Akhirnya setelah setengah tahun ga backpackeran, sekarang bisa backpackeran lagi πŸ˜‚. Dari Semarang ke Kediri naik kereta Brantas ekonomi murah meriah cuma 80 ribuan. Jalan-jalan ke Kediri di hari pertama dianterin sama @ojek_wisata_kediri yang oke punya. Dijemput di stasiun, dianter ke aneka tempat wisata dan dipotoin. Pokoknya ramah banget miminnya, harga sewa ojek juga murmer banget, only 130 ribu aja untuk seharian. Thank you ya kak, pokoknya puas piknik di Kediri 😁. 

Berikut ini tempat-tempat yang mimin kunjungi tanggal 26 dan 27 Desember 2017:

1. Gunung Kelud
Keindahan pemandangan Gunung Kelud
Tiket masuk area Gunung Kelud sebesar 10 ribu per orang, plus ada biaya parkir 2 ribu dan tanda masuk kendaraan 1000 rupiah aja. Kalau mau view yang keren banget bisa hiking sekitar 30 menitan dari tempat parkir. Dari atas viewnya bukit bukit dan jalan jalan berkelok di Gunung Kelud.

2. Taman Agro Margomulyo





Taman Agro Margomulyo ini adalah salah satu tempat wisata terbaru di Kediri dibawah naungan PDP (Perusahaan Daerah Perkebunan) Margomulyo. Waktu saya kemari pun masih dalam proses pembangunan. Tapi pengunjung yang dateng udah banyak banget. Tiket masuk murah cuma 5000 aja. Berisi aneka bunga bunga cantik yang pastinya bisa bikin kece selfie kamu 🌻🌺🌷.

3. Kampung Indian



Kampung Indian

Mau wisata ala ala Amrik ga usah jauh jauh ke negeri Paman Sam. Cukup ke Kediri aja udah ada Kampung Indian yang unik banget. Tiket masuknya 5000 dan sewa topi Indian dengan bulu bulu gede ini juga cuma 5000 aja. Untuk mendapatkan view menawan bisa naik dulu ke atas dan kamu bisa menikmati pemandangan alam, aneka "tenda" Indian dan kolam renang 😊. Kalau kesini pas hari libur ada pertunjukan tarian Indian nya juga lo 😁.


4. Omah Belanda


Backgroundnya lucu juga...


Mau ala ala londo di Kediri juga ada lo. Dateng aja ke Omah Belanda, masih di area Gunung Kelud. Masuk gratis, bisa foto suka suka. Tapi kalau mau sewa baju ala Belanda ini juga cukup terjangkau, 25 ribu. "Omah" nya sendiri udah dilengkapi dengan taman bunga dan kincir angin 🏠. Oh ya, bajunya lumayan berat dan berlapis lapis. Tapi worth it lah, lucu buat poto poto ala londo.

5. Kampoeng Anggrek

King Kong Jagung

Di Kampoeng Anggrek Kediri ga cuma ada aneka anggrek aja, tapi juga ada banyak jenis tanaman lainnya. Selain itu disini ada spot yang lagi ngehits yaitu patung king kong atau gorilla raksasa yang unik banget karena terbuat dari jagung πŸŒ½πŸ™‚.

Masuk Kampoeng Anggrek di area Gunung Kelud Kediri, mata dimanjaain dengan aneka ragam bunga anggrek yang cantik cantik. Kalau mau beli anggrek disini juga bisa. Katanya sih bunga-bunga anggrek disini dijual dengan harga yang cukup murah 🌸. Tiket masuk Kampoeng Anggrek 7000 dan kalau ga mau capek keliling areanya yang luas kamu bisa ikutan tur 20 menit dengan kereta kayu seharga 15 ribu aja 🌞.

6. Monumen Simpang Lima Gumul

Monumen Gumul
Monumen Arc de Triomphe di Paris ternyata punya kembaran di Kediri 😁.

7. Gereja Merah
Merah merona..


GPIB Jemaat Immanuel Kediri ini unik karena keseluruhan bangunannya berwarna merah. Pada akhirnya gereja yang dibangun tahun 1904 ini terkenal dengan nama Gereja Merah (Red Church) πŸ’’. Gereja merah merupakan salah satu gereja tertua yang ada di kota Kediri. Nama aslinya adalah Kerkeeraad Der Protestanche Te Kediri. Kebetulan lokasinya deket dengan hotel tempat saya menginap (Raya Resort Hotel) jadi sekalian mampir sekaligus nambah koleksi putu jeng jeng di Kediri πŸ˜‰.

