Wisata Selfie di Desa Bejalen, Desa Ngehits Penuh Warna di Ambarawa


Hari ini saya ngetrip ke dua tempat wisata yaitu Jembatan Biru Tuntang dan Desa Wisata Bejalen di Ambarawa. Awalnya saya ga ada rencana untuk ke Desa Bejalen, cukup ke Jembatan Biru aja. Tapi gegara di"motivasi" bapak-bapak lucu waktu ngadem di warung apung Jembatan Biru, saya pun akhirnya memutuskan untuk spontan melanjutkan trip ini ke Desa Wisata Bejalen :D.


Untuk menuju ke Desa Bejalen dari Jembatan Biru Tuntang sangat mudah, tinggal naik angkot merah (kalau ga bawa kendaraan sendiri). Saya turun di RSUD Ambarawa lalu lanjut naik ojek ke Desa Bejalen. Sekali lagi, ini karena saya ga bawa kendaraan yaa. Kalau bawa kendaraan sendiri ya bisa langsung ke jalan lingkar Ambarawa dan cuss masuk ke jalan desa menuju Desa Bejalen




Berwisata ke desa ini tidak dipungut biaya, hanya bayar parkir saja. Disini saya melihat deretan rumah warna-warni disepanjang sungai. Dinding rumah-rumah tersebut memang sengaja dihias dan dicat warna-warni untuk dijadikan desa wisata. Tak hanya cat warna-warni yang mencolok, namun juga gambar-gambar 2D yang unik-unik. Di pinggiran kali diberi banyak hiasan warna-warni juga. 



Oh ya, disini kita bisa sewa boat juga lo, yah itung-itung berasa kayak di Venezia gitu deh (walau airnya keruh, hiks). Boatnya pun dibuat colorful dengan warna-warni yang cantik. Kebetulan saya ga tau tarif boat ini karena belum ada minat naik boat. Mungkin next time kalau saya kesini lagi saya akan naik boatnya.


Anyway, disini banyak penjual makanan jadi lumayan lah buat isi perut dengan menu menu ringan seperti gorengan dan sosis bakar. Saya menghabiskan waktu kira-kira 1,5 jam disini dan untuk ke jalan utama saya memanfaatkan jasa ojek di Desa Bejalen. Saya minta diantar ke RSUD Ambarawa lagi untuk naik angkot jurusan Ungaran. Thanks Desa Bejalen untuk corak warna-warnimu.

Keindahan Alam Rawa Pening di Jembatan Biru Tuntang


Karena lagi ngehits, saya juga kepincut dong pengen jalan-jalan ke Jembatan Biru yang ada di Tuntang, Kabupaten Semarang. Kebetulan dari Ungaran juga tidak terlalu jauh. Saya naik bis ke arah Salatiga dan setelah jembatan besar saya turun dari bis dan lanjut naik angkot warna merah jurusan Bringin-Ambarawa. Dengan tarif 4000 rupiah aja saya turun tepat di area lokasi wisata Jembatan Biru. Ga sulit kok mencari tempat ini. Apalagi kalau naik angkot, supir angkot udah tau lokasi ini karena letaknya di pinggir jalan, ada penunjuk jalannya. Area ini berada di Desa Sumurup, Tuntang. Untuk yang bawa kendaraan sendiri dari arah Salatiga kamu bisa berbelok kearah kiri setelah melewati jembatan besar di Tuntang. Nah dari situ bisa menuju ke Jembatan Biru yang berjarak kira-kira setengah kilo dari jalan raya. Masuk kemari gratis, hanya bayar parkir sebesar 2000 rupiah aja.

Rawa Pening

Sedang ada proyek

As always, jalan-jalan pas weekdays itu memang amat sangat menyenangkan sekali, sepii hehehe. Memang sih tampak muda mudi yang sedang foto foto tapi jumlahnya bisa diitung dengan jari. Saya pun melangkahkan kaki menuju ke area jembatan yang ada di danau Rawa Pening ini. Pemandangannya indah dengan background gunung-gunung. Rawa Pening sendiri adalah danau alam yang sangat terkenal di daerah Jawa Tengah. Ada beberapa tempat wisata yang dibangun disekitar Rawa Pening dan "menjual" view danau dari dekat. Tapi banyak juga tempat wisata yang mana kita bisa memandang keindahan Rawa Pening dari kejauhan, contohnya ketika saya berwisata ke Eling Bening dan Kampoeng Kopi Banaran yang berlokasi di Bawen.

