Jalan-jalan ke Solo: Taman Sriwedari, Keraton Surakarta, Kampung Batik Laweyan


Berhubung lagi mesra-mesranya (baca: puyeng) sama thesis, bagaimana kalau jalan-jalan dulu? Itung-itung refreshing, menyegarkan otak yang sedang penat biar dapat inspirasi untuk nyelesaiin thesis secepatnya.. #alasan. Untunglah ada teman saya, Rofiq yang hari ini lagi cuti kerja. Kita mau one day trip ke Solo (Surakarta). Ada tiga destinasi kami hari ini yaitu Taman Sriwedari, Keraton Surakarta Hadiningrat, dan Kampung Batik Laweyan. Berangkat pagi dari Salatiga mbonceng Rofiq, lumayan..cepet juga sampai Solo nya, walaupun rada ngeri-ngeri gimana gitu soalnya Rofiq nyetir motornya cadas, suka ngebut #duh.

Okee, sampailah kita di Jalan Slamet Riyadi, Solo. Kami langsung menuju ke Taman Sriwedari. Tempat wisata ini adalah pusat seni bagi warga Surakarta. Disini terdapat gedung pertunjukan untuk menonton wayang orang. Adapun kisah wayang orang nya sendiri adalah berdasarkan cerita Ramayana dan Mahabarata. Buka mulai jam 10 pagi sampai jam 10 malam. Kami disini tidak lama, hanya sekitar 30 menit saja, untuk foto dan istirahat sebentar. Didepan Taman Sriwedari ada papan-papan penunjuk arah beberapa lokasi wisata di Solo. 

Next, kami melaju ke sebuah istana Jawa tradisional, yaitu ke Keraton Surakarta Hadiningrat. Keraton ini didirikan oleh Susuhunan Pakubuwana II pada 1744. Didalam keraton ini terdapat museum yang menyimpan koleksi milik kasunanan, termasuk juga hadiah pemberian dari raja-raja Eropa, gamelan, replika pusaka dan yang paling menarik menurut saya adalah koleksi kereta raja. Di keraton ini saya juga berfoto bersama 2 prajurit keraton. Oya, setelah foto dengan mereka, bisa memberi donasi seikhlasnya. Yang agak disayangkan waktu kami kesini ternyata sedang ada pemugaran, jadi ga bisa foto kece didepan pintu utama keraton #hiks. Tiket masuk museumnya cukup murah, 10 ribu aja. Kami menghabiskan waktu kira-kira 2 jam di Keraton Surakarta Hadiningrat, lanjut makan siang di lapak depan keraton, dan cuss menuju ke Kampung Batik Laweyan.

Papan penunjuk arah di depan Taman Sriwedari

Pelataran Keraton Surakarta Hadiningrat

Salah satu kereta raja

Salah satu sudut museum

Beberapa patung

Ngetrip irit ga belanja Batik, cukup narsis aja
Kampung Batik Laweyan adalah tempat wisata Batik di Solo yang populer dikunjungi wisatawan baik lokal maupun asing. Sebagai daerah sentra Batik, Kampung Batik Laweyan memiliki ratusan pengrajin Batik dan di sepanjang area ini banyak bertebaran butik-butik Batik. Berhubung trip irit, jadi kami ga beli Batik disini, cuma menjelajah aja masuk ke gang-gangnya. Nah berhubung udah sore, mari kita pulang ke Ungaran lagi dan "mesra-mesra"an sama si thesis lagi :D

Ini Serunya Berpetualang ke Curug Lawe Ungaran


Di hari Minggu yang cerah ini, saya dan teman saya, Rofiq, mau berpetualang ke Curug Lawe, sebuah air terjun yang terletak di Desa Kalisidi, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Walaupun dari lahir saya berdomisili di Ungaran, tapi seumur-umur baru kali ini saya ke Curug Lawe. Saya dijemput Rofic pagi hari dan segera melaju menuju Desa Kalisidi. Kondisi jalannya ga buruk-buruk amat dan sudah beraspal. Sesampainya di area parkir, kami langsung bayar parkir dan tiket masuk. Parkir motor 2000 aja dan tiket masuk per orang 4000 rupiah. Memulai trekking hari ini dengan menuruni tangga dimana ada tulisan We Love CLBK. CLBK kepanjangan dari Curug Lawe Benowo Kalisidi. Nah, ada 2 air terjun disini yaitu Curug Lawe dan Curug Benowo. Tapi hari ini saya hanya akan berpetualang ke Curug Lawe. Mungkin next time kalau ada kesempatan lagi baru deh saya ke Curug Benowo :).