8. Gua Maria Lourdes Gereja Puhsarang

Wisata religi di Kediri

Di hari kedua saya di Kediri, saya berwisata religi di Gua Maria Lourdes yang ada di kawasan Gereja Puhsarang, Desa Puhsarang, Kecamatan Semen. Jaraknya kurang lebih 10 km dari pusat kota Kediri πŸ‘Œ. Gua ini adalah tempat berziarah bagi umat Katolik, namun ngehits juga sebagai tempat wisata karena tempatnya yang bagus banget πŸ‘. Mimin kesini sendiri naik Grab.


Gua Maria Lourdes ini adalah area yang paling banyak pengunjungnya di lokasi wisata religi Gereja Puhsarang. Lokasi rame yang lain yaitu Jalan Salib Bukit Golgota yang disepanjang jalannya banyak toko suvenir/oleh-oleh. Selain itu juga ada Taman Kana, Bukit Tabor dan wisma untuk mereka yang ingin menginap. Ga hanya untuk wisata religi, area ini asik banget untuk relax menikmati kesejukan dan keindahan alam 🌳.

Gereja Puhsarang sendiri adalah gereja Katolik yang berada di kaki gunung Wilis yang dibangun tahun 1936. Bentuknya yang unik adalah hasil perpaduan dengan keindahan arsitektur Jawa ⛪. 

Gereja Puhsarang


Demikian jalan-jalan mimin selama dua hari di Kediri, Jawa Timur. Don't forget to follow me on IG: @travelingika. Sampai jumpa di catatan jalan-jalan berikutnya! 😺




Yuk kali ini mari kita berwisata kebun bunga di Bandungan, mumpung lagi ngehits di Instagram, hehe. Ada dua kebun bunga yang saya kunjungi hari ini, yaitu Kampung Krisan Clapar dan Setiya Aji Flower Farm. Dari Pasar Mbabadan saya naik angkot warna hijau, itu angkot khusus menuju ke arah Bandungan, Kabupaten Semarang. Saya nanya ke pak supirnya apa beliau tau letaknya Kampung Krisan Clapar dan Setiya Aji Flower Farm ini. Pak supir langsung tersenyum mantap mengiyakan. Katanya sih jarak kedua kebun bunga ini lumayan juga, walaupun bisa dibilang ga jauh-jauh amat. Oke, pertama saya mengunjungi Kampung Krisan Clapar yang beralamat di Jl. Kendalisodo, Bandungan. Saya membayar sebesar 5000 rupiah aja sampai di depan tulisan Kampung Krisan Clapar yang terletak dipinggir jalan. Kata pak supir, tinggal jalan kaki 500 meteran dan udah sampai deh. Okelah mari kita mulai naik keatas... huaaah naiknya lumayan cape juga, hahaha jalannya naik, apalagi saya dah lama ga olahraga. Tapi begitu sampai oh senangnya..

Setiya Aji Flower Farm
Kampung Krisan Clapar
Apalagi masuk kemari gratis, alias ga bayar. Oya, Kampung Krisan Clapar buka setiap hari dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Disini ada beberapa spot kebun krisan nya, tentunya tak hanya satu warna aja tapi beberapa warna. Sungguh colorful. Disini juga ada 2 gardu pandang, jadi buat kamu yang doyan liat view alam dari ketinggian, jangan lewatkan naik gardu pandang. Kebetulan saya ga berani naik karena tangganya lumayan ekstrim dan cukup tinggi. Tapi yah ga papa, pemandangan sawah yang hijau sungguh segar dipandang mata. 









Saya berjalan-jalan sebentar di area persawahannya lalu mulai melanjutkan jalan-jalan ke Setiya Aji Flower Farm. Jarak ke Setiya Aji Flower Farm lumayan jauh sih kalau jalan kaki ya ada 2 kilometeran. Tapi lagi-lagi ga papa deh, biar sehat, hehe. Jalan menuju ke Setiya Aji memang berliku-liku tapi untungnya penunjuk jalan dimana-mana, jadi ga mungkin kesasar. Masuk ke Setiya Aji Flower Farm dikenai biaya sebesar 7500 rupiah. Disini koleksi bunga krisan nya lebih mantap sih menurut saya, lebih bervariasi dan lokasinya lebih besar. Jadi kalau mau poto-poto lebih puas bisa kemari. 





