Taman Djamoe Indonesia, Yuk Belajar Mengenal Aneka Tanaman Jamu


Saya orang Ungaran, Kabupaten Semarang dan akhir-akhir ini lagi suka jalan-jalan ke sekitaran Semarang aja, alias ga jauh-jauh, semisal ke Lawang Sewu, Sam Poo Kong, The Fountain Waterpark, Watu Gunung, dan lain-lain, hehe. Salah satu tempat wisata sejuk yang berlokasi di pinggir jalan dan gampang ditemukan adalah Taman Djamoe Indonesia. Letaknya di jalan raya Semarang-Bawen, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, tepat di seberang SMA 1 Bergas. Tiket masuk hari biasa 7500 dan weekend 10 ribu rupiah, dan buka dari jam 8 pagi sampai 4 sore. Tempat wisata ini tempat wisata apa sih? Begini, Taman Djamoe Indonesia berisi ratusan jenis tanaman jamu yang tersebar di lahan yang luasnya kurang lebih 3 hektar. Lokasi ini dimiliki oleh perusahaan jamu Nyonya Meneer dan cocok banget untuk yang doyan wisata edukasi. Ga hanya untuk edukasi mengenal aneka tanaman jamu yang bentuknya unik-unik, tapi juga untuk rekreasi. 

Mata serasa dimanjakan dengan hijaunya tanaman yang ada disini. Ditambah cantiknya kolam mini dengan jembatan mungil diatasnya. Taman Djamoe Indonesia juga punya tempat penjualan aneka tanaman, gazebo untuk duduk-duduk, kolam air mancur mini dan rumah kaca tempat menanam beberapa jenis tanaman. Dua hal yang tidak saya nikmati disini adalah spa dan restorannya. Karena...sedang tutup! Mungkin saya datengnya kepagian, aah. Kalau dari info yang saya dengar, menu di restonya adalah menu masakan Jawa dan juga ada aneka menu jamu. Beruntung saya kesini pagi jadi masih sepi, cuma saya aja pengunjungnya waktu itu, hehe. Saya puas-puasin foto dengan bantuan tripod. Maklum ga ada teman yang bisa diajak piknik bareng kali ini, jadilah tripod berukuran setengah badan itu jadi partner ngetrip ceria saya kali ini.

Pose melankolis

Unik ya bentuk tanaman yang ini

Ini Serunya Wisata Selfie di Old City 3D Trick Art Museum Semarang


Akhirnya Semarang punya museum 3D juga. Museum 3D yang diberi nama Old City 3D Trick Art Museum ini berlokasi ini Jl. Letjen Suprapto, atau lebih gampangnya di Kawasan Kota Lama Semarang. Wisata apa sih ini? Menurut saya, ini namanya wisata selfie, hehe. Museum ini memiliki lebih dari 100 background bernuansa 3D dimana kita bisa selfie dengan gaya-gaya unik sesuai dengan backgroundnya. Tiket masuk 40 ribu rupiah, buka setiap hari dari jam 10 pagi sampai 10 malam. 

Karena saya ngetrip sendirian, maka tak lupa saya bawa tripod andalan. Tapi ternyata tripod saya ga terlalu kepake sodara-sodara, karena mas-mas staff nya baik hati banget mau motoin selama disini. Jadi tripod hanya saya gunakan di beberapa background saja didekat pintu masuk sampai akhirnya saya didekati seorang staff yang kayaknya kasian liat kerempongan saya, hehe. Mas staff yang baik hati itu berbaik hati motretin aksi pose suka-suka saya di Old City 3D Trick Art Museum

Didekat pintu masuk ada ruangan yang paling besar, dengan replika Patung Liberty serta background kota New York. Didepannya ada Piramida Mesir, dan bangunan Old City dengan jembatan "horor". Banyak sekali background seru disini. Ga keitung berapa kali saya selfie di museum ini. Beberapa background seru yang lain yaitu laba-laba raksasa, wajah Monalisa, efek kejatuhan uang, naik mobil terbang, berenang sama Nemo, balap karung, buaya, tari balet, sayap malaikat, bertarung dengan monster, eksis didalam bola kaca, foto dengan orang-orang ternama, dikejar monster, memegang kepala monster, dll. Uniknya disini juga ada spot nonik Belanda, jadi bisa foto dengan baju khas Belanda dan background kincir angin. Tak ketinggalan juga ada kotak Barbie dan background Bin Ben di kota London. Dan segenap background lucu lainnya. Gambar-gambar 3D disini juga ga itu-itu aja, karena pihak museum mengganti setiap beberapa bulan sekali.