Trekking nya seru juga, menyusuri pinggiran kali dengan pemandangan pepohonan. Ada spanduk-spanduk lucu seperti misalnya berikut ini: "Selamatkan anak bangsa dari bahaya kekurangan piknik." Lol. Anyway, pinggiran kalinya lumayan ekstrim, licin dan terjal, jadi musti hati-hati tingkat ekstra. Rutenya naik turun, jadi usahakan fisik dalam kondisi prima kalau mau ke Curug Lawe. Ada sebuah jembatan yang harus kita lewati. Jembatan dengan pegangan warna merah cetar ini awalnya bikin saya parno karena banyak lubang-lubang. Dengan segenap keberanian, akhirnya saya niatin juga dan malah ditengah jembatan saya sempat foto-foto juga karena pemandangan dari atas sini sungguh memanjakan mata. 

Oke deh, lanjut melewati sungai dengan banyak batuan dan trekking pelan-pelan, yang penting nyampe, jadi ga usah buru-buru, hehe. Di dekat jembatan berikutnya ada spanduk Area Pandang Lutung. Wow, disini juga ada lutung? Dimana lutungnya ya? Ah sayang sekali selama melewati area ini saya ga menemukan ke-eksis-an seekor lutung. Cuaca yang sejuk dan segar membuat kami tak cepat lelah untuk berjalan menapaki area ini. 

Akhirnya sampailah...ke pertigaan. Oh ternyata belum sampai sampai yah, hehe. Baiklah, dari pertigaan ini pilih jalur ke Curug Lawe. Setelah banyak menit berjalan, akhirnya sampai beneran di Curug Lawe. Oh indahnya, oh cantiknya!! Senangnya saya melihat air jatuh dengan derasnya dari atas. Airnya bersih bangeeet. Sungguh keindahan alam yang luar biasa. Memang sih tidak sebesar Air Terjun Grojogan Sewu di Tawangmangu, tapi menurut saya air terjun ini udah termasuk keren banget. Sungguh menyesal hati ini, menyesal kenapa ga dari dulu berpetualang kemari :D. 

Sebelum lanjut trekking lagi :D

Sungainya bening bersih dengan bebatuan besar disana sini

Air terjun mini, segerrr
Kami foto-foto dan jeguran disini sekitar 1,5 jam, lalu balik ke parkiran dengan rute yang sama. Oh ya ada juga spot air terjun mini didekat Curug Lawe yang bisa dijadikan spot foto juga. Jalan kaki sekitar 45 menit dan sampailah kami di parkiran. Puas rasanya berpetualang ke Curug Lawe hari ini, thanks untuk Rofiq yang sudah berbaik hati ngetrip sama saya.

Yuk Temukan Hidden Paradise di Pantai Wediombo Gunung Kidul


Liburan 3 hari ini saya habiskan di 3 pantai di Gunung Kidul, Yogyakarta. Kalau sebelumnya saya sudah posting tentang serunya camping ekstrim di Pantai Ngandong dan camping anti mainstream di Pantai Greweng, kali ini saya akan bahas mengenai trip ke Pantai Wediombo. Lokasinya sangat dekat dengan parkiran motor kami di Pantai Greweng. Karenanya kami memilih untuk jalan kaki saja sekitar 10 menit ke Pantai Wediombo. Nah sesuai namanya, pantai ini memang ombo (ombo dalam bahasa jawa artinya lebar, luas). Bener-bener lebar, pantainya luaaass banget. Pantai ini bisa dibilang cukup populer, ditandai dengan banyaknya toko suvenir, warung ataupun penjaja makanan kaki lima yang tersebar di area pintu masuk pantai. 

Hidden paradise di Pantai Wediombo

Laut bening + pantai luas + pasir bersih = cinta!
Begitu masuk menyusuri tepian laut di Pantai Wediombo, mata saya benar-benar dimanjakan dengan kecantikan laut biru, pasir bersih dengan ombak laut yang tidak besar. Ga heran kalau banyak yang jeguran dan piknik di area ini dikarenakan lokasinya benar-benar nyaman untuk rekreasi. Disediakan juga tempat-tempat bersantai dengan payung-payung besar yang bisa disewa. Tapi ketimbang hanya duduk diam dan menikmati view kami memilih untuk terus jalan sampai ke bagian ujung dari Pantai Wediombo. Disini terdapat hidden area yang oleh penduduk setempat diberi nama "putri mandi". Banyak juga yang berenang di hidden area ini, meskipun untuk ke tebingnya butuh perjuangan juga. Disini kami menghabiskan waktu sekitar 1 jam sambil sekalian foto-foto dan duduk-duduk menikmati indahnya view laut dari atas tebing batu. 