Eniwei, disini kamu juga bisa naik gardu pandang seperti di Kampung Krisan Clapar. Tapi gardu pandang disini cocok buat saya soalnya tangga naiknya ga ekstrim, hehehe, dan udah cukup bikin saya hepi untuk melihat pemandangan alam dari atas. Dari gardu pandang ini, kamu bisa melihat view Rawa Pening, Gunung Lawu, Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo, Gunung Ungaran, dan Gunung Kendalisodo. Ah puas sekali rasanya hari ini berwisata ke 2 kebun bunga yang kece dan menikmati hijaunya pemandangan alam.  

Salah satu spot pemandangan dari atas gardu pandang di Setiya Aji Flower Farm

Hari ini saya ngetrip ke dua tempat wisata yaitu Jembatan Biru Tuntang dan Desa Wisata Bejalen di Ambarawa. Awalnya saya ga ada rencana untuk ke Desa Bejalen, cukup ke Jembatan Biru aja. Tapi gegara di"motivasi" bapak-bapak lucu waktu ngadem di warung apung Jembatan Biru, saya pun akhirnya memutuskan untuk spontan melanjutkan trip ini ke Desa Wisata Bejalen :D.

Desa Bejalen

Penuh warna...

Untuk menuju ke Desa Bejalen dari Jembatan Biru Tuntang sangat mudah, tinggal naik angkot merah (kalau ga bawa kendaraan sendiri). Saya turun di RSUD Ambarawa lalu lanjut naik ojek ke Desa Bejalen. Sekali lagi, ini karena saya ga bawa kendaraan yaa. Kalau bawa kendaraan sendiri ya bisa langsung ke jalan lingkar Ambarawa dan cuss masuk ke jalan desa menuju Desa Bejalen




Berwisata ke desa ini tidak dipungut biaya, hanya bayar parkir saja. Disini saya melihat deretan rumah warna-warni disepanjang sungai. Dinding rumah-rumah tersebut memang sengaja dihias dan dicat warna-warni untuk dijadikan desa wisata. Tak hanya cat warna-warni yang mencolok, namun juga gambar-gambar 2D yang unik-unik. Di pinggiran kali diberi banyak hiasan warna-warni juga. 



Oh ya, disini kita bisa sewa boat juga lo, yah itung-itung berasa kayak di Venezia gitu deh (walau airnya keruh, hiks). Boatnya pun dibuat colorful dengan warna-warni yang cantik. Kebetulan saya ga tau tarif boat ini karena belum ada minat naik boat. Mungkin next time kalau saya kesini lagi saya akan naik boatnya.


Anyway, disini banyak penjual makanan jadi lumayan lah buat isi perut dengan menu menu ringan seperti gorengan dan sosis bakar. Saya menghabiskan waktu kira-kira 1,5 jam disini dan untuk ke jalan utama saya memanfaatkan jasa ojek di Desa Bejalen. Saya minta diantar ke RSUD Ambarawa lagi untuk naik angkot jurusan Ungaran. Thanks Desa Bejalen untuk corak warna-warnimu.

Karena lagi ngehits, saya juga kepincut dong pengen jalan-jalan ke Jembatan Biru yang ada di Tuntang, Kabupaten Semarang. Kebetulan dari Ungaran juga tidak terlalu jauh. Saya naik bis ke arah Salatiga dan setelah jembatan besar saya turun dari bis dan lanjut naik angkot warna merah jurusan Bringin-Ambarawa. Dengan tarif 4000 rupiah aja saya turun tepat di area lokasi wisata Jembatan Biru. Ga sulit kok mencari tempat ini. Apalagi kalau naik angkot, supir angkot udah tau lokasi ini karena letaknya di pinggir jalan, ada penunjuk jalannya. Area ini berada di Desa Sumurup, Tuntang. Untuk yang bawa kendaraan sendiri dari arah Salatiga kamu bisa berbelok kearah kiri setelah melewati jembatan besar di Tuntang. Nah dari situ bisa menuju ke Jembatan Biru yang berjarak kira-kira setengah kilo dari jalan raya. Masuk kemari gratis, hanya bayar parkir sebesar 2000 rupiah aja.

