Pantai Kasap, Raja Ampat nya Pacitan


Dalam one day trip hari ini, saya dan teman-teman mengunjungi 3 pantai dan 1 sungai yaitu Pantai Ngiroboyo, Sungai Maron, Pantai Pasir Putih Watu Karung, dan Pantai Kasap. Di postingan ini saya akan membahas tentang Pantai Kasap yang memiliki view amazing sehingga banyak juga yang mengatakan kalau Pantai Kasap ini adalah Raja Ampat versi Pacitan :D.




Nah, dari Pantai Watu Karung letaknya tidak terlalu jauh, dari depan lokasi pembelian tiket masuk Pantai Watu Karung ada persimpangan jalan ke arah kiri dan ada papan penunjuk arah ke beberapa pantai, salah satunya Pantai Kasap. Ikuti aja jalan itu nanti ada jembatan dan tempat parkir. Dari situ tinggal jalan kaki saja untuk menuju ke Pantai Kasap. Jalan di sepanjang jalan setapak untuk melihat pemandangan amazing Pantai Kasap. Rasa lelah setelah mengunjungi 3 destinasi sebelumnya pun tak terasa lagi, saya hanya ingin melihat indahnya view dari atas bukit. Berjalan kaki juga cukup aman, kok, tidak terlalu terjal dan ekstrim. Yang penting tetep hati-hati kalau selfie perhatikan dimana kamu menapak ya takutnya jatuh ke laut #hiii.


Anyway, saya menapaki sebagian bukit ini dan ga sampai di puncak bukit karena waktu yang limited banget dimana pas itu udah sore dan kami harus segera bergegas pulang ke Semarang. Kalau berhasil sampai puncak bisa dapat view ala-ala Raja Ampat loh, kereeen. Tapi walaupun di area bukit ini cuma sebentar, saya sangat puas menikmati view alam laut dan tebing-tebing nan hijau dan besar-besar dari atas bukit. Yuk buruan ngetrip ke Pantai Kasap, dijamin bahagia jiwa dan raga deh :D

Nonton Bule Bule Surfing di Pantai Watu Karung Pacitan


Setelah puas berpetualang naik kapal menyusuri Sungai Maron yang lokasinya berdekatan dengan Pantai Ngiroboyo, saya dan teman-teman melanjutkan trip ke Pantai Pasir Putih Watu Karung. Sesuai namanya, pantai yang terletak di Desa Pringkuku ini pasirnya memang sangat putih dan bersih. Bling bling cetar kena cahaya matahari saking bersihnya #LebayDikit. Perjalanan kemari juga tidak mudah sama seperti waktu mau ke Pantai Ngiroboyo, jalannya terjal naik turun ngeri ngeri sedep lah, tapi worth it banget begitu udah sampai di Pantai Watu Karung segala beban nestapa serasa menghilang. Digantikan perasaan bahagia menatap indahnya samudra... oh yess..

Dijamin bikin kamu pengen jeguran ceria :D

Seorang bule yang mau surfing
Anyway, pantai ini berasa kayak pantai di Bali loh, beberapa bule terlihat berseliweran, ada juga yang membawa papan surfing. Oh ternyata Pantai Watu Karung juga ngetop sebagai destinasi surfing yang bagus. Kabarnya, ombak ditengah laut bisa mencapai ketinggian hingga 4 meter. Ombak kelas dunia. Ditambah laut yang bening biru kecee.. Dan segenap rentetan bebatuan tebing dan karang yang besar besar, makin menambah indahnya Pantai Watu Karung. Tapi jeguran disini aman kok untuk pengunjung, terbukti dengan banyaknya yang berenang di sekitar pantai, ombak yang ada di tepian tidak besar jadi masih termasuk aman. Meski begitu, hati-hati dan waspada saat berenang di laut tetep harus ya.

Oh my God indahnyaaa....
Bagaimana dengan urusan perut? Oh tenang sodara-sodara.. disini ada banyak warung, hehehe... beberapa warung menjual menu ikan laut. Saya cukup beli pop mie ajah, yang murmer hehe maklum backpacker irit. Area Pantai Watu Karung bisa dieksplore dengan berjalan kaki menyusuri pantai dari ujung sana ke ujung sini. Panasnya cuaca bisa bikin kamu eksotis mendadak, kulit cepet item disini, hehehe.. Saya sendiri anti bawa payung kalau ke pantai, soalnya saya suka sekali dengan panas matahari di daerah pantai yang bisa bikin kulit menggelap eksotis. Saya berada di pantai ini selama kira-kira 3 jam, sekalian mandi dan ganti baju. Next, menuju ke destinasi terakhir hari ini yaitu Pantai Kasap.