Kagak takut! Ayo tarung!

Old City 3D Trick Art Museum di Kawasan Kota Lama Semarang

Yuk Intip Megahnya Candi Prambanan di Yogyakarta


Sampailah saya di Candi Prambanan. Inilah dia destinasi terakhir saya untuk one day trip hari ini setelah sebelumnya saya ngetrip ke Candi Kalasan, Candi Sojiwan, dan Keraton Ratu Boko. Cuaca yang amat panas membuat saya meleleh, keringetan yang teramat sangat #lebay. Tapi puas rasanya akhirnya saya bisa ngetrip ke kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia ini. Dibangun pada abad ke-9 dan dipersembahkan untuk Trimurti yang merupakan 3 dewa utama dalam agama Hindu, yaitu Brahma (dewa pencipta), Wishnu (dewa pemelihara), dan Siwa (dewa pemusnah). Berbeda dengan Candi Borobudur yang bentuknya luas dan besar, Candi Prambanan ini bentuknya lebih ramping dan lebih tinggi yaitu 47 meter, 5 meter lebih tinggi dari Candi Borobudur. Selain terbesar di Indonesia, Candi Prambanan adalah salah satu candi terindah di Asia Tenggara.

Nah dulu saya sudah pernah ke candi ini, tapi hanya untuk menonton pementasan Sendratari Ramayana (tugas kuliah #wajib). Tapi waktu itu tentu saja malam hari dan belum sempet jalan-jalan mengeksplor candi. Sendratari Ramayana sendiri diadakan pada saat bulan purnama dan kisahnya merupakan interpretasi dari relief yang ada pada dinding Candi Prambanan.

Okeeh, dengan tiket masuk 30 ribu mulailah saya menjelajah candi ini. Di pelatarannya tersedia peta papan penunjuk arah dan kolam kecil. Taman-taman disini diatur dengan rapi dan indah, bikin perjalanan ke candinya makin semangat aja. 

Eniwei, Candi Prambanan ini ramai sekali pengunjungnya. Sepertinya ga ngaruh mau weekdays or weekend tetep aja rame. Saya kemari hari Kamis dan nuansanya seperti weekend saja. Susah cari spot-spot narsis yang ga ada orang, hehe. Kompleks candi ini bener-bener megah, luar biasa pemandangannya, dengan candi-candi besar yang menimbulkan decak kagum. Disini juga disediakan Prambanan Audio Visual, untuk menonton film tentang candi yang megah mewah ini. Nah kalau fisik anda belum kecapean selepas mengeksplor candi ini, bisa lanjut ke Candi Sewu yang masih satu kompleks dengan Candi Prambanan, hanya berjarak sekitar 800 meter. Candi Sewu ini berkaitan dengan legenda Putri Roro Jonggrang, maka disebut juga Candi Roro Jonggrang. Alkisah dulu putri ini meminta dibangunkan candi dengan 1000 arca sebagai syarat mau dinikahi Bandung Bondowoso. Ternyata Putri Roro Jonggrang kemudian curang dan akhirnya dia dikutuk menjadi arca ke-1000. Nah bapak tukang becak yang mengantar saya hari ini bilang kalau dia pernah melihat patung Roro Jonggrang itu berubah menjadi sosok Roro Jonggrang dan menari-nari. Tapi itu hanya bisa dilihat oleh orang-orang "yang bisa lihat". Entah cerita bapak ini benar atau tidak, tetap saja bulu kuduk saya berdiri, hii... Ah ya, saya belum masuk ke area Candi Sewu ya sodara-sodara, semoga ada kesempatan lagi untuk ngetrip kesini.