Jembatan Biru Tuntang
Rawa Pening

Sedang ada proyek

As always, jalan-jalan pas weekdays itu memang amat sangat menyenangkan sekali, sepii hehehe. Memang sih tampak muda mudi yang sedang foto foto tapi jumlahnya bisa diitung dengan jari. Saya pun melangkahkan kaki menuju ke area jembatan yang ada di danau Rawa Pening ini. Pemandangannya indah dengan background gunung-gunung. Rawa Pening sendiri adalah danau alam yang sangat terkenal di daerah Jawa Tengah. Ada beberapa tempat wisata yang dibangun disekitar Rawa Pening dan "menjual" view danau dari dekat. Tapi banyak juga tempat wisata yang mana kita bisa memandang keindahan Rawa Pening dari kejauhan, contohnya ketika saya berwisata ke Eling Bening dan Kampoeng Kopi Banaran yang berlokasi di Bawen.

Lokawisata ini isinya jembatan

Termenung ku di Jembatan Biru
Anyway, fasilitas yang ada di lokawisata ini ya standar, yang penting ada toilet dan warung buat minum or ngemil, hehe. Anyway, ada satu spot yang udah mulai ngehits sejak setaun belakangan. Spot ini terletak di warung apung dan rame banget pengunjungnya pada saat weekend. Spot ini adalah spot selfie cinta dengan latar belakang Gunung Merbabu. Keren deh pokoknya jangan lewatkan foto foto disini, apalagi foto di spot ini cuma bertarif 2000 rupiah aja. Ada rangkaian bunga berbentuk cinta dan sepeda ontel yang bikin foto kamu jadi colorful dan kece. Ga hanya itu, disini saya juga bisa foto diatas boat sambil bawa dayung, hehe. 

Spot cinta di Jembatan Biru

Selfie diatas boat seperti ini juga bisa
Waktu lagi ngadem di warung apung, saya tiba-tiba jadi tertarik untuk sekaligus mengunjungi Desa Wisata Bejalen di Ambarawa. Gegara ada bapak-bapak lucu yang tiba-tiba aja ngomongin Desa Bejalen. Iseng saya nanya rute menuju desa yang juga lagi ngehits ini. Ternyata rutenya gampang banget, tinggal naik angkot merah (sama seperti waktu saya dateng ke Jembatan Biru), lanjut sampai Ambarawa dan minta turun di pertigaan menuju Bejalen. Tapi katanya kalau dari situ jalan kakinya ya lumayan. Akhirnya saya disarankan untuk naik angkot merah sampai RSUD Ambarawa dan dari situ lanjut ngojek aja ke Desa Bejalen. Okee deh sarannya saya laksanakan yaaa.. cuss yuk mari kita ke Desa Wisata Bejalen.

Hari terakhir di Tangerang Selatan saya berniat untuk menghabiskan hari ituh dengan ngetrip ke BSD City. BSD City adalah salah satu kota terencana di Indonesia yang terletak di Serpong, Tangerang Selatan. Mumpung GrabBike lagi promo diskon 50% seharian, so ga ada salahnya kesana kemari dengan GrabBike, hehe. 

Big City, Big Opportunity

Dari penginapan saya di CMC Ciputat, saya ngojek GrabBike ke Froggy Floating Castle. Istana ini bentuknya unik, seakan-akan mengapung. Sayangnya Froggy tutup kalau hari Minggu, jadi saya cuma foto-foto diluarnya aja. Lanjut nge-GrabBike ke landmark BSD City yang berbentuk lingkaran besar.  

Froggy Floating Castle

Bangunannya unik
Ga pake lama disini saya menuju ke destinasi ketiga yaitu Taman Kota 1 BSD. Taman ini terletak di depan sekolah Al Azhar. Ada 2 taman kota di kawasan BSD City yang dibuat sebagai kawasan hijau di tengah padat dan panasnya kota. Tapi memang di taman kota 1 ini hawanya sejuk kok, beda banget dengan hawa di tengah kota yang panas dan berpolusi tinggi. Banyak pepohonan dan beberapa mainan anak, cocok untuk tempat hang out dan rekreasi keluarga. Nah, lanjut kita ke Taman Kota 2 BSD yang berlokasi di kawasan Taman Tekno. Taman Kota 2 lebih luas ketimbang Taman Kota 1. Masuk ke Taman Kota 1 dan 2 gratis. Lumayan lah untuk cari hawa sejuk sambil melepas lelah. 