Mengasah skill photography

Selfie sambil deg-degan, takut jatuh, hehe
Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 2 siang, udah saatnya siap-siap balik ke parkiran dan pulang ke Semarang. Tak terasa waktu liburan 3 hari cepat sekali habisnya. Begitulah kalau bermesraan dengan alam, ga pernah ada bosennya, maunya liburan terus #eh. Untunglah traffic nya ga se-macet ketika kami ke Gunung Kidul. Kira-kira 7 jam kemudian kami sudah berada di Semarang lagi. Thanks ya sis Aniz, bro Ohhan dan bro Jeffry untuk touring dan ngetrip barengnya.

Pantai Greweng, Tempat Camping Anti Mainstream


Liburan kali ini saya bersama 3 orang teman melakukan aktivitas seru yaitu camping di pantai. Hari sebelumnya kami camping di Pantai Ngandong, dimana kami camping ekstrim diatas tebing. Nah menjelang siang hari kami beranjak menuju ke Pantai Greweng. Untuk mencapai pantai ini dibutuhkan waktu kira-kira 1 jam dari Pantai Ngandong lalu lanjut jalan kaki sekitar 40 menit dari area parkir, trekking naik turun di area bukit yang cukup terjal.

Istirahat dulu, gan! :D
Terus terang saja, kuping saya masih berasa asing mendengar nama pantai ini. Ga heran sih, karena pantai ini memang belum banyak dikenal, anti mainstream lah pokoknya. Biasanya untuk daerah pantai di Gunung Kidul orang-orang lebih mengenal Pantai Baron atau Pantai Indrayanti. Namun akhir-akhir ada saja nama-nama pantai baru di Gunung Kidul yang sedang ngehits. Nah mungkin saya yang kuper atau bagaimana tapi memang nama Pantai Greweng ini baru kali ini saya dengar.

Aliran air sungai yang menuju ke laut
Nah, lanjut ke aktivitas trekking menuju ke Pantai Greweng. Jalur trekking nya sendiri melewati area persawahan, kebun, hutan, naik turun bukit dengan banyaknya pohon disana sini. Semua ituh demi bisa sampai ke pantai yang lokasinya cukup tersembunyi ini. Beberapa kali kami istirahat dulu melepas lelah dengan duduk duduk diatas bebatuan besar yang banyak betebaran di jalur trekking menuju pantai ini. Tapi semua trekking melelahkan itu terbayarkan sudah sodara-sodara!

Kami melihat sebuah penampakan pantai di kejauhan, ah makin semangat kaki-kaki ini melangkah, yeah! Dan benarlah, panorama indah Pantai Greweng menyambut kami dan seketika rasa lelah itu hilang lenyap tak berbekas *lebay*. Menatap dua bukit yang mengapit pantai ini membuat kami puas luar biasa akhirnya bisa mewujudkan target kami camping ceria di pantai dengan pasir putih bersih ini. Sebelum mendirikan tenda, kami senang hepi dan bahagia melihat ombak besar yang menggulung-gulung. Uniknya, disini ada aliran air sungai yang menuju kelaut. Nah kami pun mendirikan tenda tepat didepan aliran sungai ini, menghadap ke arah laut. Ketika malam tiba, kami menyalakan api unggun lalu bersantai ria sambil menikmati view aliran sungai dan laut, ditambah mendengar deburan ombak laut yang besar. Amboyyy...

Tenda kami

Ah..betapa kecilnya diri ini..
Oh ya, selain Pantai Greweng ini, dibalik bukit ada Pantai Sedahan, tapi untuk mencapainya butuh waktu lebih lama lagi dan trek nya lebih ekstrim, so kayaknya untuk kali ini Pantai Greweng aja udah cukup puas deh, hehe. Eniwei, fasilitas di Pantai Greweng ini bisa dibilang minim, ya maklum namanya aja pantai baru. Untuk bayar toilet dan kamar mandinya dihitung per ember, yaitu seharga 2000 rupiah/ember. Padahal ember nya mini-mini gitu, tapi ya sudahlah.. Yang penting bisa ngetrip berpetualang ke Pantai Greweng ini sudah sangat membuat hati ini bahagia..