Saya menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam di kompleks Candi Prambanan dan setelah keluar dari kompleks, saya naik bus Yogyakarta-Solo. Karena ga ada bis yang langsungan ke arah Semarang, saya turun di Kartasura untuk naik bus ke Semarang. Dari Prambanan ke Kartasura saya membayar 10 ribu, dan dari Kartasura-Semarang saya membayar 25 ribu rupiah (bus patas). 

Alternative lain kalau pengen pulang dari Yogyakarta ke Semarang dari Candi Prambanan ya naik bus Trans Jogja koridor 1A dari halte Prambanan dan transit di halte Bandara. Kemudian naik bus koridor 3B dan transit di halte Condong Catur. Terakhir, naik bus koridor 2B ke halte Terminal Jombor. Nah dari sini langsung deh naik bus patas Yogyakarta-Semarang :D.

Walau panas mendera, namun hatiku bahagiaa..

Ratu Boko Palace Yogyakarta, Reruntuhan Keraton yang Megah


Kebetulan saya bukan penggemar film Ada Apa Dengan Cinta 2. Jadi sewaktu berkunjung ke Ratu Boko Palace di Yogyakarta, saya ga ngeh and had no idea kalau tempat wisata ini adalah salah satu lokasi syuting film yang dibintangi Dian Sastro itu. Saya baru tau ketika diberitahu seorang kawan yang melihat foto saya di Facebook dan berkomentar "ciee yang lagi di lokasi syutingnya AADC 2". Langsung saya reply komentar tersebut dengan "eh iya toh? eh aku ga tau hahahaha" *sambil garuk-garuk kepala*.


Anyway, saya berkunjung ke Situs Ratu Boko dengan becak, setelah sebelumnya mengunjungi Candi Kalasan dan Candi Sojiwan. Ratu Boko Palace berjarak kira-kira 3 kilometer dari Candi Prambanan dan saat ini sedang sangat ngehits, terutama ngehits karena view sunset nya. Kompleks ini luas sekali, sekitar 25 hektar dan sudah ada sejak abad ke-8. Kalau melihat dari sisa-sisa bangunannya, Ratu Boko diperkirakan adalah bekas keraton atau istana raja dimasa lampau. Nama Ratu Baka sendiri berasal dari legenda setempat yang menyebutkan nama tersebut adalah ayah dari Loro Jonggrang.

Masuk ke kompleks ini, saya membayar seharga 25 ribu, menurut saya ini wajar-wajar saja karena memang tempatnya aduhai dan dari reruntuhannya sekalipun, area ini masih terlihat elit. Di area ini terdapat gapura yang biasanya jadi spot foto-foto narsis di Instagram, terutama foto sunrise dan sunset. Terdapat juga Candi Pembakaran dan Sumur Suci (The Holy Well), alun-alun dengan view taman-taman yang indah, Paseban yang dijaman dahulu kala dipakai untuk ruang tunggu tamu-tamu yang ingin bertemu raja. Selain itu ada juga Pendopo, Keputren (Princessly Palace), dan gua.

Diluar area reruntuhan keraton terdapat resto, toko suvenir, Plaza Andrawina, pusat informasi dan area camping. Pengelola kompleks juga menyediakan paket edukatif arkeologi dan pemandu wisata. Tapi kalau saya sih, yang mandu wisata ya hape saya sendiri hehehe, maklum namanya juga backpacker. Wokeeh balik ke abang tukang becak dan lanjut ke destinasi terakhir hari ini, Candi Prambanan.

Candi Kalasan Yogyakarta dan Candi Sojiwan Klaten, Mungil dengan Nilai Historis Tinggi


Sesekali saya suka traveling sendirian saja. Hanya berteman hape dengan kamera kualitas ala kadarnya dan tas backpack saya yang isinya paling cuman dompet, payung, dan powerbank. Kali ini saya ngetrip ke beberapa candi di Yogyakarta yaitu Candi Kalasan, Candi Sojiwan, Ratu Boko Palace, dan Candi Prambanan. Di postingan ini saya cerita sedikit mengenai perjalanan saya ke Candi Kalasan dan Candi Sojiwan. 