Didepan pintu masuk Taman Kota 1

Sejuk, banyak pohon

Ngadem, mata seger liat ijo ijo

Memasuki Taman Kota 2

Nuansanya kurang lebih sama dengan Taman Kota 1

Didepan Taman Kota 2. Udah slese jalan-jalannya :D
Okeeh berhubung musti mengejar kereta malam untuk balik ke Semarang, sekitar jam 4 sore saya segera balik ke hostel di Ciputat dan ambil tas yang saya titipkan di resepsionis hostel setelah check out. Oh ya, setelah check out saya makan soto ayam di deket hostel ini. Setau saya soto ayam biasanya disajikan jadi satu dengan nasinya, tapi disini ternyata beda ya, sotonya disajikan di mangkuk terpisah. Porsinya banyak juga, endess dan harganya murah. 

Penampakan soto ayam, segerr endess
Setelah perut kenyang, saya nge-Grab Bike ke Stasiun Sudimara. Jauhnya kayak gitu cuma bayar beberapa ribu, hehehe. Untuk ke Stasiun Pasar Senen saya naik KRL dari stasiun ini. Transit 2 kali di Stasiun Tanah Abang dan Stasiun Gang Sentiong. Sampai sekarang saya masih heran kenapa dari Stasiun Tanah Abang ga bisa langsung ke Stasiun Pasar Senen, selalu aja dilewati padahal ya berada dalam satu jalur. Jadi yang mau ke Pasar Senen dari Tanah Abang musti naik KRL lagi dari Gang Sentiong. Ga praktis banget :p. 

Anyway, selama 4 hari berada di Ciputat untuk acara seminar internasional, senang rasanya bisa sekaligus jalan-jalan ke kawasan Kota Tua di Jakarta Barat, dan Situ Gintung serta BSD City di Tangerang Selatan. Next kita kemana? :D

Setelah mengikuti acara seminar di UIN Syarif Hidayatullah di Ciputat, Tangerang Selatan, saya menyempatkan diri ngetrip ke Situ Gintung, sebuah danau buatan yang jaraknya cukup dekat dengan kampus UIN. Bisa naik angkot aja karena pintu masuknya di pinggir jalan, gampang ditemukan. Masuk ke Situ Gintung gratis tis tis tis. Langsung disambut pemandangan alam, danau dan pepohonan, sejuk banget disini sungguh berbeda dengan hawa panas Ciputat. Asyik juga duduk duduk diatas bebatuan menikmati view danau yang juga populer sebagai spot memancing dan jogging ini. Saya menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam disini buat ngadem dari panasnya kota.


Situ Gintung sendiri awalnya difungsikan sebagai waduk untuk menampung air hujan. Dibuat pada tahun 1933 oleh pemerintah kolonial Belanda. Sejak tahun 1970an kawasan ini dimanfaatkan menjadi tempat wisata alam. Situ Gintung dikenal juga karena bencara tanggul yang jebol pada tahun 2009 akibat hujan yang sangat deras. Ngeri juga waktu itu menurut berita, korban yang meninggal mencapai 99 orang. Beberapa teman saya pun komentarnya nyaris sama waktu saya mengunjungi danau buatan ini: "eh itu yang tanggulnya jebol itu kan? Ngeri yaa..." 

Lumayan buat ngadem

Dan sampai sekarang pun sepertinya Situ Gintung lebih dikenal karena pemberitaan tanggul jebol #sigh.

Esok paginya saya ngetrip, masih di Tangerang Selatan, tepatnya ke BSD City. Rencananya sih saya mau ke Froggy Floating Castle, BSD City Landmark, dan Taman Kota 1 dan 2. Okee saatnya balik ke hostel dan mulai packing karena besok sore saya juga sudah harus berada di Stasiun Pasar Senen untuk pulang ke Semarang.


Target ngetrip saya kali ini adalah kawasan Kota Tua di Jakarta Barat. Udah sedari dulu pengeeen banget wisata museum kesini, akhirnya kesampaian juga. Nah, menuju ke area ini gampang banget tinggal naik KRL turun di Stasiun Jakarta Kota. Stasiun ini letaknya di kawasan Kota Tua. Tinggal jalan kaki dikit untuk ngetrip ke beberapa museum yang ada disekitarnya. Kota Tua adalah sebuah wilayah di Jakarta yang disebut juga dengan nama Batavia Lama. Luasnya kurang lebih 1,3 kilometer persegi dan pada abad ke-16 dijuluki "Permata Asia" karena dianggap sebagai pusat perdagangan untuk benua Asia. 