Sebelum packing dan lanjut trekking, mari selfie dulu :D
Malamnya ada kejadian kurang mengenakkan, yaitu.. hujan keras disertai badai! Kami nyaris ga tidur karena "mempertahankan" tenda biar ga kabur dibawa angin, wkwkwk ga bakalan lupa kejadian heboh pada dini hari itu. Paginya dengan sedikit linglung karena ga tidur #hiks kami bersih-bersih tenda dan packing untuk mulai trekking balik ke parkiran. Target ngetrip kami masih ada satu lagi yaitu Pantai Wediombo yang jaraknya hanya sekitar 5-10 menit jalan kaki dari area parkir.

Begini Serunya Camping Ekstrim di Pantai Ngandong Yogyakarta


Liburan panjang mari dimanfaatkan dengan camping sepuasnya di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Ini adalah pengalaman pertama saya camping. Ya dulu waktu jaman sma pernah sih camping tapi kan itu karena ospek dan ga asyik banget pokoknya. Kali ini atas ajakan ngetrip dengan beberapa teman saya langsung yes yes yes aja soalnya lagi pengen banget nuansa adventure yang belum pernah saya dapat sebelumnya, yaitu camping di pantai. Nah, selama 3 hari di Kabupaten Gunung Kidul kami ngetrip ke 3 pantai, namun hanya 2 pantai yang menjadi target camping kami, yaitu Pantai Ngandong dan Pantai Greweng. Sedangkan pantai terakhir yang kami kunjungi adalah Pantai Wediombo yang jaraknya cukup dekat dari area parkir Pantai Greweng.

View Pantai Ngandong dari atas tebing
Untuk menuju ke Pantai Ngandong, kami touring motoran dari Semarang dan setelah menempuh 8,5 jam on the road karena maceeet akhirnya sampai juga di pantai yang ombaknya cukup besar ini. Sebenarnya kalau ga masa liburan ya ga sampe 8 jam kayak gitu, mungkin "hanya" sekitar 4-5 jam gitu deh. 8 jam on the road ini cukup bikin pantat mengeluarkan asap, hahaha.. sampai kami beberapa kali istirahat dulu di spot-spot seperti pom bensin ataupun indomaret/alfamaret. Karena sudah malam hari ketika sampai di Pantai Ngandong ini, kami kurang bisa mengeksplore dimana kami harus camping. Apalagi badan udah capek banget, walhasil biar agak segeran kami mandi dan makan dulu di warung deket pantai. Pengennya numpang tidur sekalian di warung itu tapi ya ga mungkin banget lah, itu namanya mengingkari semangat adventure #halah. Dengan semangat membara akhirnya kami menemukan spot camping. Dimana? diatas tebing! Cukup ekstrim karena biasanya setau saya camping cukup di area pantai yang berhadapan dengan laut tapi di camping ini kami musti naik tebing yang terjal dulu di malam yang gelap *terimakasih senter*. Terus terang saya belum bisa build up tenda sendiri, jadi saya serahkan pada ahlinyaa, sambil bantu-bantu sebisa saya.. #newbie. Eniwei, tidur pertama kali di dalem tenda cukup challenging juga. Sempet susah tidur tapi akhirnya berhasil juga tidur walau cuma 2-3 jam. 

Tebing tempat kami camping

Pagi-pagi dapat view kece kayak gini
Bangun pagi sekitar pukul 6, sempet merasa kecewa karena ketinggalan momen sunrise tapi tak apalah, akhirnya terlihatlah semua keindahan Pantai Ngandong. Even better karena nge-view nya dari atas tebing, hahahayyy :D. Dan ternyata walaupun malam sebelumnya terasa ekstrim banget naik ke tebing untuk camping, tapi saya senang sekali untuk pengalaman pertama camping di pantai. 

Bikin pengen jeguran
Karakter Pantai Ngandong sendiri seperti apa yang saya bayangkan, yaitu pasirnya bersih, banyak batu karang dengan view laut yang biru menakjubkan. Sebelumnya saya pernah ngetrip ke Pantai Sadranan dan Pantai Pok Tunggal di Gunung Kidul dan pantai-pantai ini memiliki karakter yang hampir sama dengan Pantai Ngandong.

Okee, tak wokeh rasanya bila hanya berkutat di atas tebing. Saya pun turun dan berjalan di sekitaran area pantai, membasahi kaki ini dengan air laut yang hangat dan menikmati sinar matahari yang cetar di pagi hari. Menjelang siang hari, kami packing dan bersiap untuk menuju ke target camping kami yang berikutnya yaitu Pantai Greweng.

Comments

Featured Travel Note

A Trip to Hong Kong Disneyland, A Dream That Comes True

Catatan Mancanegara