Pantai Ngiroboyo dan Petualangan Menyusuri Sungai Maron Pacitan


Menjejakkan tapak kaki di Pacitan lagi. Kali ini ke Pantai Ngiroboyo dan Sungai Maron. Pantai Ngiroboyo letaknya di Desa Valak Kalak dan pantai ini masih sepiii bingit. Masuknya gratis dan area nya luasss sangadh. Pas kemarin kesini, warung yang buka cuman satu dengan toilet yang terbatas. Karakter pasir di pantai ini ga putih, cenderung abu dan ombaknya besar. So sangat ga aman untuk jeguran ria disini. Tapi daya tarik pantai ini sebenernya terletak di sungai yang terhubung langsung dan berada di satu area dengan pantai ini, Sungai Maron namanya. Nah, kalo mau jeguran ceria ya di muara yang jadi pusat pertemuan sungai dan laut ini, soalnya airnya tawar tapi dasarnya pasir, jadi unik gitu. Pantai air tawar, lol.

Santai dulu didepan Pantai Ngiroboyo

Dibelakang saya adalah muara pertemuan air laut dan air sungai
Untuk menyusuri sungai ini, disediakan kapal-kapal sewaan dengan tarif 100 ribu per kapal. Untunglah kami datang ber-8 so bisa share cost, hehe.. itulah kenikmatan trip rame-rame, bisa patungan apa aja ^^. Eniwei, sebelum naik kapal, kami pakai life jacket dulu dan dikasi sedikit "wejangan" untuk ga masuk ke area Teleng Sirah di salah satu sudut sungai ini, karena area ini angker dan amat sangat dalam, sekitar 150 meter. Kabarnya sih dari area Teleng Sirah inilah banyak terdapat ikan-ikan berukuran besar yang suka muncul, tapi pas kapal kami deket-deket area situ, ga ada yang muncul, huhu. 

Keindahan alam Sungai Maron
Kapal pun melaju cepat sejauh 4 km, bolak-balik total sekitar 8 km. Cukup jauh, makanya saya puas banget diatas kapal selfie ceria sambil enjoy pemandangan yang sungguh indah sepanjang sungai. Pokoknya mesti hati-hati aja jaga keseimbangan biar kapalnya ga terbalik, hehe. Next perjalanan kami berlanjut ke Pantai Pasir Putih Watu Karung dan Pantai Kasap.

Taman Margasatwa Semarang, Perlu Tambahan Koleksi Hewan

Di Semarang ada sebuah kebun binatang yang seumur-umur belum pernah saya kunjungi. Terus terang, alasannya adalah karena beberapa teman cukup kecewa setelah mengunjungi kebun binatang ini. Apa sih nama bonbinnya? Bonbin ini bernama Taman Margasatwa Semarang. Sering juga disebut sebagai Kebun Binatang Mangkang, karena lokasinya yang berada di daerah Mangkang. Apa sebenarnya yang membuat saya memutuskan ngetrip ke bonbin ini? Tak lain dan tak bukan adalah karena saya pengen naik becak air bentuk bebek yang unyu-unyu, hehehe. Hawa childish bisa merasuki siapa saja, termasuk orang yang sudah dewasa umurnya kayak saya.

Okee, dari Ungaran saya naik bis Trans Semarang, transit di halte Pemuda dan turun di Terminal Bus Mangkang. Taman Margasatwa Semarang letaknya ada di seberang terminal ini. Kalau takut nyebrang, bisa pake jasa ojek aja seharga 5000, soalnya situ daerah padat lalu lintas. Nah karena ini masih musim liburan Lebaran, jadi harga tiketnya agak mahal dikit. Biasanya cuma 5000 rupiah, kali ini jadi 7500 rupiah. 

Dan seperti yang udah saya duga, bonbin ini bisa dibilang masih amat sangat sederhana. Ataukah mungkin karena saya udah pernah menikmati bonbin yang besar sekali seperti misalnya Batu Secret Zoo di Jatim Park 2 Kota Batu, jadi ngetrip ke bonbin Semarang ini terasa ordinary buat saya. Hiks ga expect banyak sih, yang penting cuma pengen naik becak air. Koleksi hewan juga ga banyak, bahkan bisa dibilang beberapa hewan tinggal di kondisi kandang yang agak kasian gimanaa gitu..