Kota Tua Jakarta
Berikut ini adalah catatan saya ngetrip ke 5 museum yang berada di area Kota Tua. Tarif tiket masuk ke semua museum ini sama, yaitu 5000 rupiah saja.

1. Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah)

Museum Sejarah Jakarta
Museum Sejarah Jakarta atau yang lebih dikenal dengan sebutan Museum Fatahillah lokasinya ada di Taman Fatahillah. Dibangun pada tahun 1700an dan dulunya merupakan Stadhuis van Batavia atau balaikota Batavia. Di museum ini saya jadi belajar mengenai sejarah kota Jakarta. Koleksinya antara lain beberapa benda arkeologi yang ditemukan di Jakarta, mebel-mebel antik, keramik, batu prasasti, dan replika peninggalan jaman kerajaan Tarumanegara dan Pajajaran. Selain itu terdapat juga aneka koleksi budaya Betawi dan patung Hermes. Spot lain yang bisa dilihat disini adalah bekas penjara bawah tanah.

2. Museum Wayang 

Wayang raksasa :D
Museum kedua yang saya kunjungi adalah Museum Wayang yang memiliki banyak koleksi wayang dan juga boneka dari berbagai negara. Museumnya berlokasi di Jalan Pintu Besar Utara, dekat dengan Museum Sejarah Jakarta. Dibangun pada tahun 1640 dan dulunya digunakan sebagai Gereja Lama dan Gereja Baru Belanda. Jumlah koleksi wayangnya mencapai 4000, dan koleksi boneka luar negerinya berasal dari Eropa, Tiongkok, Thailand, dll. 

3. Museum Seni Rupa dan Keramik

Bangunan megah dengan koleksi keramik dan aneka benda seni rupa
Museum ini berlokasi di Jalan Pos Kota, tepatnya diseberang Museum Sejarah Jakarta. Disini banyak terdapat lukisan, benda-benda seni rupa dari masa lampau bahkan prasejarah, dan juga benda-benda keramik dari beberapa negara. Gedung ini dibangun pada tahun 1870 dan awalnya digunakan sebagai Kantor Dewan Kehakiman pada Benteng Batavia. Gedungnya megah dengan delapan tiang besar dibagian depan. Menurut saya salah satu koleksi yang paling unik di museum ini adalah adanya benda-benda keramik yang ditemukan di kapal-kapal karam. 

4. Museum Bank Indonesia

Yuk belajar tentang sejarah perjalanan mata uang di Nusantara
Museum Bank Indonesia terletak di Jalan Pintu Besar Utara. Gedung ini dibangun pada tahun 1828 dan dulunya merupakan gedung De Javasche Bank. Berisi koleksi sejarah uang dan cikal bakal bank di Indonesia. Informasi perjalanan mata uang di Indonesia yang disajikan di museum ini bisa dibilang lengkap dan terperinci. Penyajiannya sangat keren bikin seneng belajar tentang uang, hehe. 

5. Museum Mandiri

Peralatan perbankan tempo dulu
Terakhir, saya ke Museum Mandiri yang bersebelahan dengan Museum Bank Indonesia. Beralamat di Jalan Lapangan Stasiun, museum ini berisi koleksi benda-benda bersejarah yang menjadi cikal bakal adanya Bank Mandiri, salah satu bank terbesar di Indonesia. Gedung ini dibangun pada tahun 1929 dan dulunya digunakan sebagai Nederlandsche Handel-Maatschappij yang merupakan perusahaan dagang milik Belanda yang kemudian berkembang menjadi perusahaan di bidang perbankan. Tak hanya koleksi sejarah Bank Mandiri, namun di museum ini juga terdapat koleksi aktivitas perbankan tempo dulu dan perkembangannya, seperti peralatan operasional bank, surat berharga, mesin hitung, mata uang kuno, dll. Yang paling unik menurut saya adalah koleksi alat-alat perbankan yang di"tempel" di dinding. Saya juga tertarik dengan koleksi buku-buku besar dari tahun 1800an ketika waktu itu administrasi bank belum dijalankan dengan komputer, tapi dengan tulisan tangan! 

Nah itulah 5 museum yang saya kunjungi di Kota Tua, Jakarta Barat. Senang rasanya akhirnya bisa wisata museum lagi, tak hanya 1 tapi 5 sekaligus dalam sehari! :D 

Send Me a Message

Subscribe & Follow

Instagram

Catatan Terbaru


Time Machine

Thanks! :)

Catatan Menarik Lainnya

Popular Posts