Currently feeling The current mood of travelingika at www.imood.com

Catatan Bebikinan Artisanal Tempeh bersama Dalem Wangi

Bebikinan tempe? Bukannya udah pernah yah? 😼 Iya sih udah pernah belajar membuat tempe di Salatiga. Tapi kali ini saya penasaran karena tempe nya lain dari biasanya. Kalau tempe biasanya dibuat begitu begitu saja tanpa hiasan apapun, kali ini saya akan belajar membuat artisanal tempe. Artisanal disini maksudnya dibuat secara tradisional/manual dan menonjolkan keunikan serta nilai seni. Wah bagaimana nanti penampakannya? Yuk simak catatan saya berikut ini πŸ˜€.

Artisanal tempeh workshop at Djajanti Kitchen & Coffee House 😊


Lantai atas Djajanti Kitchen & Coffee House

Kak Dhanti dan suaminya


Artisanal tempeh workshop ini diadakan oleh Kak Dhanti dan suaminya, owner Kebun & Warung Dalem Wangi (@dalemwangi_), kolaborasi dengan Eventsy. Biayanya murah meriah yaitu sebesar 105K saja. Di workshop ini, peserta mendapatkan aneka benefit sebagai berikut: mengenali bahan pembuatan tempe, membuat tempe menggunakan kacang lokal, mengenali bunga edible untuk artisanal tempeh, membuat 2-3 tempe, membawa pulang hasil workshop, dan free meal and beverage dari Djajanti Kitchen & Coffee House.

Bahan-bahan sudah disiapkan


Berhubung masih bulan puasa, workshop ini diadakan di sore hari dari jam 15.30 sampai 17.30. Jadi entar tuh ada acara berbuka puasa bersama gitu. Tahun lalu saya juga ikut satu workshop dari Eventsy yaitu pottery workshop, yang lalu dilanjutkan dengan berbuka puasa bersama. Ya di Djajanti Kitchen juga. Bedanya kalau dulu di lantai 1, hari ini di lantai 2 yang ternyata punya view taman yang cakep banget 🌳🍁.

Membuang ari dari kacang kedelai


Kacang kedelai lokal dan kacang tolo


Sebenarnya kalau soal pembuatan tempe sih pada dasarnya sama saja dengan yang saya ikuti di Salatiga. Hanya bedanya, di workshop ini nanti ditambahkan hiasan bunga yang edible alias bisa dimakan. Selain itu kami nanti tidak hanya membungkus tempe dengan 1 jenis daun tapi 5 jenis daun. Wah mantaps! πŸ‘

Takaran kacang kedelai dan ragi tempe


Untuk me-refresh ingatan kita tentang prosedur atau cara pembuatan tempe, saya share lagi urutannya dimari yaa.. πŸ‘‡

  • Rendam kacang kedelai semalam, buang semua partikel dan kacang-kacang yang mengambang.
  • Keesokan harinya, rebus kedelai selama 45 menit. Tiriskan hingga kering dan cukup keras.
  • Lakukan resting selama 6 jam.
  • Kedelai lokal ini bisa kita mix dengan kacang tolo, kacang merah, atau kacang hijau. Dicampur semua juga boleh, malah tampil beda dan unik kan, hehehe. Yang penting pastikan tingkat kematangan kacangnya berada pada level yang sama. 
  • Hilangkan kulit ari dari kacang kedelai. Selain kacang kedelai tidak perlu dihilangkan kulit arinya.
  • Lakukan proses peragian. Ragi tempe terbuat dari jamur Rhizopus sp. Takarannya yaitu: untuk 100 gram kedelai, bubuhkan 1 gram ragi tempe. Jadi semisal ada 1 kg kedelai, berapa gram ragi tempe yang dibutuhkan? Yak tulll, 10 gram.
  • Aduk-aduk sampai merata.
  • Letakkan racikan kedelai dan ragi pada daun yang sudah disediakan. 
  • Tambahkan edible flower ke dalam racikan kedelai dan ragi. Atau bisa juga dijadikan topping atau hiasan, taruh saja beberapa bunga diatasnya supaya hasilnya nanti jadi lebih estetik. Di workshop ini, kami menggunakan bunga marigold.
  • Pastikan calon tempe terbungkus dengan rapat tapi gak rapat banget. Nah tuh bingung kan? Wkwk. Ya intinya tuh jangan terlalu rapat karena proses fermentasi tetap membutuhkan udara supaya berhasil menjadi tempe.
  • Diamkan selama 2 hari. Bila sukses, tempe sudah jadi dan siap untuk digoreng dan dinikmati! Hohoho 😁