Sepertinya memang perlu penanganan lebih lanjut untuk bonbin ini, soalnya kalau melihat dari potensi, luas area dan lokasinya, Taman Margasatwa ini punya prospek lebih oke kalau dikembangkan lebih lagi. Apalagi bonbin ini banyak pengunjungnya, apalagi pas musim liburan seperti saat ini. Banyak yang piknik dibawah pohon-pohon yang rindang, nggelar klasa (buka tikar) di taman-taman di bonbin ini. Cocok lah suasananya untuk liburan santai bersama keluarga. Banyak penjaja makanan, tapi harganya agak mahal sih menurut saya. Saya sendiri cuma beli 1 sosis bakar kecil dengan harga 15 ribu! 

Selain koleksi hewan, bonbin ini juga menyediakan area permainan anak-anak, flying fox, kereta mini, becak air, perahu kayuh, perahu yang agak gede digerakkan pake motor), photo booth untuk narsis sama hewan, waterboom, dan museum satwa. Saia cuss langsung naik becak air seharga 5000 aja. Dengan becak air ini, saya mengitari danau buatan ditemani beberapa burung pelikan dan kadang-kadang ada suara monyet juga yang lompat-lompat dari satu pohon ke pohon lainnya disekitar danau ini. Next, saya naik kereta mini keliling area bonbin dengan hanya membayar 3000 rupiah. Penjual suvenir juga bertebaran, sama banyaknya dengan penjual mainan anak-anak. Kayaknya memang bonbin ini diprioritaskan untuk anak-anak deh, hehe. Overall, Taman Margasatwa Semarang ini memberikan nuansa sejuk di daerah Mangkang yang panas.

Becak air

Danau buatan

Kali Pancur Getasan dan Agrowisata Salib Putih, Wisata Alam Populer di Salatiga

Sudah sebulan lebih saya ga ngetrip, merindu alam yang hijau nan segar. Makanya kali ini saya backpackeran ke area Kecamatan Getasan yang sejuk, tepatnya ke Air Terjun Kali Pancur di Desa Nogosaren. Letaknya sekitar 14 kilometer disebelah barat Kota Salatiga. Menuju kemari dengan naik motor. Sebenarnya bisa ditempuh dengan kendaraan umum tapi mungkin agak ribet. Rutenya bila naik angkot kearah Kopeng lalu naik ojek dari pertigaan Desa Wates ke air terjun ini jaraknya kira-kira 3,5 kilometer. 

Selama perjalanan mata saya dimanjakan dengan pemandangan hamparan lahan pertanian yang ada di lereng Gunung Telomoyo dan Merbabu. Sesampainya diparkiran, kami bayar tiket masuk 3000 rupiah aja sudah termasuk bea parkir. Lalu trekking ke lokasi air terjun dengan menuruni 850 anak tangga. Turunnya sih asik-asik aja, apalagi pemandangannya aduhai. Tapi nanti kalau pas naiknya itu waduuh siapin fisik yang kuat aja dah hehehe. Air terjun Kali Pancur jaraknya sekitar 1 kilometer dari area pintu masuk. Anak tangganya sih sudah permanen, tapi ya musti tetep ekstra hati-hati karena dibeberapa bagian cukup terjal dan licin, apalagi ga ada pegangannya.

Kepuasan pun saya dapatkan ketika berhasil sampai ditempat ini, air terjun dengan ketinggian sekitar 150 meter ini bisa dibilang cukup cantik walaupun disekitaran air terjun ada sedikit sampah, hiks. Saya sebenernya paling sedih kalau liat objek wisata bertaburan sampah. Bikin jelek, walau cuma sedikit. Naaah seperti yang udah saya tulis tadi, naik untuk balik ke tempat parkir itu yang cukup challenging. Tapi yah dinikmati aja dah perjuangan balik keatasnya, sekalian nurunin berat badan.

Sampai diparkiran, saya dan teman saya memutuskan untuk makan dan santai di Agrowisata Salib Putih Salatiga. Jadilah perjalanan kami teruskan ke arah Kopeng. Terletak di kaki Gunung Merbabu sekitar 15 menit atau 4 kilometer dari Kota Salatiga. Resort ini cukup populer di Salatiga dan sering dijadikan tempat retreat, seminar, pelatihan ataupun aktivitas outbond. Tidak hanya sebagai resort, Agrowisata Salib Putih juga memiliki perkebunan cengkeh, kopi, kapuk randu dan peternakan sapi perah. Kata teman saya, lokasi ini juga biasa dijadikan tempat camping remaja. Dari sini saya bahkan bisa melihat pemandangan Rawa Pening dan Kota Salatiga dari kejauhan. 

Harga makanan disini juga so so, ga terlalu mahal, yang penting bisa relax sejenak melepas lelah sambil update status :)

Comments

Featured Travel Note

A Trip to Hong Kong Disneyland, A Dream That Comes True

Catatan Mancanegara