Dari Ungaran saya naik bus ke Yogyakarta, tarif ekonomi harga 30 ribu. Kadang-kadang bisa cuman 25 ribu sih, tapi pas kali ini kok disuruh bayar 30 ribu. Sampai di Terminal Jombor langsung naik bus Trans Jogja bayar 3600 aja, naik bus koridor 2B turun di halte Terminal Condong Catur. Lalu lanjut naik bus koridor 3B dan turun di halte trans Bandara, dan terakhir naik bus koridor 1A yang mengantar ke halte Kalasan dan halte Prambanan.

Saya turun di halte trans Kalasan lalu menyeberang ke Candi Kalasan. Candi ini menurut saya paling strategis karena letaknya dipinggir jalan, mudah sekali ditemukan. Setelah bayar tiket 2000 rupiah, saya pun mengeluarkan senjata andalan saya kalau jalan-jalan sendirian yaitu... tripod! Ya gitu deh, secara ga disetiap tempat kita bisa minta tolong difotoin sama orang yang lewat (dan ga enak juga minta tolong terus), mending bawa tripod biar bisa puas moto diri sendiri, hehehe. 

Sesuai namanya, Candi Kalasan terletak di Desa Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Candi ini dikategorikan sebagai candi Buddha dan hanya berjarak 2 kilometer dari Candi Prambanan. Candi Kalasan diperkirakan dibangun pada abad ke-8. 


Area candi ini tidak luas dan setelah mengambil beberapa foto, saya balik ke halte Kalasan dan lanjut naik bus trans ke halte Prambanan. Niatnya sih pengen langsung ke Candi Prambanan, tapi tergoda tawaran tukang becak yang menawarkan untuk mengantar ke Candi Sojiwan, Ratu Boko dan Candi Prambanan. Sebenarnya bisa saja dengan ojek, tapi saya ga tega sama bapak tukang becak ini, hiks. 


Perjalanan dengan becak ke Candi Sojiwan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Candi Prambanan cukup menyenangkan juga, angin sepoi-sepoi membuat sejuk suasana siang hari yang panas itu. Tak terasa sampailah ke Candi Sojiwan. Candi ini juga tidak besar, kurang lebih sebesar Candi Kalasan dan sama-sama masuk dalam kategori candi Buddha. Candi ini terletak di Desa Kebon Dalem Kidul, Kabupaten Klaten. Jadi candi ini berada di area Jawa Tengah walaupun hanya berjarak 2 kilometer dari Candi Prambanan. Tidak ada tiket masuk tapi pengunjung hanya diminta donasi uang seikhlasnya untuk menikmati cagar budaya ini. Candi Sojiwan dibangun pada abad ke-9 dan memiliki keunikan tersendiri yaitu pada kaki candi terdapat 20 relief adegan dari kisah fabel Pancatantra atau Jataka. Mungkin Candi Sojiwan bisa dikatakan belum terlalu populer tapi tak ada salahnya berwisata sejarah di Candi Sojiwan.

