gantung yang terbuat dari batu itu umurnya diperkirakan sudah 500 tahun lebih, didalamnya tentu saja ada sisa-sisa tengkorak manusia. 

Area kuburan gantung Kete Kesu

Naik-naik ke puncak..kuburan :D

Pemandangan anti mainstream, tulang belulang dimana-mana
Lama kelamaan berada di tempat ini malah membuat kami antusias untuk foto-foto narsis dengan tengkorak. Bahkan perasaan takut kami akhirnya hilang karena menikmati keunikan Kete Kesu, terutama kuburannya. Okee puas dengan wisata rumah adat dan kuburan gantung Kete Kesu, kami balik ke parkiran dan seperti yang saya duga, Pak Mangalo "ngecek" apakah kami bener-bener sampai ke area kuburan gantung. Dan kami jawab dengan "pongah" : "Yaaaa dong paak". Ciee ciee yang akhirnya berani liat tengkorak, hahahaha

Nah dari sini kami ke Gantiri. Ini bukan tempat wisata sih, tapi merupakan salah satu lokasi lumbung padi yang tidak jauh tempatnya dari Kete Kesu. Selain itu Pak Mangalo masih memiliki hubungan kekerabatan dengan mereka yang tinggal di area Gantiri ini. Kami bisa masuk ke Gantiri dan melihat rumah Tongkonan yang paling besar dan unik dengan adanya 393 tanduk kerbau. Ah senangnyaaa, berasa tamu eksklusif, hehehe. 

Rumah Tongkonan super megah di Gantiri

393 tanduk kerbau!
Perjalanan trip kami di Tana Toraja belum berakhir ya gaess, masih ada 6 lokasi lagi yang akan kami kunjungi. Selanjutnya, mari cuss ke sebuah lokasi kuburan bayi. Penasaran kan seperti apa kuburan bayinya? Cuss mari kita ngetrip ke Kambira Baby Grave.

Comments

Featured Travel Note

A Trip to Hong Kong Disneyland, A Dream That Comes True

Catatan Mancanegara