Btw, saya ulangi lagi, bila ingin menambahkan / mencampurkan kacang kedelai dengan jenis-jenis kacang yang lain, pastikan tingkat kematangannya sama. Dari sini kita bisa menarik kesimpulan bahwa waktu pengukusan setiap jenis kacang bisa berbeda-beda 😊. Tapi ya ga perlu terlalu takut gagal juga sih, toh dengan latihan membuat tempe terus-menerus, pada akhirnya akan jago juga 😏. Selain tempe yang dibuat dari kacang kedelai, ada juga tempe yang unik yang terbuat dari daun singkong. Bentuknya seperti rolade. Sisa-sisa sayur ternyata dapat diolah menjadi tempe. Ada juga tempe yang terbuat dari ubi cilembu. Caranya dengan mengukus ubi cilembu lalu potong-potong dalam bentuk slice dan tambahkan ragi tempe.

Sekelompok bareng Yulia dan Vera, mereka ini workshop hunter juga πŸ˜„

Senyum bahagia menambah ilmu 😁


1 kelompok ada 3 orang, 500 gram kedelai, dan 5 gram ragi tempe

Aduk-aduk ragi nya sampai merata

Yuk mulai membungkus tempe πŸƒπŸ‚πŸ€πŸ

Tambahkan bunga edible, bungkus dengan ceria 😁

Dapat 1 tempe gratiss, coba tebak yang mana hayoo πŸ˜„


Daun-daun yang digunakan dalam workshop ini ada 5 jenis yaitu: daun andong hijau, daun andong merah, daun kecombrang, daun waru, dan daun pisang πŸƒπŸ‚. Pengalaman saya ketika menggunakan daun-daun ini untuk membungkus racikan calon tempe adalah sebagai berikut: 

  1. Daun andong hijau. Ukurannya besar dan panjang. Cukup mudah dilipat dan digunakan sebagai pembungkus tempe. Karena kurang lebar, kedelai yang dimasukkan tidak bisa banyak-banyak. Bentuknya setelah jadi pembungkus akan panjang tapi langsing. 
  2. Daun andong merah. Daun ini ukurannya kecil, tidak lebar, dan tidak panjang. Sensasi ketika menggunakannya sebagai pembungkus tempe adalah... susah polll! Daun sulit dilipat dan hanya bisa diisi sedikit sekali kedelai. Sangat tidak recommended untuk membungkus tempe.
  3. Daun kecombrang. Daun ini unik karena memiliki 2 warna, warna hijau di satu sisi dan warna merah di sisi sebaliknya. Sensasi ketika saya jadikan pembungkus tempe adalah... susah sekali dilipat. Seperti daun andong merah, daun kecombrang ini sulit dijadikan pembungkus tempe. Sebenarnya ukurannya besar dan panjang. Tapi di workshop ini saya berbagi dengan peserta lain, jadi hanya dapat ukuran yang kecil. Selain ukurannya kecil, daun ini bergelombang di bagian tepinya, yang menjadikan semakin sulit untuk dilipat dan dijadikan pembungkus tempe. Kedelai yang bisa dimasukkan bahkan lebih sedikit daripada yang saya masukkan di daun andong merah tadi.
  4. Daun pisang. Naaah, ini dia daun yang paling oke untuk dijadikan pembungkus tempe πŸ˜ƒ. Ukurannya besar dan rata di bagian tepinya. Bisa diisi banyak kedelai, hehehe. Melipat dan menutupnya pun mudah. No struggle whatsoever lah pokoknya.
  5. Daun waru. Sayangnya di workshop ini saya kehabisan daun waru. Mentornya kebetulan hanya membawa beberapa daun waru dan sudah diambil peserta lain. So saya belum punya pengalaman membungkus tempe menggunakan daun waru deh, hiks. Tapi kalau melihat bentuknya yang bulat besar dengan tepian yang rata, kemungkinan cukup mudah untuk membungkus tempe dengan daun waru.