Solo Traveling ke Baturraden, Lokawisata Eksotis di Banyumas


Ngetrip kali ini bisa dibilang nekat karena sendirian aja :D. Solo traveling to Baturraden, sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Dari Purwokerto jaraknya sekitar 14 kilometer. Berangkat dari Stasiun Poncol Semarang tanggal 9 Agustus jam 11.15 dengan kereta Kamandaka. Sampai di Stasiun Purwokerto hampir jam 5 sore, karena brenti brenti di stasiun-stasiun sebelumnya lumayan lama. Eniwei, berhubung udah ga ada angkot jam segitu, ke Baturraden nya naik taksi deh. Jaraknya lumayan sih, sekitar 30 menitan gitu dari stasiun. Sampai di Baturraden langsung check-in di New Aprilla Hotel yang saya book lewat Traveloka. Harga per malamnya waktu itu dapat murmer dibawah 100 ribu dan dapat tempat tidur besar, dengan tv dan kamar mandi dalam. Staf nya juga ramah dan bahkan menawarkan untuk mengantar kalau mau cari makan diluar, karena hostel tidak menyediakan sarapan dan didekat hotel juga tidak ada resto / warung makan. Baturraden berada di sebelah selatan Gunung Slamet dan memiliki udara sangat sejuk bahkan semakin dingin di malam hari. Untunglah selimut di hostel lumayan tebal jadi sedikit bisa meredam dinginnya hawa Baturraden, brrrr.... #TetapKedinginan.

Paginya, 10 Agustus 2016 jam 8 pagi, saya mulai eksplor kawasan wisata Baturraden. Dianter sampai area parkir sama staf hotel yang baik hati, jaraknya deket cuma 400 meter-an gitu dari hotel, jalan kaki sebenernya juga bisa. Kawasan pertama ini yang ada Pancuran Tiga nya, yaitu pemandian air panas yang mengandung sulfur. Masuk kawasan wisata Baturraden dengan tiket seharga 14 ribu, tapi itu cuma di pintu masuknya ya. Untuk spot-spot didalamnya masih bayar lagi. Misalnya, masuk Pancuran Tiga tiketnya 10 ribu, terapi ikan bayar 5 ribu, masuk pesawat theater alam bayar 5 ribu juga. Didalam pesawat ini kamu bisa menonton film dokumenter tentang fenomena alam di Indonesia. Tapi cuma bisa pilih 1 film aja dari sekian banyak film yang ada dalam list. Untunglah karena hari biasa maka pengunjungnya ga banyak, malah bisa dibilang hari itu cenderung sepi. Saya bahagia deh selfie nya bisa maksimal, hehe. Disini juga ada waterboom, cascade alam yang wow banget, dan cinema 4D. Sedangkan yang jadi ciri khas Baturraden itu view Sungai Gumawang dengan jembatan merahnya. 

Disambut Semar, Gareng, Petruk, dan Bawor di pintu masuk

Sungai Gumawang

Jembatan merah di Sungai Gumawang

Pancuran Tiga

Selfie ceria diatas Cascade Alam

Pemandangan Cascade Alam

Cascade Alam, spot buatan di Baturraden yang menawan

Pesawat Theater Alam
Puas eksplor kawasan Baturraden yang ada Pancuran Tiga ini, saya lalu menuju ke Pancuran Tujuh yang letaknya sekitar 2,5 km dari Pancuran 3. Kesini saya dianter lagi sama staf hotel yang baik hati itu, hihi. Ya soalnya staf yang baik hati itu pagi tadi memang menawarkan diri untuk mengantar saya ke kawasan wisata Pancuran Tiga dan Pancuran Tujuh, ya saya langsung iya iya aja, hehe kan lumayan ga usah nyari-nyari ojek kesana, soalnya menuju ke Pancuran Tujuh ini cukup ekstrim jadi lebih baik pake motor dan lebih oke lagi kalau ada yang baik hati nganter seperti staf hotel ini :D. Sesampainya di kawasan Pancuran Tujuh, saya membeli tiket masuk yang ternyata cukup mahal yaitu 20 ribu. Tapi worth it banget, pemandangan alamnya ga kalah wow sama kawasan sebelumnya. Malah sumber pemandian air panas sulfur disini lebih gede daripada di Pancuran Tiga. Terdapat juga Goa Selirang dan Tebing Belerang yang background nya keren banget buat poto-poto. 