Lokawisata ini isinya jembatan

Termenung ku di Jembatan Biru
Anyway, fasilitas yang ada di lokawisata ini ya standar, yang penting ada toilet dan warung buat minum or ngemil, hehe. Anyway, ada satu spot yang udah mulai ngehits sejak setaun belakangan. Spot ini terletak di warung apung dan rame banget pengunjungnya pada saat weekend. Spot ini adalah spot selfie cinta dengan latar belakang Gunung Merbabu. Keren deh pokoknya jangan lewatkan foto foto disini, apalagi foto di spot ini cuma bertarif 2000 rupiah aja. Ada rangkaian bunga berbentuk cinta dan sepeda ontel yang bikin foto kamu jadi colorful dan kece. Ga hanya itu, disini saya juga bisa foto diatas boat sambil bawa dayung, hehe. 

Spot cinta di Jembatan Biru

Selfie diatas boat seperti ini juga bisa
Waktu lagi ngadem di warung apung, saya tiba-tiba jadi tertarik untuk sekaligus mengunjungi Desa Wisata Bejalen di Ambarawa. Gegara ada bapak-bapak lucu yang tiba-tiba aja ngomongin Desa Bejalen. Iseng saya nanya rute menuju desa yang juga lagi ngehits ini. Ternyata rutenya gampang banget, tinggal naik angkot merah (sama seperti waktu saya dateng ke Jembatan Biru), lanjut sampai Ambarawa dan minta turun di pertigaan menuju Bejalen. Tapi katanya kalau dari situ jalan kakinya ya lumayan. Akhirnya saya disarankan untuk naik angkot merah sampai RSUD Ambarawa dan dari situ lanjut ngojek aja ke Desa Bejalen. Okee deh sarannya saya laksanakan yaaa.. cuss yuk mari kita ke Desa Wisata Bejalen.

Jalan-jalan Irit ke BSD City, Mumpung GrabBike Lagi Promo Diskon 50% Seharian


Hari terakhir di Tangerang Selatan saya berniat untuk menghabiskan hari ituh dengan ngetrip ke BSD City. BSD City adalah salah satu kota terencana di Indonesia yang terletak di Serpong, Tangerang Selatan. Mumpung GrabBike lagi promo diskon 50% seharian, so ga ada salahnya kesana kemari dengan GrabBike, hehe. 

Dari penginapan saya di CMC Ciputat, saya ngojek GrabBike ke Froggy Floating Castle. Istana ini bentuknya unik, seakan-akan mengapung. Sayangnya Froggy tutup kalau hari Minggu, jadi saya cuma foto-foto diluarnya aja. Lanjut nge-GrabBike ke landmark BSD City yang berbentuk lingkaran besar.  

Froggy Floating Castle

Bangunannya unik
Ga pake lama disini saya menuju ke destinasi ketiga yaitu Taman Kota 1 BSD. Taman ini terletak di depan sekolah Al Azhar. Ada 2 taman kota di kawasan BSD City yang dibuat sebagai kawasan hijau di tengah padat dan panasnya kota. Tapi memang di taman kota 1 ini hawanya sejuk kok, beda banget dengan hawa di tengah kota yang panas dan berpolusi tinggi. Banyak pepohonan dan beberapa mainan anak, cocok untuk tempat hang out dan rekreasi keluarga. Nah, lanjut kita ke Taman Kota 2 BSD yang berlokasi di kawasan Taman Tekno. Taman Kota 2 lebih luas ketimbang Taman Kota 1. Masuk ke Taman Kota 1 dan 2 gratis. Lumayan lah untuk cari hawa sejuk sambil melepas lelah. 

Didepan pintu masuk Taman Kota 1

Sejuk, banyak pohon

Ngadem, mata seger liat ijo ijo

Memasuki Taman Kota 2

Nuansanya kurang lebih sama dengan Taman Kota 1

Didepan Taman Kota 2. Udah slese jalan-jalannya :D
Okeeh berhubung musti mengejar kereta malam untuk balik ke Semarang, sekitar jam 4 sore saya segera balik ke hostel di Ciputat dan ambil tas yang saya titipkan di resepsionis hostel setelah check out. Oh ya, setelah check out saya makan soto ayam di deket hostel ini. Setau saya soto ayam biasanya disajikan jadi satu dengan nasinya, tapi disini ternyata beda ya, sotonya disajikan di mangkuk terpisah. Porsinya banyak juga, endess dan harganya murah. 