Berdasarkan pengalaman diatas, urutan daun pembungkus tempe dengan kesulitan tertinggi ke termudah adalah daun kecombrang - daun andong merah - daun andong hijau - daun waru - daun pisang 😏. So daun pisang adalah pembungkus tempe yang paling oke dan direkomendasikan πŸ‘. Thank you Kak Dhanti dan suami yang sudah menjadi mentor workshop tempe hari ini πŸ™. Puas banget dapat pengalaman dan ilmu baru dalam hal pembuatan tempe. Next, sambil menantikan waktu berbuka puasa, kami foto bareng, ngobrol, dan santai-santai dulu 😊.

Foto dulu bareng tempe hasil karya sendiri 😁

Thank you Eventsy! 😊

Foto lagi tanpa apron πŸ˜†

Keseruan hari ini 😎

Pesertanya bejibun! 😁πŸ’₯


Thank you Kak Dhanti udah share ilmu membuat tempe πŸ˜€

Menu bukber di Djajanti Kitchen hari ini πŸ˜‹

Bukber sambil menikmati view taman yang manis πŸƒπŸ‚


Akhirnya waktu berbuka puasa telah tiba. Gak pake lama, minuman kolak, air putih, dan sajian menu Timlo Solo hadir ke meja kami. Djajanti Kitchen ini emang ga pernah gagal soal rasa. Sudah berkali-kali saya ikut workshop disini selalu dapat free meal yang enak-enak dengan porsi yang mantap pula πŸ˜‹. Timlo Solo nya enak, gurih, ndaging banget. Banyak proteinnya, saya suka, hehehe πŸ‘Œ. Kolak nya juga manis dan segar. Pokoknya thank you banget untuk workshop hari ini. Tambah ilmu, tambah kenalan, tambah experience, dan pastinya tambah kebahagiaan dan sukacita πŸ’–.

Foto dulu sebelum bukber πŸ˜ƒ


Foto di taman Djajanti Kitchen, thank you Vera udah fotoin pake night mode πŸ˜„


UPDATE hasil tempe yang saya bungkus dengan daun andong hijau setelah fermentasi selama 1-3 hari: Hari pertama, sudah mulai terlihat hifanya. Hari kedua, tempe mostly sudah tertutup hifa. Hari ketiga, tempe sudah jadi dan siap digoreng 😏.

Penampakan tempe yang dibungkus daun andong hijau: day 1, 2, and 3 πŸ˜‰

Penampakan tempe yang lain di hari ketiga: dibungkus dengan daun pisang - andong hijau - pisang - andong merah - kecombrang

 

Untuk tempe-tempe yang dibungkus dengan daun-daun lain, berikut ini hasilnya. Tempe yang dibungkus dengan daun pisang hasilnya paling oke, tertutup sempurna dengan hifa. Yang dibungkus dengan daun andong merah hasilnya kurang oke, pastinya karena kondisi daun yang kecil dan kurang proper digunakan sebagai pembungkus tempe. Sedangkan yang dibungkus daun kecombrang hasilnya paling parah πŸ˜…, bisa dibilang gak jadi atau bahkan ancur lebur, wkwk. Daun kecombrang amat sangat tidak proper untuk digunakan sebagai pembungkus tempe. Daunnya bergelombang, tidak rata, dan sulit diajak kerjasama sebagai "rumah sementara" bagi tempe πŸ˜‘. Regardless, this has been such a nice experience for me to know different kinds of leaves used for making tempeh πŸ˜ŽπŸƒπŸ‚. Oh ya, tempe yang dikasi gratis sama Kak Dhanti so pasti jadi dengan sempurna ya. Bahkan di hari kedua sudah jadi bagus gitu. Tips nya ternyata adalah ketika proses pembungkusan, kacang kedelai dibentuk seperti "bukit", alias lebih banyak di bagian tengahnya. Tempe yang saya goreng adalah tempe-tempe yang dibungkus dengan daun pisang dan daun andong hijau. Yang dibungkus daun andong merah dan daun kecombrang bisa dibilang gagal, ga bisa digoreng 😐. Rasa tempe yang berhasil digoreng tentu saja enak. Bunga yang ikut tergoreng juga rasanya enak. Walaupun rada aneh ya makan bunga goreng, tapi not bad lah, buat pengalaman, hehehe 😏.

Tempe gratis dari Kak Dhanti ini hasilnya bagus sempurna di hari kedua πŸ‘

Tempe yang berhasil digoreng, rasanya enak dan gurih! πŸ˜‹


Location Map: Djajanti Kitchen & Coffee House

Baca Juga