Pancuran Tujuh

Tebing Belerang
Kalau ga bawa kendaraan, untuk transportasi keluar dari Pancuran Tujuh cukup mudah kalau pas weekend, karena ada angkot. Tapi karena hari itu weekday, angkot amat jarang atau bahkan ga ada dan walhasil saya memutuskan untuk ikut Pak Udin (seorang pekerja di Pancuran 7), jalan kaki ekstrim ke arah desa nya, Desa Wisata Ketenger. Bener-bener ekstrim dengan jalan menurun yang licin, jembatan-jembatan yang kecil dan ga ada pegangan permanennya. Musti ekstra hati-hati walau pemandangan sepanjang jalan juga sangat mempesona. Sampai di Desa Ketenger, Pak Udin lalu mengantar saya kembali ke hostel. Terimakasih ya Pak Udin ^^. 

Mau ke Desa Ketenger, melalui jembatan sempit ini dulu. View dari atas ekstrim banget

Sejuknya....
Pagi berikutnya, 11 Agustus 2016, saya nebeng staf hotel yang selesai shift dan ikut sampai Stasiun Purwokerto. Sebagai tanda terimakasih saya beri imbalan juga tentunya untuk staf hotel yang sedari kemarin berbaik hati mengantar saya kemana-mana ini :D. Saya pulang ke Semarang dengan naik kereta Kamandaka dan sampai di Stasiun Poncol sekitar jam 4 sore. Thanks God for this vacation in Baturraden!

Eling Bening Ambarawa, Resto dengan View Rawa Pening

Hari ini janjian bareng seorang teman ke Eling Bening yang berlokasi di Ambarawa. Eling Bening ini tempat wisata yang masih terbilang baru dan sedang ngehits. Untuk menuju kesini dari arah Semarang terus saja sampai ketemu Terminal Bawen lalu belok ke arah Ambarawa sampai pertigaan yang ada kantor pos Bawen nya. Belok kiri dan naik terus kira-kira 500 meter, sampailah kita di Eling Bening. Tiket masuk 15 ribu rupiah, dibagian depan ada restoran yang besar. Tapi highlight tempat ini bukan resto nya sih menurut saya, tapi view pemandangan Rawa Pening di kejauhan. Selain itu kawasan wisata alam ini juga menyediakan kolam renang, tempat main anak-anak, area berkemah, dan tempat outbound. Bisa juga mengadakan wedding party ataupun rapat disini karena disediakan pula ruang meeting. Eling Bening buka dari jam 8 pagi sampai jam 7 malam. 

Untunglah sebelumnya saya sudah makan duluan jadi belum terlalu laper juga waktu sampai di Eling Bening. Langsung saya menuju spot ngehits yaitu pemandangan Rawa Pening dan pegunungan. Dan memang bagus banget dari sini. Di sini juga sedang dibangun kolam renang yang lebih besar dibawah. Ada 1 kolam renang di deket restonya, tapi kecil dan kayaknya sih kalau berenang disitu bakalan risih ya karena jaraknya yang terlalu deket sama resto. Diluar resto, bisa duduk-duduk di kursi-kursi cute sambil menikmati view yang indah, ditambah angin sepoi-sepoi...sejuk nian.. Mata rasanya seger banget lihat view alam dari atas.

Puas menikmati pemandangan alam, kami pun pesan makanan di restonya. Menu yang kami pesan adalah nasi goreng. Untuk waktu tunggunya sih ga terlalu lama, dan sambil nunggu, kami foto-foto lagi di kolam ikan deket meja kami. Eniwei, rasa makanannya kalau menurut saya sih so so dan harganya kemahalan untuk menu dan porsi segitu. Tapi yah it doesn't really matter karena yang penting buat kami waktu itu cuma hunting poto. Sedikit saran saja, kesini pas hari kerja sepertinya lebih menyenangkan dibanding datang waktu weekend. Eh tapi ini saran klise sih, hiks, semua orang juga tau kalau ke tempat-tempat wisata pas weekend bakalan rame pengunjung :D. Nah, abis dari sini, kalau masih mau berwisata di Ambarawa, bisa wisata reliji ke Gua Maria Kerep dan wisata sejarah di Monumen Palagan Ambarawa.

Comments

Featured Travel Note

A Trip to Hong Kong Disneyland, A Dream That Comes True

Catatan Mancanegara