Penampakan soto ayam, segerr endess
Setelah perut kenyang, saya nge-Grab Bike ke Stasiun Sudimara. Jauhnya kayak gitu cuma bayar beberapa ribu, hehehe. Untuk ke Stasiun Pasar Senen saya naik KRL dari stasiun ini. Transit 2 kali di Stasiun Tanah Abang dan Stasiun Gang Sentiong. Sampai sekarang saya masih heran kenapa dari Stasiun Tanah Abang ga bisa langsung ke Stasiun Pasar Senen, selalu aja dilewati padahal ya berada dalam satu jalur. Jadi yang mau ke Pasar Senen dari Tanah Abang musti naik KRL lagi dari Gang Sentiong. Ga praktis banget :p. 

Anyway, selama 4 hari berada di Ciputat untuk acara seminar internasional, senang rasanya bisa sekaligus jalan-jalan ke kawasan Kota Tua di Jakarta Barat, dan Situ Gintung serta BSD City di Tangerang Selatan. Next kita kemana? :D

Situ Gintung, Kesejukan Alam di Tengah Kota yang Panas

Setelah mengikuti acara seminar di UIN Syarif Hidayatullah di Ciputat, Tangerang Selatan, saya menyempatkan diri ngetrip ke Situ Gintung, sebuah danau buatan yang jaraknya cukup dekat dengan kampus UIN. Bisa naik angkot aja karena pintu masuknya di pinggir jalan, gampang ditemukan. Masuk ke Situ Gintung gratis tis tis tis. Langsung disambut pemandangan alam, danau dan pepohonan, sejuk banget disini sungguh berbeda dengan hawa panas Ciputat. Asyik juga duduk duduk diatas bebatuan menikmati view danau yang juga populer sebagai spot memancing dan jogging ini. Saya menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam disini buat ngadem dari panasnya kota.


Situ Gintung sendiri awalnya difungsikan sebagai waduk untuk menampung air hujan. Dibuat pada tahun 1933 oleh pemerintah kolonial Belanda. Sejak tahun 1970an kawasan ini dimanfaatkan menjadi tempat wisata alam. Situ Gintung dikenal juga karena bencara tanggul yang jebol pada tahun 2009 akibat hujan yang sangat deras. Ngeri juga waktu itu menurut berita, korban yang meninggal mencapai 99 orang. Beberapa teman saya pun komentarnya nyaris sama waktu saya mengunjungi danau buatan ini: "eh itu yang tanggulnya jebol itu kan? Ngeri yaa..." 

Lumayan buat ngadem

Dan sampai sekarang pun sepertinya Situ Gintung lebih dikenal karena pemberitaan tanggul jebol #sigh.

Esok paginya saya ngetrip, masih di Tangerang Selatan, tepatnya ke BSD City. Rencananya sih saya mau ke Froggy Floating Castle, BSD City Landmark, dan Taman Kota 1 dan 2. Okee saatnya balik ke hostel dan mulai packing karena besok sore saya juga sudah harus berada di Stasiun Pasar Senen untuk pulang ke Semarang.

5 Tempat Wisata Museum di Kota Tua Jakarta


Target ngetrip saya kali ini adalah kawasan Kota Tua di Jakarta Barat. Udah sedari dulu pengeeen banget wisata museum kesini, akhirnya kesampaian juga. Nah, menuju ke area ini gampang banget tinggal naik KRL turun di Stasiun Jakarta Kota. Stasiun ini letaknya di kawasan Kota Tua. Tinggal jalan kaki dikit untuk ngetrip ke beberapa museum yang ada disekitarnya. Kota Tua adalah sebuah wilayah di Jakarta yang disebut juga dengan nama Batavia Lama. Luasnya kurang lebih 1,3 kilometer persegi dan pada abad ke-16 dijuluki "Permata Asia" karena dianggap sebagai pusat perdagangan untuk benua Asia. 

Berikut ini adalah catatan saya ngetrip ke 5 museum yang berada di area Kota Tua. Tarif tiket masuk ke semua museum ini sama, yaitu 5000 rupiah saja.

1. Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah)

Museum Sejarah Jakarta

Museum Sejarah Jakarta atau yang lebih dikenal dengan sebutan Museum Fatahillah lokasinya ada di Taman Fatahillah. Dibangun pada tahun 1700an dan dulunya merupakan Stadhuis van Batavia atau balaikota Batavia. Di museum ini saya jadi belajar mengenai sejarah kota Jakarta. Koleksinya antara lain beberapa benda arkeologi yang ditemukan di Jakarta, mebel-mebel antik, keramik, batu prasasti, dan replika peninggalan jaman kerajaan Tarumanegara dan Pajajaran. Selain itu terdapat juga aneka koleksi budaya Betawi dan patung Hermes. Spot lain yang bisa dilihat disini adalah bekas penjara bawah tanah.

2. Museum Wayang 

Wayang raksasa :D

Museum kedua yang saya kunjungi adalah Museum Wayang yang memiliki banyak koleksi wayang dan juga boneka dari berbagai negara. Museumnya berlokasi di Jalan Pintu Besar Utara, dekat dengan Museum Sejarah Jakarta. Dibangun pada tahun 1640 dan dulunya digunakan sebagai Gereja Lama dan Gereja Baru Belanda. Jumlah koleksi wayangnya mencapai 4000, dan koleksi boneka luar negerinya berasal dari Eropa, Tiongkok, Thailand, dll. 

3. Museum Seni Rupa dan Keramik

Bangunan megah dengan koleksi keramik dan aneka benda seni rupa

Museum ini berlokasi di Jalan Pos Kota, tepatnya diseberang Museum Sejarah Jakarta. Disini banyak terdapat lukisan, benda-benda seni rupa dari masa lampau bahkan prasejarah, dan juga benda-benda keramik dari beberapa negara. Gedung ini dibangun pada tahun 1870 dan awalnya digunakan sebagai Kantor Dewan Kehakiman pada Benteng Batavia. Gedungnya megah dengan delapan tiang besar dibagian depan. Menurut saya salah satu koleksi yang paling unik di museum ini adalah adanya benda-benda keramik yang ditemukan di kapal-kapal karam. 

4. Museum Bank Indonesia

Yuk belajar tentang sejarah perjalanan mata uang di Nusantara

Museum Bank Indonesia terletak di Jalan Pintu Besar Utara. Gedung ini dibangun pada tahun 1828 dan dulunya merupakan gedung De Javasche Bank. Berisi koleksi sejarah uang dan cikal bakal bank di Indonesia. Informasi perjalanan mata uang di Indonesia yang disajikan di museum ini bisa dibilang lengkap dan terperinci. Penyajiannya sangat keren bikin seneng belajar tentang uang, hehe. 

5. Museum Mandiri

Peralatan perbankan tempo dulu

Terakhir, saya ke Museum Mandiri yang bersebelahan dengan Museum Bank Indonesia. Beralamat di Jalan Lapangan Stasiun, museum ini berisi koleksi benda-benda bersejarah yang menjadi cikal bakal adanya Bank Mandiri, salah satu bank terbesar di Indonesia. Gedung ini dibangun pada tahun 1929 dan dulunya digunakan sebagai Nederlandsche Handel-Maatschappij yang merupakan perusahaan dagang milik Belanda yang kemudian berkembang menjadi perusahaan di bidang perbankan. Tak hanya koleksi sejarah Bank Mandiri, namun di museum ini juga terdapat koleksi aktivitas perbankan tempo dulu dan perkembangannya, seperti peralatan operasional bank, surat berharga, mesin hitung, mata uang kuno, dll. Yang paling unik menurut saya adalah koleksi alat-alat perbankan yang di"tempel" di dinding. Saya juga tertarik dengan koleksi buku-buku besar dari tahun 1800an ketika waktu itu administrasi bank belum dijalankan dengan komputer, tapi dengan tulisan tangan! 

Nah itulah 5 museum yang saya kunjungi di Kota Tua, Jakarta Barat. Senang rasanya akhirnya bisa wisata museum lagi, tak hanya 1 tapi 5 sekaligus dalam sehari! :D 

Comments

Featured Travel Note

A Trip to Hong Kong Disneyland, A Dream That Comes True

Catatan Mancanegara